Thursday, February 28, 2013

Seru Ngentot Dengan 2 Wanita Di Toilet

"Jangan bergerak..." Aku terkejut, tiba-tiba ada suara wanita membentak di dalam ruangan 4 x 3 meter itu dibarengi dengan bantingan pintu.

Oh... ternyata dua orang Polisi Wanita berwajah manis nan penuh wibawa berwatak garang, satu menodongkan pistolnya kearahku dan polwan satu lagi menutup pintu dan menyiapkan sebuah borgol. Karuan saja aku bergetar ketakutan dan tak kusangka celana yang kupakai belum sempat terkancing sudah melorot kebawah lututku.

Apa salahku, pikirku dalam hati... Tapi anehnya, wajah garang kedua Polwan tersebut berubah menjadi senyuman. Pistol kembali disarungkan ketempatnya dan polisi satu lagi memborgol kedua tanganku dan mengikatkannya pada batang pipa diatas kepalaku. Akupun bertambah heran, apa maksud mereka memperlakukan aku seperti ini. Mereka mulai melucuti baju dan celanaku hingga cd kupun ikut menjadi keberingasan ke dua aparat tadi.
Ohhh.. ternyata aku tahu sekarang, mereka menginginkan aku untuk melampiaskan nafsu setan mereka. Aku terdiam dan mulai menikmati permainan kedua wanita berseragam ini.

Ahhhh.... polisi yang bernama Lina kulihat dari seragamnya (maaf aku tidak menyebutkan pangkat kedua Polwan tersebut) mulai menggeranyangi dadaku dengan ciuman-ciuman mautnya dan Ulfa Polwan satu lagi, sibuk meremasi pantat dan punggungku hingga aku menjerit tertahan. Aku terangsang dengan permainan gila mereka. "Ouuhhhhh....", Lina rupanya sudah melancarkan serangannya disekitar selangkanganku, menjilati daerah sensitifku, dan.... "akhhhh....ouffffhhhhh...." kontolku dihisap bak seekor anjing yang baru menemukan tulang diantara sampah...begitu ganasnya polisi satu ini.

Ulfa mulai membuka satu persatu seragam yang dipakainya hingga nampakklah tubuh seksi dan padat berisi membalut tulangnya. Polisi satu ini tidak seganas Lina dalam permainannya. Ia mengambil kunci borgol dan membuka kembali ikatan yang terasa amat menyakitkan itu. Setelah Ulfa membuka borgol tersebut dia menyeret tubuhku kebibir bak mandi, sambil duduk dipinggir bak ia menarik rambutku dengan perlahan kearah "goa" nikmatnya.

"Hmmm...harum juga nih memek polwan" gumamku.

Tidak hanya itu, bulu tertata indah dan tipis membuat gairahku semakin menjadi. Kurejamkan lidahku keliang vagina Ulfa, mengkuasnya, menjilatinya, mengisapi cairan-cairan yang mulai menumpah membasahi vaginanya. Selain itu Lina kembali melancarkan serangannya kearah bagian belakangku sembari mengocok kokontolku dan menjilati duburku. Bisa juga si Lina ini membuatku semakin merasa nikmat.

"Ahhhffff...ouhhh..." desah si Ulfa, kemudian kembali ia menarik tubuhku kearah tubuhnya serta mengarahkan kontolku ke "gawang" kenikmatannya.
"Blessshhhh...." kontolku sudah berada di vagina Ulfa, Ulfa pun meremas pinggangku dan menggonyangkannya. Akupun turut membantu gerakan maju mundur.
Lumayan juga nih enaknya memek polwan.
"Sleeppsss...slupppss...ahhhhh". Ulfa menginstruksikan padaku untuk mempercepat gerakan.

"Ohhhh... ahhhh..yaaa" desahnya.
"Ayo dong dipercepat lagi gerakannya...ohhh... dah mau keluar nih" pintanya.
Erangannya mulai sedikit mereda, mungkin ia sudah mencapai puncak. Tapi aku tidak peduli, aku terus menggedor dinding kemaluan Ulfa yang terasa sudah mulai melicin.

Lina tak mau kalah, setelah menjilati buritku ia bergerak kesamping kanan di bawah pantatku. Ia mulai menjilati kembali, batang kemaluanku.
"Ehmmm...ohhh". Namun itu tak berlangsung lama, dia mulai memanjati tubuhku dan melingkarkan kedua kakinya yang jenjang itu dipinggangku dan menurunkan sedikit tubuhnya untuk menepatkan memeknya dan kontolku. Agak sakit memang, tapi... ouhgg nikmat juga. Lina yang terbawa nafsunya, terus mengenjotkan tubuhnya yang kupegang erat.

"Ahhkk...ahhkkk...ouhhh.." Erangnya sambil melumat bibirku secara ganas.
Goyangan demi goyangan membuatku semakin tidak tertahankan untuk mengeluarkan larva hangatku.

"Akkkkhhhhh.....ougghhhhh..." desah panjangku mulai keluar, seketika itu juga lina turun dari gendonganku dan mengkocok kontolku. Rupanya Lina sudah mengalami ejakulasi duluan dari aku. Kocokan dan hisapan bertubi-tubi tidak bisa membuatku bertahan lagi.

"Eehmmm....ahhhhh..ouuu" Nikmat tiada tara kurasakan.
"Ssst...ahhhhhhhhh" erangan panjang dibarengi keluarnya sperma yang memuncrat dikedua wajah Polisi Wanita ini.
Lina dan Ulfa melahap secara ludes spermaku hingga satupun tidak ada yang berceceran di lantai toilet. Ah...nikmatnya.

Cerita Sex Gadis Perawan Bersambung


Kampus Cerita Sek - Kali ini saya akan coba membagikan Cerita Sex kusus untuk anda yang berumur dewasa | umur17+  berjudul Cerita Sex Gadis Perawan Bersambung | Cerita Dewasa Gadis Perawan Bersambung.langsung saja kita simak Cerita Sex kali ini.
Cerita Sex
Cerita Sex Gadis Perawan Bersambung


Sudah hampir ¾ jam aku dientot Dino, tapi tampaknya Dino belum menunjukkan akan selesai. Kuat juga aku lemes sekali lalu Dino mencopot lagi kontolnya dan mengambil baby oil yang tersedia dekat kakinya. Aku ingat baby oil itudipakai untuk melumuri pantat Anggi ketika mau disodomi .eh apakah aku mau disodomi Dino? “Mau ngapain Din “tanyaku penasaran .”Seperti Anggi dan Agus lakukan, Rima aku ingin menyodomimu sayang “jawabnya. Sebenarnya aku takut, tapi terdorong rasa gairahku yang melonjak-lonjak dan keingin tahuanku rasanya disodomi, maka aku mendiamkannya ketika Dino mulai mengolesi lubang pantatku dengan baby oil.

Tak lama kemudian, kontol Dino yang masih keras itu diarahkan ke pantatku meleset dicoba lagi kepala kontol Dino tampak mulai merayapi lubang pantatku “Aduuuh sakit Din “kataku ketika kontol itu mulai masuk pantatku. “Tenang sayang nanti juga enggak sakit “jawab Dino sambil melesakkan bagian kontolnya kepalanya sudah seluruhnya masuk ke pantatku “Aduuuhh sakiiiitt “kataku lagi.

“Tenang Rim, nanti enak deh..aku jadi ketagihan sekarang “kata Anggi sambil mengelus rambutku dan menenangkanku. “Kamu sudah sering disodomi, Nggi?”tanyaku. “Wah bukan sering lagi hampir tiap hari kadang aku yang minta abis enak sih udah tenang saja ayo Dino coba lagi nanti pacarmu pasti ketagihan ayo..”kata Anggi sambil menyuruh Dino mencoba lagi.

Dino mendesakkan lagi kontolnya sehingga seluruhnya amblas ke pantatku. Terasa perih di pantatku .”Tuuh kan sudah masuk tuh enak kan nanti pantatmu juga terbiasa kok kayak pantatku ini enak kan jadi enggak ada hari libur, kalo lagi mens-pun tetap bisa dientot hi hihi “kata Anggi. Aku diam saja. Ternyata sakit kalo disodomi .Dino mulai mengocok kontolnya di pantatku. “Pelan-pelan, Din masih sakit “pintaku pada Dino.

“Iya sayang enak nih sempit”katanya. Anggi ke belakang pantatku dan mengucek-ucek nonokku dengan tangannya aku semakin menggelinjang nikmat “Anggi ah .enak “kataku. “Ayo Din, kocok terus, biar aku mengucek nonoknya, biar rasa sakit itu bercampur rasa nikmat”kata Anggi pada Dino. Benarsekarang rasa sakit itu tidak muncul lagi hanya nikmat .”Hai sayang ini ada lobang nganggur mau pake? Boleh kan Dino? Lubang yang satu ini dipake pacarku Agus “kata Anggi.

“Tanya Rima saja deh, aku lagi asyik nih”jawab Agus sambil terus mengocok kontolnya di pantatku. “Gimana Rima? Bolehkan? Enak lo di dobelin aku sering kok “pinta Anggi. “Ah..jangan deh “kataku.”Sudahlah Rima, kasih saja aku rela kok”kata Dino. Tiba-tiba Agus merayap di bawahku dan menciumi tetekku. Kontolnya dipegang oleh Anggi dan diarahkan ke nonokku.

Cerita Sex Gadis Perawan Bersambung Dengan sekali hentakan, kontol itu masuk ke nonokku. “Jaang “kataku hendak berteriak jangan tetapi terlambat, kontol itu sudah masuk ke nonokku. Jadilah aku dientot dan disodomi. ½ jam Agus dan Dino mengocok kontolku.

Aku lemes sekali baru sekali dientot sudah diduain tanganku sudah tidak kuat menopang badanku. Kakiku lemes sekali. Kenikmatan itu sendiri tidak adaduanya .aku sebenarnya jadi senang dientot berdua begini tapi mungkin kali ini kurang siap.

Aku keluar 2 kali sebelum Agus mencopot kontolnya dan memasukkan kontolnya ke mulut Anggi. Anggi menghirup peju yang keluar dari kontol Agus dengan nikmat. Kemudian Dino melakukan hal yang sama, tadinya aku ragu untuk menghirupnya, tapi lagi-lagi rasa penarasan pada diriku membuatku ingin rasanya menikmati pejunya Dino. Dino memuntahkan pejunya dimulutku akupun menelannya.

Ah..rasanya asin dan agak amis setelah kontolnya bersih, Dino mencopot kontolnya dan menciumku yang sudah KO di kasur. “Terima kasih sayang aku puas dan sayang sama kamu “katanya lembut. Aku diam saja sambil merasakan kenikmatan yang baru pertama kali aku rasakan. Badanku lemes sekali Kulihat di seprai ada bercak merah..darah keperawananku dan mungkin bercampur dengan sedikit darah dari pantatku yang mungkin juga sobek karena dirasuki kontol Dino.

Aku mencoba duduk, ah masih terasa sakit di kedua lubangku itu, lalu aku menangis di pelukan Dino .”Din, aku sudah enggak perawan lagi sekarang jangan tinggalkan aku yaa .”kataku pada Dino. Kulihat Anggi dan Agus sudah tidur berpelukan dalam keadaan telanjang bulat.

“Iya sayang aku makin cinta sama kamu aku janji enggak akan meninggalkanmu tapi kamu harus janji yaa “katanya. “Bener Din? Kamu enggak ninggalin aku? Tapi janji apa ?”kataku balik bertanya. “Janji, kita akan mengulangi ini lagi aku bener-bener ketagihan sekarang sama nonokmu dan juga pantatmu, sayang “kata Dino sambil mengelus rambutku. Aku diam saja, aku juga ingin lagi..aku juga ketagihan kataku dalam hati. “Janji ya sayang “katanya lagi mendesakku.

Aku hanya mengangguk. “Sudah jangan nangis sekarang kamu mau langsung pulang atau mau istirahat dulu?”tawar Dino. Aku pilih istirahat dulu lalu akupun tertidur berpelukan dengan Dino. Hari ini baru pertama kali aku berkenalan dengan sex. Ternyata enak dan nikmat.

Sekian Cerita Sex Gadis Perawan Bersambung yang saya bisa bagikan untuk anda semua,semoga anda terhibur dalam membaca artikel kami kali ini.dan jangan lupa baca juga Posting kami sebelumnya Cerita Sex Gadis Perawan .ikuti terus update kami selanjutnya yang pasti seru dan bikin penasaran untuk anda semua,terimakasih.

Cerita Sex Gadis Perawan


Kampus Cerita Sek - Kali ini saya akan coba membagikan Cerita Sex kusus untuk anda yang berumur dewasa | umur17+  berjudul Cerita Sex Gadis Perawan | Cerita Dewasa Gadis Perawan.langsung saja kita simak Cerita Sex kali ini.
Cerita Sex
Cerita Sex Gadis Perawan

Sekian lama aku berteman tak disangka dan diduga diapun mengutarakan maksud dan tujuannya mengajak berteman aku dahalulu karena dia ingin mengenal aku lebih jauh, Bila aku tak jawab,mungkin aku dikira sombong, setelah aku berpikir panjang dengan berbagai pertimbangan keputusan akhirnya aku pilih’Aku menerima jadi pacarnya’ singkat dan penuh malu aku kirim Sms’untuk kata ”IYA AKU MAU JADI CEWEKMU’, dia gembira bukan kepalang tentu saja orang lain aja belum tentu bisa meraih hatiku, dengan uletnya dan gigihnya akupun luluh karena aku yakin dia tulus sayang sama aku sikap-sikap yang ditunjukin kepadaku telah jadi buktnya.

Namaku Rima. Kata orang aku cantik, kulitku kuning, hidungku bangir, sepintas aku mirip Indo. Tinggiku 160cm, ukuran Bhku 34, cukup besar untuk seorang gadis seusiaku. Aku punya pacar, Dino namanya. Dia kakak kelasku, kami sering ketemu di sekolah.

Dino seorang siswa yang biasa-biasa saja, dia tidak menonjol di sekolahku. Prestasibelajarnyapun biasa saja. Aku tertarik karena dia baik padaku. Entah kebaikan yang tulus atau memang ada maunya. Dia juga mencoba mendekatiku. Di sekolah, aku tergolong populer. Banyak siswa cowok mencari perhatian padaku.

Tapi entah mengapa aku memilih Dino. Singkatnya, aku pacaran dengan Dino. Banyak teman-teman cewekku menyayangkannya, padahal masih ada si Anto yang bapaknya pejabat, Si Danu yang juara kelas, Si Andi yang jago basket, dan lainnya. Entah mengapa aku tidak menaruh perhatian pada mereka-mereka itu.Aku dan Dino telah berjalan kurang lebih 6 bulan. Pacaran kami sembunyi-sembunyi, ya karena kami masih SMP jadi kami masih takut untuk pacaran secara terang-terangan. Orang tuaku sebenarnya melarangku untuk berpacaran, masih kecil katanya. Tetapi apabila cinta telah melekat, apapun jadi nikmat.

Hari Sabtu sepulang sekolah aku janjian sama Dino. Aku mau nemanin dia ke rumah temannya. Aku bilang ke orang tua bahwa hari Sabtu aku pulang telat karena ada les tambahan. Aku berbohong. Di tasku. telah kusiapkan kaos dan celana panjang dari rumah. Sepulang sekolah, aku ke wc dan mengganti seragamku dengan baju yang kubawa dari rumah. Dinopun begitu.

Dari sekolah kami yang berada di perbatasan Jakarta Timur dan Selatan, kami naik bis kearah Cipinang, Jakarta Timur, rumah teman Dino. Sesampai disana, aku diperkenalkan dengan teman Dino, Agus namanya. Rumahnya sepi, karena orang tua Agus sedang ke luar kota. Agus juga bersama pacarnya, Anggi.

Pembantunya pun pulang kampung, sesekali kakak Agus yang telah menikah, datang ke rumah sekalian menengok Agus dan membawakannya makanan. Kakaknya hari ini sudah datang tadi pagi dan akan datang lagi besok, demikian kataAgus. Jadi hanya kami berempat di rumah itu. Kami ngobrol bersama ngalor ngidul.

Tak lama kemudian, Agus dan Dino pergi ke dapur dan menyiapkan minuman untuk kami. Aku ngobrol dengan Anggi. Dari Anggi, aku tahu bahwa Agus telah berhubungan selama kurang lebih 1 tahun. Keduanya satu sekolah, juga di SMP hanya berlainan dengan sekolahku.

10 menit kemudian, Agus dan Dino kembali dengan membawa 4 gelas sirup dan dua toples makanan kecil. Setelah memberikan minuman dan makanan itu, Agus berdiri dan memutar VCD.Film baru katanya. Aku enggak ngerti, aku pikir film bioskop biasa. Agus menyilakan kami minum. Aku minum sirup yang diberikannya. 10 menit berlalu, kepalaku pusing sekali, bersamaan dengan itu ada rasa aneh menyelimuti tubuhku.

Rasa..hangat merinding di tv tampak adegan seorang wanita bule yang sedang dientot oleh 2 laki-laki, satu negro dan satu lagi bule juga. Aku berniat untuk pulang, tetapi entah mengapa dorongan hatiku untuk tetap menyaksikan film itu. Mungkin karena aku baru pertama kali ini nonton blue film. Badanku makin enggak karuan rasanya kepalaku serasa berat dan ah rangsangan di badanku semakin menggila.

Aku lihat Agus dan Anggi sudah saling melepaskan baju mereka telanjang bulat di hadapan aku dan Dino.Mereka saling berpelukan, berpagutan tampak Agus menciumi tetek Anggi yang mungil Agus lalu mengisep-isep pentilnya tampaknya keduanya sudah sering melakukannya . Mereka tampak tidak canggung lagi Anggi mengisep-isep peler Agus persis seperti kejadian di film blue itu . Anggi juga sepertinya telah terbiasa Kontol Agus bak permen, diisep, dikulum oleh Anggi Dino merapatkan tubuhnya kepadaku.

“Rim .kamu sayang aku enggak?”tanyanya padaku. “Eh..emang kenapa, Din ?”kataku kaget karena aku masih asyik menyaksikan Agus dan Anggi “Aku pengen kayak gitu .”kata Agus sambil menunjuk pada Agus dan Anggi yang semakin hot. Tampak Agus mulai menindih Anggi, dan memasukkan batang kontolnya ke nonok Anggi. Dengan diikuti teriakan kecil Anggi, batang kontol itu masuk seluruhnya ke nonok Anggi. Gairahku melonjak-lonjak entah kenapa?Seluruh badanku merinding .”Rima?”kata Dino lagi. “Eh enggak ah enggak mau malu .”kataku. “Malu sama siapa?”kata Dino.

Cerita Sex Gadis Perawan Tangannya mulai merayapi dadaku. Kutepis pelan tangannya. “Malu sama Agus dan Anggi tuh “kataku. “Ah mereka aja cuek ayo dong Rima aku sudah enggak tahan nih “kata Dino. “Ah..jangan ah “kataku. Gairahku makin tidak keruan mendengar erangan dan rintihan Agus dan Anggi. Tak terasa tangan Dino mulai membuka kancing bajuku. Entah kenapa aku membiarkannya sehingga bajuku terbuka. Aku hanya mengenakan BH dan celanapanjang jeans.

Adegan di TV makin hot tampak sekarang seorang wanita asia di entot tiga orang bule dua orang memasukkan kontolnya ke memek dan pantatnya sedangkan yang satunya kontolnya lagi diisep oleh si wanita. Keempatnya terlihat sedang merasakan kenikmatan Tangan Dino mulai merayapi dan meremas-remas buah dadaku yang masih kencang dan belum pernah disentuh oleh siapapun. Aku menggelinjang, geli nikmat ah..baru pertama kali aku merasakan ini. ”Buka Bhnya, ya sayang “pinta Dino. Aku mengangguk, aku jadi inginmerasakan lebih nikmat lagi Dengan cekatan Dino membuka Bhku.. aku sekarang benar-benar telanjang dada.

Dino mengisepi pentilku memencet-memencet buah dadaku yang masih kenyal dan bagus “Tetekmu enak bener, sayang belum pernah ada yang pegang yaa”kata Dino sambil terus meremas tetekku dan mengisepi pentilku “Belum Din ahhh enak Din terus terus..jangan berhenti .”kataku. Kenikmatan itu baru kali ini aku rasakan. Kulirik Agus dan Anggi, mereka sekarang bermain doggy style.

Anggi berposisi nungging dan Agus menusuknya dari belakang terdengar erangan dan eluhan mereka Gairahku makin menggila “Buka celanamu ya sayang aku udah pengen nih “pinta Dino. “Jangan Din takut .”kataku. “Takut apa sayang?”kata Dino. “Takut hamil “kataku. “Enggak Din, aku nanti keluarnya di luar memekmu sayang kalo hamilpun aku akan tanggung jawab, percayalah “katanya.

Aku diam saja Dino mulai membuka ristleting celanaku, aku diamkan saja .tak lama kemudian, dia memerosotkan celanaku tampak memekku yang menggumpal dengan jembut yang lumayan tebal. Dino pun memerosotkan celana dalamku Aku benar-benar polos bugil. Dinopun membukaseluruh bajunya, kami berdua telanjang bulat.

Tangan Dino tetap meremas-remas tetekku Kulirik Agus dan Anggi, eh mereka bersodomi Anggi sudah biasa bersodomi rupanya kulihat kontol Agus maju mundur di pantat Anggi sedangkan tangan kiri Anggi mengucek-ucek memeknya sendiri yang sudah basah Erangan mereka terdengar makin sering .Dino terus mengerjaiku, tangannya mulai merayapi jembutku. Salah satu jarinya dimasukkan ke nonokku”Ah..sakit, pelan-pelan, Din..”teriakku ketika jari itu memasuki nonokku.

Dino agak sedikit mengeluarkan jari itu dan bermain di bibir kemaluanku tak lama kemudian nonokku basah . “Din, isep dong punyaku “pinta Dino sambil menyodorkan kontolnya ke mukaku. “Ah..enggak ah “kataku menolak. “Jijik ya? Punyaku bersih kok ayo dong Anggi saja berani tuh “pinta Dino memelas.

Dengan ragu aku pegang kontol Dino. Baru sekali ini aku memegang punya laki-laki. Ternyata liat dan keras. Kontol Dino sudah berdiri tegang rupanya. “Ayo dong Rima sayang “pinta Dino lagi. Dengan ragu kumasukkan kontol itu ke mulutku, aku diamkan kontol itu sambil kurasa-rasa. Ih, kenyal “Hisap dong sayang seperti kamu makan permen “Dino mengajariku. Pelan-pelankuisap-isap, kujilati bolong kontol itu dengan lidahku lama kelamaan aku merasa senang mengisapnya kuisep keras-keras..kusedot-sedot, kujilati .kumaju mundurkan kontol itu di dalam mulutku terdengar berulang kali erangan Dino. “Ah ah. uuuhhh enak sayang teruskan ..” erang Dino. Tangan Dino terus mengucek-ucek nonokku.

Sudah tidak sakit lagi sekarang, mungkin sudah basah Aku jadi senang mengisap kontol Dino terus kulomoh kuisap..kujilati kusedot-sedot ih..enak juga, pikirku Tiba-tiba Dino menarik kontolnya dan mengarahkannya ke nonokku Aku pasrah, dimasukkannya kontolnya ternyata meleset, Dino melumuri tangannya dengan ludahnya kemudian tangannya itu diusapkan ke kontolnya dan mencoba lagi memasukkan kontolnya ke liang nonokku, ketika kepalanya masuk ke nonokku, aku berteriak”Aduuh sakit Din pelan-pelan dong ” Gairah semakin meninggi .aku ingin merasakan kenikmatan lebih.

Dino melesakkan kontolnya ke nonokku pelan kurasakan sesak nonokku ketika kepala kontol itu masuk ke dalamnya Dino lagi menghentakkan kontolnya sehingga amblas semuanya ke dalam nonokku .”Ahhh perih Din “kataku. Dino diam sebentar memberikan waktu kepadaku untuk menenangkan diri. “Tenang Din, sebentar lagi kamu akan terbiasa kok “katanya. Pelan-pelan Dino mengocokkontolnya di nonokku bersambung .....

Bersambung >> Cerita Sex Gadis Perawan Bersambung

Sekian Cerita Sex Gadis Perawan yang saya bisa bagikan untuk anda semua,semoga anda terhibur dalam membaca artikel kami kali ini.dan jangan lupa baca juga Posting kami sebelumnya Cerita Sex Di Malam Valentine .ikuti terus update kami selanjutnya yang pasti seru dan bikin penasaran untuk anda semua,terimakasih.

Cerita Sex Di Malam Valentine


Kampus Cerita Sek - Kali ini saya akan coba membagikan Cerita Sex kusus untuk anda yang berumur dewasa | umur17+  berjudul Cerita Sex Di Malam Valentine | Cerita Dewasa Di Malam Valentine.langsung saja kita simak Cerita Sex kali ini.
Cerita Sex
Cerita Sex Di Malam Valentine


Kisah ini adalah cerita seks asli yang berdasarkan pengalaman seorang siswi smp, jadi buat cewek-cewek yang mau merayakan hari valentine pikir2 dulu yah. berikut kisahnya

Bunga-bunga bertaburan indah didepan mata Rein, aromanya nyaman di hidung membangkitkan semangat untuk segera meraupnya. Tak tersisa. Dia pun jingkrak-jingkrak. Ya, ini kali pertama Rein diijinkan Ayahnya untuk keluar dengan Dev, pacarnya. Setelah pertaruhan argumen dan sedikit ancaman dari Rein akan mengurung diri di kamar jika tak diijinkan keluar. Maklumlah Rein adalah anak perempuan satu satunya. Dan bukan pertama kalinya keinginannya harus dipenuhi. Meski menyimapan kekhawatiran Ayah dan Ibunya terpaksa mengijinkannya. Kata terakhir yang keluar sebelum mereka pergi adalah “ Dev, saling Menjaga ya?”. Bukan tak mempercayai Dev, tapi mereka sama-sama masih SLTP, masih terlalu kecil untuk diamanahi apapun.

Seperti burung lepas kandang, mereka terbang jauh mengelilingi batas-batas daerah, mereka tak sadar musuh tentunya siap-siap dengan taringnya. Sampailah mereka jauh dari Desa, dari pantauan kakak Rein, orangtua dan masyarakat yang akan membela mereka. Taman Rimba. Ya letaknya didalam Kota. Meski dalam Kota, taman ini adalah hutan buatan tempat binatang yang dilindungi. Biasanya jika disiang hari tempat ini dijadikan liburan keluarga. Hiburan murah meriah sambil mengenal satwa bagi anak anak mereka. Dev memilih tempat ini karena pada malam itu akan banyak pasangan ABG yang merayakan Hari Valentine dan mencatatkan moment paling berharga dalam sejarah percintaan mereka.

***
“Dev, kita pulang yuk!” Rein mulai jengah dengan suasana taman, makin malam makin banyak muda mudi yang datang. Sebagian dari mereka bertahan tetap di arena menikmati acara yang disediakan panitia. Ada juga yang menghabiskan waktu dengan keliling taman, duduk-duduk, tak sekali Rein jumpai pasangan sedang berpelukan, lip kissing seperti yang dilihatnya di film-film percintaan Korea bahkan lebih… Saat itu sulit dibedakan mana penghuni taman rimba dan mana yang pengunjungnya.

“Bentar lagi Rien, sayangkan jauh-jauh kita cepat pulang. Acaranya baru juga dimulai. Siapa tau nanti kita dapat doorprize atau kita dinobatkan jadi pasangan paling mesra. Apa kamu gak ingin kita selalu mengingat moment ini. Ketika semua orang memandang iri”. Manjur, perkataan Dev meluluhkan hati Rein untuk tetap bertahan. Dev adalah cinta pertamanya. Dia sangat menyayangi lelaki itu dan tak ingin buat dia kecewa.

Jam menunjukan pukul 21.40 WIB ketika Rein melihat jam pada handphonenya. Ada banyak panggilan tak terjawab disana. Ia lupa untuk mengubah nada silent dari sepulang sekolah tadi. “ Rein, kamu dimana? Lekas pulang! “, itu sms yang dikirim kakaknya. Hendra. Ren semakin gusar.

“Dev, pokoknya kita pulang sekarang! Ayah cemas. Ini sudah terlalu malam.” Dev hanya pandangi wajah kekasihya itu sekilas dengan gurat kecewa. Karena ia masih ingin menikmati acara demi acara. Dev berlalu menuju tempat parkiran. Rein mengambil helm dari tangan Dev masih tetap dengan isyarat sunyi.

Suasana mencekam, gelap dan sunyi, suara sound speaker terdengar sangat jauh. Tiba-tiba motor yang dikendarai Dev mogok. Bagi orang yang waras tentu lebih memilih tidur berselimut dirumah dari pada keluyuran. Kalau tidak karena permintaan Dev tentu Rien lebih memilih dirumah saja. Rien masih mengingat permohonan Dev.

“ Rien, sekali ini saja, malam Valentine. Malam kasih sayang. Malam seluruh dunia berbahagia. Merayakan!. Besok jam sekolah kosong juga hanya diisi eskul kan?”. “Menyesalkah ? entahlah dilain sisi Rein juga menikmati setiap detik, menit dan seluruh waktu bersama Dev. Setiap getaran yang mengalir mengingatkan pada Rien, mungkin cinta memerlukan pengorbanan. Pengorbanan ?

Pada akhirnya Rien benar benar dituntut untuk berkorban. Pengorbanan yang tak pernah diharapkan. Dibayangkan, oleh Dev, dirinya atau siapapun juga. Pengorbanan yang sia sia. Konyol. Sewaktu motor Dev mogok, dua orang pria tinggi besar berpawakan polisi menghampiri.

“kalian disini ngapain?” Tanya seorang lelaki yang berambut ikal kepak

“ motor kami mogok, Bang! “

“Alasan! Kalian mau mesum ya ?”

“ bener! gak bang! Jawab Dev, yang mulai menciut mentalnya. Pasalnya dua lelaki itu membentak.

“ikut kami! Ajak lelaki itu setelah bertanya alamat dan kartu pelajar. Lelaki perpawakan polisi itu mengintrogasi Dev dan Rein secara terpisah.

“ kamu pasti sudah mesum ? kamu sudah tak perawan kan ? Tanya lelaki itu ke Rein

“ Rein hanya terisak pasalnya dia takut suara tinggi, bentakan. Orang tuanya tak pernah membentaknya. Ditambah lagi suasana hutan yang gelap, hanya cahaya handphone dari lelaki asing itu. “Dev, dimana kau ?“ pikirnya.

“Dev!!!” hanya kata itu yang sanggup keluar. Sekarang Rien benar-benar takut bukan saja karena bentakan tapi laki-laki itu menyusupkan tangannya dikemeja Rien

“ Alahhh!, kamu juga sudah tidak perawankan?, jangan berisik ! Sal yang dipake Rien berpindah membungkam mulutnya. Tenaga lelaki itu terlalu kuat. Rien tak dapat berbuat apa apa dan tak mengetahui apa apa? Hal buruk telah menimpanya.

Cerita Sex Di Malam Valentine Ditempat yang berbeda Dev dimintai uang dan handphonenya. Jika tidak diberikan maka akan diancam dimasukan ke kantor polisi. Nyali Dev yang masih SLTP tak bertahan, dan tidak bisa berpikir panjang. Apalagi ia berasal dari Desa. Mentalnya bertekuk lutut diserahkan uang tiga puluh ribuan itu beserta handphonenya.

***
“ arrrgh! Kenapa kamu tak bilang dari tadi Rein? Geraham Dev saling bertemu. Geram. Setelah mendengar pengakuan Rein. Dia putar motornya kearah tempat dimana motornya tadi mogok. Dia putari seluruh taman. Sia sia. Tidak ia temui dua lelaki tersebut. Putus harapan ia beranikan diri untuk menghampiri pos satpam penjagaan dan menanyakan tentang dua lelaki tersebut. Tapi penjaga mengaku tidak mengenali sama sekali dengan ciri ciri yang disebutkan. “ kalau polisi yang patroli disini biasanya pake seragam Dek” jelas penjaga tersebut. Setitik jalan keluar tak mereka temui sedikitpun, semua tertutup. Gelap dan semakin gelap seperti hari yang hampir mendekati tengah malam. Dev dan Rien merayakan hari Valentine penuh dengan tangis. Tangis yang tak akan pernah kering sampai kapanpun.

***
Rien pagi pagi sekali datang ke sekolah. Ia sangat bingung harus bagaimana. Ingin segera ia bertemu dengan Dev. Matanya tak terpejam barang semenitpun. Bukan karena berkumpulnya rindu seperti hari biasa tapi karena kecemasan dan rasa shok bersekongkol disana. Tak disangkanya Dev sudah berada di kelas. Senyumanya berubah menjadi masam. Dia lihat Dev bersama Sri. Dilihatnya coklat ditangan Sri. “Dev, beri aku penjelasan?” ditariknya Dev kebelakang kelas.

“Rien, maaf aku masih jejaka. Gila!, kalau aku memperoleh yang tidak perawan”. Jawab Dev sambil menunduk. Sri sudah lama mencintaiku. Tidak salahnya aku mengobati kekecewaan ini dengannya. Aku kecewa Rien. Aku shok”. Sekarang Rien yang benar benar merasa gila. Tangisnya sudah kering. Badannya kehilangan kekuatan. Disandarkannya lama di tiang bangunan. Sunyi. Sampai tanda bel masuk berbunyi.

“ Maaf Rien, kuharap kamu baik-baik saja. Yuk kita masuk”. Kata Dev sambil berlalu.

***
Hari ini ruang kelas terpisah antara laki-laki dan perempuan. Kegiatan eskul hari ini diisi dengan kegiatan Rohis. Miss. Salsabillah adalah guru Bahasa Inggris yang dipercaya Kepala Sekolah sebagai tutor kegiatan Rohis di kelas dua. Kelasnya Rien. Banyak murid yang menyukainya, suaranya lembut, teduh, tak pernah marah-marah dan yang terpenting adalah dia bisa diterima oleh anak-anak dalam memberikan tausyiah meskipun dia bukanlah lulusan dari pesantren atau sekolah tinggi agama. Kedahsyatan dalam mencari ilmu Agama secara otodidak mengantarkannya menjadi sesosok muslimah yang ideal.

Betapa terkejutnya dia ketika sampai dikelas semua murid mengucapkan “ Happy Valentine Miss! Secara serentak. Wow. Disela kebingungannya murid-murid menyisipkan coklat, bunga atau entah apa isinya yang dibungkus rapi bersama sampul warna pink. Dia tak pernah merayakannya. Saat itu adalah waktu yang tepat untuk mengembalikan Aqidah dan menghapus lata murid yang ikut-ikutan merayakan Valentine.

“hari ini hari Valentine? Tanya Salsabillah kepada muridnya setelah kondisi lumayan tenang.

“ Iya Miss “

“Apa itu Valentine ?”

“Ah, Miss kolot masak hari gini gak ngerti valentine. Capek deh!!!” kata seorang murid.

Murid yang lain menimpali, “ hari kasih sayang Miss,”

“siapa yang bilang?” menarik perhatian muridnya. Suasana sunyi. “ sudah biasa Miss, kami ngerayain kata seorang murid yang agak jangkung “. Salsabillah mengelus dada di perdesaan seperti ini berita atau kabar kekafiran cepat sekali menyebar dan itu diikuti.

“ masih ingat dengan ayat yang mengatakan jangan mengikuti sesuatu tanpa ilmu pengetahuan?”. Kembali sunyi. Kemudian Billah melanjutkan, “kita tidak boleh mengikuti perayaan Valentine karena ini adalah kebiasaan orang orang kafir. Mau kita dimasukan kepada golongan orang orang kafir?”. Murid-muridpun menggeleng tanpa suara. Dari bangku paling ujung seorang murid bertanya, “ kenapa Miss? Kan Valentine bukan untuk orang berpacaran saja tapi juga untuk anak ke orang tua, sesama teman dan dengan guru. Bukankah itu baik? Kenapa dibilang mengikuti orang orang kafir. Kalau untuk yang pacaran bolehlah dibilang begitu.” Salsabillah tersenyum berarti tausyiah tentang haramnya pacaran minggu kemarin masuk kepemikiran anak muridnya. Kemudian Salsabillah mulai bercerita tentang asal usul kenapa Valentine itu haram. Diputarnya memori tentang asal usul ini yang pernah ia baca dari majalah Islam.

“ Valentine itu berasal dari nama seorang Santo yang dibunuh karena ia menentang Raja Claudius II yang melarang para pemuda untuk menikah pada zaman itu. Menurut Raja, pemuda yang menikah tidak bisa berkonsentrasi dalam berperang. Pada waktu itulah St. Valentine membangkang, ia tetap menikahkan pemuda-pemuda tersebut. Tapi lambat laun ia ketahuan. Raja marah lalu membunuhnya. Untuk mengenang dan mengagungkan keberanian sang Santo maka dikenallah pada hari kematiannya sebagai hari kasih sayang yaitu pada tanggal 14 Februari. Selain itu orang Eropa percaya pada tanggal tersebut adalah musim semi atau musim kawin. Makanya banyak orang-orang didunia yang ikut-ikutan ngerayain. Jadi bagi kita muslimah kita harus pahami sejarah ini. Perayaan ini tidak ada dalam Islam. Agar kelak kita tidak menyesal karena termasuk golongan kafir. Kalau kita ikut-ikutan ngerayain, kita tak ada bedanya dengan mereka seperti sabda Nabi Shallallahu ‘alahi wasalam “ barang siapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka (HR. abu Daud ). Jadi jangan asal asal ikutan ya? Jika untuk memperingati hari kasih sayang bisa kok tiap hari tanpa mengkhususkan hari hari tertentu. Jadi masih mau ikutan merayakan Valentine nih? Mau digabunggin sama orang-orang kafir ?“ Tanya Sallabillah. Ia pandangi semua isi kelas. Ia lahap semua mata murid-muridnya. Semua tertunduk. Ada yang paham. Ada yang nyeletuk “ ih, Miss ni gak gaul banget, apa apa gak boleh”. Ia tersenyum dan berdo’a semoga diberikan hidayah dan pemahaman kepada murid muridnya. Dibangku nomor tiga ia tangkap sesosok Rein, tidak seperti biasa. Wajahnya pucat, ketika beradu pandang, matanya penuh dengan ketakutan.

***
Rein masih hanyut dalam pikirannya. Seandainay Rein dengarkan kata-kata Salsabillah untuk tidak berpacaran tentu tak akan seperti ini. Dulu dia tidak percaya kata-kata Salsabillah. Menurut Rein pacaran bukanlah berzina seperti yang dikatakan Salsabillah. Baginya pacaran hanya untuk memotivasi dia belajar. Semua sudah terlambat, Dev yang diharapkan bisa jadi motivasi belajar adalah lelaki brengsek yang tak punya hati sama sekali. Tapi Dev juga tidak bisa disalahkan, siapa yang mau dengan perempuan yang tak perawan? Lalu siapa yang disalahkan! Tuhan ? bukankah Tuhan sudah menegurnya, memanggilnya untuk tidak mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk (Al-Isra :32 ). “menagislahlah nak!, menagislah kalau kamu belum siap cerita sekarang, Ibu tunggu. Menangislah!, jika buatmu tenang!”. Diberikannya punggung Salsabillah. Mereka berdua berpelukan seperti seorang anak dan Ibunya. Rein terus menangis, ia mulai mengerti sebenarnya hidup ini memang penuh tangis entah tangis diciptakan karena kesalahan diri sendiri, entah karena orang lain atau memang waktunya harus menagis.

Sekian Cerita Sex Di Malam Valentine yang saya bisa bagikan untuk anda semua,semoga anda terhibur dalam membaca artikel kami kali ini.dan jangan lupa baca juga Posting kami sebelumnya Cerita Sex Gadis Sma Berjilbab .ikuti terus update kami selanjutnya yang pasti seru dan bikin penasaran untuk anda semua,terimakasih.

Cerita Sex Gadis Sma Berjilbab


Kampus Cerita Sek - Kali ini saya akan coba membagikan Cerita Sex kusus untuk anda yang berumur dewasa | umur17+  berjudul Cerita Sex Gadis Sma Berjilbab | Cerita Dewasa Gadis Sma Berjilbab.langsung saja kita simak Cerita Sex kali ini.
Cerita Sex
Cerita Sex Gadis Sma Berjilbab


Ini ceritaku entah berapa bulan lalu ketika sore aku aku sedang menghabiskan waktu selepas bekerja disebuah mall dijakarta. Penat bekerja seharian dan jalanan yang sangat macet membuatku untuk rilex sebentar kesebuah pusat perbelanjaan sekedar untuk minum kopi. Akupun memesan sebuah kopi dan duduk disebuah sudut restoran. Sambil minum aku menikmati pemandangan mall yang sungguh berbeda dari kantorku. Sangat nyaman rasanya, tapi pandanganku beralih sekitar 2 meja di depanku, duduk dua orang siswi SMU lengkap dengan baju seragamnya. Mereka tertawa-tawa ceria. Setelah kuperhatikan lebih seksama lagi, ternyata mereka sungguh manis, dan astaga ternyata mereka kembar. sekilas aku tak bisa membedakan antara 2 gadis remaja itu. Dua-duanya berwajah cantik, putih, dan mulus. Sungguh wajah yang enak dpandang. Selain itu keduanya juga punya tubuh mungil, dengan dada yang tidak begitu besar namun montok dan menantang yang mereka coba sembunyikan dibalik seragam SMU lengan panjang yang agak longgar dengan jilbab tipis yang tidak terlalu panjang namun cukup menutup buah dada mereka, lengkap dengan rok panjang abu2nya.
Uhhh sungguh gadis2 berjilbab yang mungil dan sangat menggemaskan.entah kenapa aku tak bisa melepaskan pandanganku dari wajah dan payudara kedua gadis berjilbab tersebut tanpa kusangka salah satu gadis itu melihatku., tampaknya dia tau kalau daritadi aku sedang menikmati tubuhnya, lalu dia tersenyum padaku. Ah kesempatan pikirku, lalu kudekati saja meja mereka. “Selamat siang nih adik-adik, lagi pada ngapain nih ??” tanyaku. “Siang juga om..” jawab mereka bersamaan sambil tersenyum. “Lagi iseng-iseng aja om, abis dari sekolah” jawab yang satu. “Om boleh duduk disini ga ?” tanyaku dengan sopan. “boleh donk om, silakan” jawab yang satu lagi. “Om boleh kenalan kan ??” tanyaku. “Hihi…iya boleh donk om…” jawabnya “Aku gina, yang ini saudaraku gita” jawabnya sambil ternsenyum. Setelah kuperhatikan kedua gadis berjilbab ini mengenakan aksesoris yang lumayan mahal dari bros untuk peniti jilbab mereka, sampai cincin, gelang, jam tangan bahkan handpone seri terbaru. Wah keliatannya mereka betul2 anak2 dari kalangan atas.
“Kalian saudara kembar kan ?? berapa nih usianya ??” tanyaku penasaran. “Iya om…kita sekarang 16 tahun sebentar lagi 17 tahun” “Oooh…udah gede-gede ya” kataku sambil melirik payudara gina, uh penisku perlahan lahan mengeras, membayangkan bisa meremas2 empat buah payudara dibalik jilbab gadis gadis ini. “ya iyalah om, kan udah sma” jawab gita yang tak sadar apa sebenarnya yang aku maksud. “kalian nggak pulang, udah sore begini masak gadis2 cantik seperti kalian masi blum pulang” “om bisa aja ah, masi mau minum2 dulu om bentar lagi juga pulang” jawab gina sambil ngobrol kuperhatikan kedua gadis ini, walaupun kembar namun aku mulai bisa membedakan antara gina dengan gita. Gina yang berusia lebih tua beberapa menit dari gita ini memiliki buah dada yang sedikit lebih besar dari adiknya.selebihnya tak ada perbedaan. “ ah seandainya bisa kutelanjangi kedua gadis berjilbab ini, apa mungkin rasa jepitan vagina 2 orang saudara kembar berbeda yah” kataku dalam hati yang sudah penuh nafsu. “Kalian udah punya pacar belum ??” tanyaku.
“gina udah tuh om, nama pacarnya andi, hihi…” “Iiih….apaan sih git, dia tuh cuma temen deket aja juga…” katanya malu kulihat ada yang aneh dengan kedua remaja berjilbab ini. Mengapa sepertinya sangat mudah akrab dengan orang yang belum dikenal seperti aku. Aku mulai berpikir sepertinya dua gadis ini bisa kupakai malam ini. Akupun mulai mengeluarkan jurus mautku. “Kalian udah pernah pacaran kan ?” “Iya udah Om…tapi ya gitu deh namanya juga anak sma.” jawab gita “Umm tapi maaf nih yah, kalian udah pernah begitu belum ??” tanyaku sambil tersenyum nakal. Gina sedikit kaget “begitu gimana om??” “umm begini.. kayak ciuman pelukan, dan main2 itu sama pacar kalian belum” Sejenak mereka kaget dengan pertanyaanku lalu gita balas menjawab “Iiiih…om apaan sih…kok nanyanya begituan” “Ya kan om mau tau ??” Mereka terdiam sejenak kemudian saling berbisik. “Emang bener om mau tau ???” tanya gina menggoda. “ya iya dong dik gina yang cantik” kataku sambil mengedipkan mata sepertinya mereka sadar maksud gerak gerikku, lalu dengan tersenyum nakal gita menjawab.
“om, kalau mau kita bisa jalan2 sama om tapi kaloo…” gita berhenti berbicara lalu mengambil handponnya dan mengetik lalu memberikan handponnya padaku. Astaga pikirku, inilah saatnya. Saat yang dari tadi kunantikan. Gita ternyata meminta sejumlah uang dan persyaratan. Kesempatan ini tak boleh kulewatkan. Akupun tersenyum lebar dan jantungku semakin berdegup kencang. Tiba2 aku tersadar suatu hal “eh maaf yah gina, gita, kalo kalian mau nemenin om kok kenapa kalian memakai jilbab” “oh ini, ini kan ketentuan wajib disekolah harus pakai jilbab om” jawab gina oh aku baru menyadari segala sesuatunya, kenapa menjelang malam hari kerja kedua gadis berjibab ini masi dipusat perbelanjaaan, kenapa mereka memakai barang2 mahal, kenapa mereka mudah sekali untuk diajak ngobrol sampai ke hal2 yang nakal. “ok kalo gitu yuk kita pergi, om ke atm dulu ngambil uang saku untuk gadis2nya om” kataku sambil mengedipkan mata yang dijawab dengan sedikit tawa dan tatapan nakal. Sekitar jam 6 sore, aku bersama kedua gadis berjilbab ini keluar dari mall dan menuju sebuah atm dibasement mall tersebut. Ternyata basement tersebut agak sepi, hanya berisi mobil2 dan beberapa supir, tukang parkir dan satpam yang sempat memandangku iri, karena aku yang asyik bercanda dengan kedua gadis berjiblab ini.
Atm tersebut ternyata cukup tertutup, dengan ruangan yang cukup besar. Akupun mulai mengakses mesin tersebut sambil berbincang2 dengan kedua gadis berjilbab ini. Sambil memencet tombol2 aku lirik keadaan diluar, tampaknya posisiku cukup tertutup dan tak ada orang yang melihat, ah aku yang sudah tak tahan dari tadi mulai melancarkan aksiku. Kedua gadis berjilbab ini berdiri dikanan kiriku, sambil menunggu mesin atm bekerja, aku tarik kedua tanganku kebelakang lalu meremas2 kedua buah pantat gina dan gita yang kenyal itu. “ iihh om nakal, masi dibasement juga” jawab gita dan sebuah cubitan kecil dipinggangku oleh gina. “Iya deh iya deh om nggak nakal” jawabku sambil menarik tanganku dari pantat kedua gadis ini, lalu kurangkul pinggang kedua gadis berjilbab ini dan menarik mereka kearah tubuhku, uhhhh payudara payudara dibalik jilbab kedua gadis berjilbab ini sungguh sama kenyal dan nikmatnya. “ihhh si om ini nakal banget sih” kata mereka dengan senyum manja. Lalu tanganku mulai meraba naik kepunggungnya lalu bergeser masuk keketiak mereka menyelusup kebelakang jilbab mengikuti alur bh mereka dan menggenggam payudara payudara gadis gadis ini yang tidak bersentuhan dengan dadaku.” iiiiihh si ooomm daritadi bandel banget sihhh” kata gina sambil kedua gadis ini mencoba melepaskan diri dari genggaman tanganku pada buah dada mereka.
“duh gina gita, jangan begitu dong, ini uangnya” kataku ketika tiba2 mesin atm tersebut mengeluarkan uang beberapa juta rupiah” akupun mengambil uang tersebut lalu memperlihatkan uang tersebut kepada mereka, tampaknya kali ini mereka luluh dan mata mereka tampak berbinar2 melihat uang yang cukup banyak tersebut dan mulai tersenyum genit. Akupun dengan nakalnya menyampirkan jilbab gina dan gita kepundaknya lalu membuka 3 buah kancing paling, dan kulihat yang daritadi membuat penisku sangat keras, empat buah payudara gadis smu yang sangat menggemaskan terbungkus bra yang sangat sexy dengan jilbab yang menutupi kepala mereka, akupun menyelipkan beberapa lembar ratusan ribu rupiah kedalam bra mereka sambil merasakan kenyalnya payudara mereka lalu aku lanjutkan dengan meremas2 payudara montok kedua gadis ini. “uhhhh, dada gina lebih besar sedikit tapi sama nikmatnya dan sama cantiknya dengan gita, om udah bener bener nggak kuat nih, ini uangnya dp dulu yah nanti kalo udah selese nemenin om semua uang ini boleh kalian miliki” kataku dengan penuh nafsu.

Cerita Sex Gadis Sma Berjilbab Gita dan ginapun hanya tersenyum genit sambil keenakan menikmati remasan demi remasan dan plintiran pada payudara dan putting mereka. Tanpa disadari ada orang mengetuk pintu atm. Kami bertigapun kaget bukan kepalang, aku baru menyadari ada orang antri menunggu dari tadi. Akupun segera menarik kedua tanganku dari payudara mereka, gita dan ginapun kaget luar biasa dan langsung mengancingkan kembali baju mereka dan menjulurkan jilbab mereka untuk menutupi buah dada montoknya. “ih om si, untung nggak dibuka pintunya kan malu om” kata gita “iya deh maaf, tapi om udah nggak kuat nih, kita cari tempat yuk nanti disambung lagi deh ditempat om” kataku “ih si om, kita cantik sih jadi om nggak kuat deh” kata gina dan disambut tawa mereka cekikian. “yaudah, yuk, eh ayo gandeng tangan om dong” bisikku manja kekeduanya kamipun keluar dari kotak atm yang sudah ditunggu 3 orang yang mengantri dari tadi.mereka tampak kesal namun agak kaget ketika melihat seorang lelaki digandeng dua orang gadis smu kembar yang masih segar dan berjilbab.
Ah biarin ajah, emang gua pikirin, akupun menarik kedua daun muda yang sungguh menggemaskan ini kesudut lapangan parkir tempat mobilku berada yang jauh dari tempat tunggu supir dan satpam. Sambil berjalan kedua lengan atasku merasakan lembutnya bagian luar buah dada gina dan gita yang terus bersenggolan dengan tanganku yang mereka rangkul. Aduh sungguh nikmat rasanya, batang penisku semakin tak kuat ingin segera menikmati kedua gadis kembar ini. Gedung parkir di mall ini hanya setengah mobil kebawah yang tertutupi tembok, selebihnya hanya ditutupi oleh kawat2 besi sehingga walaupun gelap namun samar2 bisa terlihat dari luar gedung parkir. Ide gilapun muncul dikepalaku aku akan menikmati kedua gadis berjilbab ini ditempat terbuka sebelum nanti kutelanjangi, kumandikan dan kusabuni setiap inci tubuh mereka dirumahku nanti. Setelah sampai disudut tempat mobilku diparkir akupun mendorong perlahan kedua gadis berjilbab ini hingga bersandar ditembok dengan kedua tanganku menekan sebuah payudara gina dan gita. “gina, gita, kita main disini dulu yuk, kan gelap nggak ada orang, om udah nggak tahan nih, nanti uang jajannya om tambah deh, tapi nanti malem main kerumah om dulu kita main2 lagi, besok pagi baru om anter kesekolah, gimana?”
gita dan gina hanya berpandangan lalu salah satunya mengangguk, “boleh om tapi ati2 yah kalo ada orang, kan malu om diliatin orang” akupun tersenyum dan tanpa basa basi langsung kusampirkan jilbab gina dan gita, langsung kubuka kancing2 bajunya dan kubuka seragam sekolah mereka, dan langsung kulepas bra mereka, kulemparkan bra mereka kejok belakang mobilku lalu kupakaikan kembali baju seragam mereka tanpa kukancingi lagi, sungguh indah tubuh saudara kembar ini. Dengan jilbab putih yang masih mereka kenakan dan payudara yang putih dan empat buah putting berwarna coklat yang kecil sungguh indah sekali, akupun tak mampu menahan nafsuku, segera kumainkan empat buah payudara gadis kembar ini bergantian, dari remasan, plintiran pada puting2 payudara mereka hingga hisapan hisapan dan gigitan2 kecil membuat mereka menggelinjang mendesah menikmati permainanku. Lalu kuhentikan permainanku, kuperintahkan kedua gadis ini untuk mengangkat kedua roknya perlahan. Pelan2 kulihat kaki mungil mereka yang dibungkus sepatu dan kaus kaki menutup betis mereka, lutut, dan aww, paha paha yang putih dan mulus lalu kemaluan yang masih tertutup celana dalam putih yang tipis. Aku sungguh tak kuat, langsung kutarik turun celana dalam mereka dan kupandangi vagina gina dan gita yang kecil karena umur mereka yang masih 16 tahun. Kuambil celana dalam mereka dan kulemparkan ke jok belakang mobil. Lalu kututup pintu mobilku.
“ lho om kok kita nggak dimobil om ajah, kan takut ada yang ngeliat om” kata gita khawatir dengan keadaanya yang berjilbab namun baju seragam yang terbuka yang memperlihatkan dua buah payudaranya yang menggantung sambil mengangkat rok sampai pinggang yang memperlihatkan vaginanya. “Nggak papa gina, nanti kamu tau, jauh lebih nikmat rasanya kalo ditempat begini lho” kataku sambil menarik kedua gadis itu dan kusuruh duduk dikap depan mobilku yang posisinya didinding lapangan parkir, yang hanya tertutup jeruji2 besi dan tampak dari luar samar2. “iii om malu” jawab gita sambil duduk dan menutup rok dan bajunya sambil melipat tangan didadanya. Tampak didepanku dua orang gadis kembar berjilbab yang siap kunikmati beberapa saat lagi, disebuah gedung parkir, dan gilanya lagi walaupun agak gelap tapi pasti secara samar2 terlihat dari jalan raya diluar gedung. Tanpa memperdulikan ucapan gita akupun menarik kepala kedua gadis berjilbab ini dan mencium bibir merkea bersamaan, ah nikmat rasanya saat mencium mereka bersamaan.
Tampaknya mereka menyukainya, lalu tanpa basa basi kuangkat rok sekolah gina dan kujilat2 vaginanya, juga tangan kananku masuk kedalam rok diantara kaki gita dan mengelitik vagina dan klitorisnya sambil aku memuaskan kakaknya. Kedua gadis berjilbab ini hanya bisa menggelinjang dan mendesah pelan, perlahan nafsu mulai merasuki keduanya yang tampaknya sudah tak malu lagi dan mulai meremas remas payudara mereka sendiri. Kurasakan cairan mulai membasahi vagina kedua saudara kembar ini. Akupun semakin tak tahan, langsung kubuka celanaku dan mengeluarkan penisku dan kumasukkan kedalam vagina gina sambil terus mengaduk2 vagina gita dengan 3 buah jariku. Ahh penisku serasa dipijit2 didalam vaginanya. Walaupun sempit tapi ketika mulai kusodok pelan2 serasa tak ada yang menghalangi, ternyata gina sudah tidak perawan lagi, begitujuga dengan gita yang sedari tadi pasrah penuh kenikmatan dengan tiga buah jariku divaginanya. Akupun dengan cepat memajumundurkan penisku didalam vagina gina bergantian dengan gita. Wajah mereka yang terbungkus jilbab sungguh tampak menggemaskan membuatku semakin bernafsu meremas2 payudara2 mereka.
Aku memerintahkan kedua saudara ini untuk menunduk dan bertumpu pada terali2 besi gedung parkir. Kuangkat rok panjang mereka dan kulipat dan kuselipkan dipinggang mereka, sehingga dengan bebasnya aku bisa melihat pantat, vagina dan bagian kaki gadis gadis ini.Mungkin karnea kedua gadis kembar ini belum orgasme mereka tampak mau melakukan apa saja asalkan terus kuaduk2 vagina mereka. Mereka tak malu walaupun samar2 terlihat dari jalan raya didepan gedung parkir ini. Akupun semakin bernafsu dengan menyodokkan penisku kedalam vagina gita dan gina bergantian dari belakang sambil kutarik jilbab mereka yang membuat mereka mendongak keatas sambil menikmati hentakan demi hentakan penisku dilubang vagina mereka secara bergantian. Tak lama kemudian gina merintih2 “om oomm remes payudaraku yang keras, terus masukin penisnya cepetan sedikit aku udah nggak tahan mau keluar” akupun yang memang penuh nafsu segera menuruti permintaan gina, kucengkram kedua payudaranya dari belakang, dan kupercepat hentakan penisku jauh lebih dalam kelubang vaginanya.yang membuat gina semakin menjerit2 kecil menikmatinya.
Tiba2 dari jauh kulihat seseorang haltebus yang mengarah kegedung parkir diseberang jalan tampaknya melihat adegan yang kulakukan, dan gina walaupuan daritadi merem melek menikmati permainanku menyadari ada seseorang yang ikut menikmati tubuhnya dari jauh. “om ada orang tuh dihalte ngeliatin kita, tapi aku udah nggak kuat om dikit lagi mau keluaarr. Ah biarin ajaaaahhh…” jawabnya yang tampak semakin bernafsu karena dilihat orang tersebut. Akupun semakin bernafsu mempertontonkan adegan mesra ini keorang tersebut yang semakin membuatku terpacu.tiba2 “ahhhh ahhhh ahhh” gina merintih dan kurasakan vaginanya mengeluarkan cairan yang sangat banyak dan akhirnya gina terdiam lemas walaupun aku tetap memacu penisku kevaginanya. Akupun menghentikan aksiku. “duh om udah nggak kuat, om lanjutin sama gita aja yah..” katanya dengan tersenyum penuh kepuasan. “Iyah nggak papa sayang,tapi kamu disini aja ya temenin om main dengan adikmu ini” kataku sambil menjulurkan rok gina sehingga menutupi bagian bawah tubuhnya lalu kubalikkan tubuhnya kucium mesra, dan kupandangi adiknya.
“ihh omm kan udah sama kak gina tadi, aku dicuekin, daritadi udah nggak tahan om” katanya dengan cemberut nakal. Ternyata walaupun payudara gita sedikit lebih kecil dari kakaknya, namun hasrat sexnya jauh melebihi kakaknya. “gita juga mau om, ayo cepet tu orang dihalte depan lagi ngeliatin, gita udah nggak tahann ayo omm cepettt” kata gita memelas. Wah ternyata adiknya jauh lebih agresif dan maniak dari kakaknya. Akupun langsung menancapkan penisku kevagina gita dari belakang yang sudah memasang posisi menunduk dengan menumpukan tangannya pada jeruji besi didinding gedung parkir ini.sambil kugenjot vaginanya, kuremas2 payudara kiri gita dari belakang dengan tangan kiriku sementara tangan kananku kugunakan untuk memeluk gina sambil mencium bibirnya dan meraba2 payudaranya.tak disangka gita ternyata begitu exebisionis, dalam genjotanku dia melambaikan tangan dan tersenyum genit kepada lelaki yang menatap aksi kita dari tadi.akupun tak peduli terus saja kupermainkan vaginanya.
Tapi lama kelamaan aku bosan dengan posisi ini, kubalikkan tubuh gita, dan kugendong lalu kududukkan ditepi kap depan mobil jeepku dan kusandarkan gina berdiri disampingnya, akupun melanjutkan aksiku menancapkan penisku kevagina gita sambil mencium dan menjilat jilat putting payudaranya bergantian dengan mencium bibir gina kakaknya, sambil tangan kiriku meremas2 payudara gina.ohhh sungguh berlipat2 rasanya menikmati tubuh dua orang gadis kembar yang masih mengenakan jilbab putih namun 4 buah payudara mereka terbuka bebas dan sedang kujamah, sedangkan vagina gita sedang kunikmati dengan penisku dan vagina gina sesekali kuremas2 dari balik rok yang kuangkat keatas. Tak lama kemudian, gitapun mencapai titik puncaknya,dia menggelinjang dan mendongak keatas sambil memeluk kepalaku diantara dua buah payudaranya dengan erat dan tiba2 tiga kali kurasakan semprotan cairan didalam vagina gita bersamaan dengan semprotan spermaku didalamnya.. “aahahhchhhhh ommmm aku ahhhhh” jeritnya… ginapun hanya tersenyum melihat ulah adiknya yang sedang dalam titik puncaknya.
Setelah beberapa saat kurapihkan pakaian kedua gadis kembar ini, kurapihkan rok mereka, lalu kukancingkan kembali baju mereka, kujulurkan lagi jilbab mereka menutupi payudara dan vagina yang kini tak mengenakan bh dan celana dalam. “Yuk kita belanja, kita nonton juga yuk, nanti kita lanjut lagi dirumah om yah” kataku genit. Gina dan gita hanya tersipu malu. Lalu kedua gadis kembar ini kurangkul dan kuajak kedalam mall sambil dengan nakalnya kuraba payudara mereka yang kali ini dengan mudah kuplintir dari luar pakaian mereka putting yang menonjol dibalik bajunya, namun sengaja ditutupi jilbab mereka agar tak ketahuan, namun buah dada buah dada yang tak disanggah itu tampak lebih menggoda bergoyang goyang dibalik pakaian mereka walaupun sudah ditutupi jilbab, gesekan demi gesekan dan remasan tanganku dipayudara mereka sungguh nikmat, walaupun batang kemaluanku sudah lemas, tapi aku masih ingin menikmati tubuh gadis kembar berjilbab ini. Kamipun masuk kedalam mall dan mulai jaga image, gina dan gita jalan disampingku dengan biasa2 saja agar tak terlalu menarik perhatian.. kamipun menuju bioskop dilantai atas dan membeli tiket film, tapi sebelum masuk ke bioskop, gita mengajak kakaknya ketoilet untuk membersihkan sisa2 cairan vagina dan spermaku yang masih membasahi vaginanya.

Sekian Cerita Sex Gadis Sma Berjilbab yang saya bisa bagikan untuk anda semua,semoga anda terhibur dalam membaca artikel kami kali ini.dan jangan lupa baca juga Posting kami sebelumnya Cerita Sex Malam Pertama Yang Bergambar .ikuti terus update kami selanjutnya yang pasti seru dan bikin penasaran untuk anda semua,terimakasih.

Cerita Sex Malam Pertama Yang Bergambar


Kampus Cerita Sek - Kali ini saya akan coba membagikan Cerita Sex kusus untuk anda yang berumur dewasa | umur17+  berjudul Cerita Sex Malam Pertama Yang Bergambar | Cerita Dewasa Malam Pertama Yang Bergambar.langsung saja kita simak Cerita Sex kali ini.
Cerita Sex
Cerita Sex Malam Pertama Yang Bergambar

"..Saya terima nikahnya..",
Masih terbayang dalam ingatanku perasaan bahagia dan lega saat selesai mengucapkan ijab kabul di muka penghulu tadi pagi. Bahagia karena berhasil menyunting gadis yang kucintai, lega karena telah berhasil melewati cobaan dan rintangan yang sangat berat selama hampir sepuluh tahun hubungan kami.

Wangi melati harum semerbak sampai ke setiap sudut kamar pengantin yang dihias berwarna dominan merah jambu. Dan, di sisiku terbaring gadis yang amat sangat kucintai, berbalut daster tipis yang juga berwarna merah jambu. Matanya yang indah dan bening menatapku penuh rasa cinta, sementara jemarinya yang halus membelai lembut tanganku yang sedang memeluknya. Kulitnya tidak terlalu putih, tetapi halus dan mulus. Dia, yang kukenal saat sama-sama duduk di bangku kuliah, yang menjadi incaran para pemuda di kampus, sekarang telah resmi menjadi istriku.

Malam ini adalah malam pertama kami sah untuk sekamar dan seranjang. Tidak ada lagi rasa takut atau khawatir dipergoki orang, tidak ada lagi rasa terburu-buru, dan juga tidak ada lagi rasa berdosa seperti yang kami rasakan dan alami selama berpacaran. Masa pacaran kami memang tidak terlalu "bersih", saling cium, saling raba bahkan sampai ke tingkat Heavy Petting sering kami lakukan. Tapi, dengan penuh rasa sayang dan tanggungjawab, aku berhasil mempertahankan kesuciannya sampai saat ini. Aku bangga akan hal itu.

Suasana yang romantis ditambah dengan sejuknya hembusan AC sungguh membangkitkan nafsu. Kupeluk dia, kukecup keningnya lalu kuajak dia untuk berdoa pada Yang Maha Kuasa seperti pesan mertua laki-lakiku tadi. Andaikan apa yang kami lakukan malam ini menumbuhkan benih dalam rahim, lindungi dan hindarilah dia dari godaan setan yang terkutuk.
Dari kening, ciumanku turun ke alis matanya yang hitam lebat teratur, ke hidung dan sampai ke bibirnya. Ciuman kami semakin lama semakin bergelora, dua lidah saling berkait diikuti dengan desahan nafas yang semakin memburu. Tanganku yang tadinya memeluk punggungnya, mulai menjalar ke depan, perlahan menuju ke payudaranya yang cukup besar. Sungguh pintar dia ini memilih daster yang berkancing di depan dan hanya 4 buah, mudah bagi tanganku untuk membukanya tanpa harus melihat. Tidak lama kemudian kaitan BH-nya berhasil dilepaskan oleh tanganku yang sudah cukup terlatih ini. Kedua bukit kembar dengan puncaknya yang coklat kemerahan tersembul dengan sangat indah. Daster dan BH itupun segera terlempar ke lantai.

Sementara itu, dia juga telah berhasil membuka kancing piyamaku, melepas singlet dan juga celana panjangku. Hanya tinggal celana dalam masing-masing yang masih memisahkan tubuh telanjang kami berdua.

Kulepaskan ciumanku dari bibirnya, menjalar ke arah telinga, lalu kubisikkan kata-kata cinta padanya. Dia tersenyum dan menatapku sambil berkata bahwa dia juga amat mencintaiku. Kulanjutkan ciumanku ke lehernya, turun ke dadanya, lalu dengan amat perlahan, dengan lidah kudaki bukit indah itu sampai ke puncaknya. Kujilati dan kukulum puting susunya yang sudah mengacung keras. dia mulai mendesah dan meracau tidak jelas. Sempat kulihat matanya terpejam dan bibirnya yang merah indah itu sedikit merekah. Sungguh merangsang. Tanganku mengelus, meremas dan memilin puting di puncak bukit satunya lagi. Aku tidak ingin buru-buru, aku ingin menikmati detik demi detik yang indah ini secara perlahan. Berpindah dari satu sisi ke sisi satunya, diselingi dengan ciuman ke bibirnya lagi, membuatnya mulai berkeringat. Tangannya semakin liar mengacak-acak rambutku, bahkan kadang-kadang menarik dan menjambaknya, yang membuat nafsuku semakin bergelora.

Dengan berbaring menyamping berhadapan, kulepaskan celana dalamnya. Satu-satunya kain yang masih tersisa. Perlakuan yang sama kuterima darinya, membuat kemaluanku yang sudah sedemikian kerasnya mengacung gagah. Kubelai kakinya sejauh tanganku bisa menjangkau, perlahan naik ke paha. Berputar-putar, berpindah dari kiri ke kanan, sambil sekali-sekali seakan tidak sengaja menyentuh gundukan berbulu yang tidak terlalu lebat tapi terawat teratur. Sementara dia rupanya sudah tidak sabar, dibelai dan digenggamnya kemaluanku, digerakkan tangannya maju mundur. Nikmat sekali. Walaupun hal itu sudah sering kurasakan dalam kencan-kencan liar kami selama berpacaran, tetapi kali ini rasanya lain. Pikiran dan konsentrasiku tidak lagi terpecah.

Melalui paha sebelah dalam, perlahan tanganku naik ke atas, menuju ke kemaluannya. Begitu tersentuh, desahan nafasnya semakin keras, dan semakin memburu. Perlahan kubelai rambut kemaluannya, lalu jari tengahku mulai menguak ke tengah. Kubelai dan kuputar-putar tonjolan daging sebesar kacang tanah yang sudah sangat licin dan basah. Tubuh dia mulai menggelinjang, pinggulnya bergerak ke kiri-ke kanan, juga ke atas dan ke bawah. Keringatnya semakin deras keluar dari tubuhnya yang wangi. Ciumannya semakin ganas, dan mulai menggigit lidahku yang masih berada dalam mulutnya. Sementara tangannya semakin ganas bermain di kemaluanku, maju-mundur dengan cepat. Tubuhnya mengejang dan melengkung, kemudian terhempas ke tempat tidur disertai erangan panjang. Orgasme yang pertama telah berhasil kupersembahkan untuknya.

Dipeluknya aku dengan keras sambil berbisik,
"Ohh, nikmat sekali. terima kasih sayang."
Aku tidak ingin istirahat berlama-lama. Segera kutindih tubuhnya, lalu dengan perlahan kuciumi dia dari kening, ke bawah, ke bawah, dan terus ke bawah. Deru nafasnya kembali terdengar disertai rintihan panjang begitu lidahku mulai menguak kewanitaannya. Cairan vagina ditambah dengan air liurku membuat lubang hangat itu semakin basah. Kumainkan klitorisnya dengan lidah, sambil kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang padat berisi. Tangannya kembali mengacak-acak rambutku, dan sesekali kukunya yang tidak terlalu panjang menancap di kepalaku. Ngilu tapi nikmat rasanya. Kepalanya terangkat lalu terbanting kembali ke atas bantal menahan kenikmatan yang amat sangat. Perutnya terlihat naik turun dengan cepat, sementara kedua kakinya memelukku dengan kuat.

Beberapa saat kemudian, ditariknya kepalaku, kemudian diciumnya aku dengan gemas. Kutatap matanya dalam-dalam sambil meminta ijin dalam hati untuk menunaikan tugasku sebagai suami. Tanpa kata, tetapi sampai juga rupanya. Sambil tersenyum sangat manis, dianggukkannya kepalanya.

Perlahan, dengan tangan kuarahkan kemaluanku menuju ke kewanitaannya. Kugosok-gosok sedikit, kemudian dengan amat perlahan, kutekan dan kudorong masuk. dia merintih keras, dan karena mungkin kesakitan, tangannya mendorong bahuku sehingga tubuhku terdorong ke bawah. Kulihat ada air mata meleleh di sudut matanya. Aku tidak tega, aku kasihan! Kupeluk dan kuciumi dia. Hilang sudah nafsuku saat itu juga.

Setelah beristirahat beberapa lama, kucoba memulainya lagi, dan lagi-lagi gagal. Aku sangat mencintainya sehingga aku tidak tega untuk menyakitinya.
Malam itu kami tidur berpelukan dengan tubuh masih telanjang. Dia meminta maaf, dan dengan tulus dan penuh kerelaan dia kumaafkan. Malam itu kami berdiskusi mengenai perkosaan. Kalau hubungan yang didasari oleh kerelaan dan rasa sayang saja susah, agak tidak masuk diakal bila seorang wanita diperkosa oleh seorang pria tanpa membuat wanita itu tidak sadarkan diri. Bukankah si wanita pasti berontak dengan sekuat tenaga?
Cerita Sex Malam Pertama Yang Bergambar
Malam Kedua.
Jam 10 malam kami berdua masuk kamar bergandengan mesra, diikuti oleh beberapa pasang mata dan olok-olok Saudara-Saudara Iparku. Tidak ada rasa jengah atau malu, seperti yang kami alami pada waktu mata Receptionist Hotel mengikuti langkah-langkah saat kami pacaran dulu. Olok-olok dan sindiran-sindiran yang mengarah dari mulut Saudara-Saudara Iparku, kutanggapi dengan senang dan bahagia.
Siang tadi, kami berdua membeli buku mengenai Seks dan Perkawinan, yang di dalamnya terdapat gambar anatomi tubuh pria dan wanita. Sambil berpelukan bersandar di tempat tidur, kami baca buku itu halaman demi halaman, terutama yang berkaitan dengan hubungan Seks. Sampai pada halaman mengenai Anatomi, kami sepakat untuk membuka baju masing-masing. Giliran pertama, dia membandingkan kemaluanku dengan gambar yang ada di buku. Walau belum disentuh, kemaluanku sudah menggembung besar dan keras. dia mengelus dan membolak balik "benda" itu sambil memperhatikannya dengan seksama. Hampir saja dia memasukkan dan mengulumnya karena tidak tahan dan gemas, tapi kutahan dan kularang. Aku belum mendapat giliran.

Kemudian, kuminta dia berbaring telentang di tempat tidur, menarik lututnya sambil sedikit mengangkang. Mulanya dia tidak mau dan malu, tapi setelah kucium mesra, akhirnya menyerah. Aku mengambil posisi telungkup di bawahnya, muka dan mataku persis di atas vaginanya. Terlihat bagian dalamnya yang merah darah, sungguh merangsang. Dengan dua jari, kubuka dan kuperhatikan bagian-bagiannya. Seumur hidupku, baru kali ini aku melihat kemaluan seorang wanita dengan jelas. Walaupun sering melakukan oral, tapi belum pernah melihat apalagi memerhatikannya karena selalu kulakukan dengan mata tertutup. Aku baru tahu bahwa klitoris bentuknya tidak bulat, tetapi agak memanjang. Aku bisa mengidentifikasi mana yang disebut Labia Mayor, Labia Minor, Lubang Kemih, Lubang Senggama, dan yang membuatku merasa sangat beruntung, aku bisa melihat apa yang dinamakan Selaput Dara, benda yang berhasil kujaga utuh selama 10 tahun. Jauh dari bayanganku selama ini. Selaput itu ternyata tidak bening, tetapi berwarna sama dengan lainnya, merah darah. Ditengahnya ada lubang kecil. Sayang aku tidak ingat lagi, seperti apa bentuk lubang tersebut.

Tidak tahan berlama-lama, segera kulempar buku itu ke lantai, dan mulai kuciumi kemaluan dia itu. Kumainkan klitorisnya dengan lidahku yang basah, hangat dan kasar, hingga membuat dia kembali mengejang, merintih dan mendesah. Kedua kakinya menjepit kepalaku dengan erat, seakan tidak rela untuk melepaskannya lagi. Kupilin, kusedot, dan kumain-mainkan benda kecil itu dengan lidah dan mulutku. Berdasarkan teori-teori yang kuperoleh dari Buku, Majalah maupun VCD Porno, salah satu pemicu orgasme wanita adalah klitorisnya. Inilah saatnya aku mempraktekkan apa yang selama ini hanya jadi teori semata.

Dia semakin liar, bahkan sampai terduduk menahan kenikmatan yang amat sangat. Dia lalu menarik pinggulku, sehingga posisi kami menjadi berbaring menyamping berhadapan, tetapi terbalik. Kepalaku berada di depan kemaluannya, sementara dia dengan rakusnya telah melahap dan mengulum kemaluanku yang sudah sangat keras dan besar. Nikmat tiada tara. Tapi, aku kesulitan untuk melakukan oral terhadapnya dalam posisi seperti ini. Jadi kuminta dia telentang di tempat tidur, aku naik ke atas tubuhnya, tetap dalam posisi terbalik. Kami pernah beberapa kali melakukan hal yang sama dulu, tetapi rasa yang ditimbulkan jauh berbeda. Hampir bobol pertahananku menerima jilatan dan elusan lidahnya yang hangat dan kasar itu. Apalagi bila dia memasukkan kemaluanku ke mulutnya seperti akan menelannya, kemudian bergumam. Getaran pita suaranya seakan menggelitik ujung kemaluanku. Bukan main nikmatnya.

Karena hampir tidak tertahankan lagi, aku segera mengubah posisi. Muka kami berhadapan, kembali kutatap matanya yang sangat indah itu. Kubisikkan bahwa aku sangat menyayanginya, dan aku juga bertanya apakah kira-kira dia akan tahan kali ini. Setelah mencium bibirku dengan gemas, dia memintaku untuk melakukannya pelan-pelan.

Kutuntun kemaluanku menuju vaginanya. Berdasarkan gambar dan apa yang telah kuperhatikan tadi, aku tahu di mana kira-kira letak Liang Senggamanya. Kucium dia, sambil kuturunkan pinggulku pelan-pelan. Dia merintih tertahan, tapi kali ini tangannya tidak lagi mendorong bahuku. Kuangkat lagi pinggulku sedikit, sambil bertanya apakah terasa sangat sakit. Dengan isyarat gelengan kepala, kutahu bahwa dia juga sangat menginginkannya. Setelah kuminta dia untuk menahan sakit sedikit, dengan perlahan tapi pasti kutekan pinggulku, kumasukkan kemaluanku itu sedikit demi sedikit. Kepalanya terangkat ke atas menahan sakit. Kuhentikan usahaku, sambil kutatap lagi matanya. Ada titik air mata di sudut matanya, tetapi sambil tersenyum dia menganggukkan kepalanya. Kuangkat sedikit, kemudian dengan sedikit tekanan, kudorong dengan kuat. Dia mengerang keras sambil menggigit kuat bahuku. Kelak, bekas gigitan itu baru hilang setelah beberapa hari. Akhirnya, seluruh batang kemaluanku berhasil masuk ke dalam lubang vagina dia tercinta. Aku bangga dan bahagia telah berhasil melakukan tugasku. Kucium dia dengan mesra, dan kuseka butir air mata yang mengalir dari matanya. Dia membuka matanya, dan aku dapat melihat bahwa dibalik kesakitannya, dia juga sangat bahagia.

Perlahan kutarik kemaluanku keluar, kutekan lagi, kutarik lagi, begitu terus berulang-ulang. Setiap kutekan masuk, dia mendesah, dan kali ini, bukan lagi suara dari rasa sakit. Kurasa, dia sudah mulai dapat menikmatinya. Permukaan lembut dan hangat dalam liang itu seperti membelai dan mengurut kemaluanku. Rasa nikmat tiada tara, yang baru kali ini kurasakan. Aku memang belum pernah bersenggama dalam arti sesungguhnya sebelum ini. Butir-butir keringat mulai membasahi tubuh telanjang kami berdua. Nafsu birahi yang telah lama tertahan terpuaskan lepas saat ini. Kepala dia mulai membanting ke kiri dan ke kanan, diiringi rintihan dan desahan yang membuat nafsuku semakin bergelora. Tangannya memeluk erat tubuhku, sambil sekali-sekali kukunya menancap di punggungku. Desakan demi desakan tidak tertahankan lagi, dan sambil menancapkan batang kemaluanku dalam-dalam, kusemburkan sperma sebanyak-banyaknya ke dalam rahim dia. Aku kalah kali ini.

Kupeluk dan kuciumi wajah dia yang basah oleh keringat, sambil berucap terima kasih. Matanya yang bening indah menatapku bahagia, dan sambil tersenyum dia berkata, "sama-sama." Kutitipkan padanya untuk menjaga baik-baik anak kami, bila benih itu tumbuh nanti. Kami baru sadar bahwa kami lupa berdoa sebelumnya, tapi mudah-mudahan Yang Maha Esa selalu melindungi benih yang akan tumbuh itu.

Seprai merah jambu sekarang bernoda darah. Mungkin karena selaput dara dia cukup tebal, noda darahnya cukup banyak, hingga menembus ke kasur. Akan menjadi kenang-kenangan kami selamanya.

Malam itu kami hampir tidak tidur. Setelah beristirahat beberapa saat, kami melakukannya lagi, lagi dan lagi. Entah berapa kali, tapi yang pasti, pada hubungan yang ke dua setelah tertembusnya selaput dara itu, aku berhasil membawa dia orgasme, bahkan lebih dari satu kali. Aku yang sudah kehilangan banyak sperma, menjadi sangat kuat dan tahan lama, sehingga akhirnya dia menyerah kalah dan tergeletak dalam kenikmatan dan kelelahan yang amat sangat.

Saat ini, kami telah memiliki 3 orang anak yang lucu-lucu. Tapi gairah dan nafsu seperti tidak pernah padam. Dalam usia kami yang mendekati 40 tahun, kami masih sanggup melakukannya 2-3 kali seminggu, bahkan tidak jarang, lebih dari satu kali dalam semalam.Nafsu yang didasari oleh cinta, memang tidak pernah padam. Aku sangat mencintai dia, begitupun yang kurasakan dari dia.

Sekian Cerita Sex Malam Pertama Yang Bergambar yang saya bisa bagikan untuk anda semua,semoga anda terhibur dalam membaca artikel kami kali ini.dan jangan lupa baca juga Posting kami sebelumnya Cerita Sex Tante Girang Yang Bahenol .ikuti terus update kami selanjutnya yang pasti seru dan bikin penasaran untuk anda semua,terimakasih.

Tuesday, February 26, 2013

Orgy Club 3





The Orgy Club 3: Buih Cinta di Tengah Lautan Birahi



“Amel ya...dia sebenernya anak yang baik, orangnya gak bertele-tele, pinter lagi, gua baru tau cerita dia kaya gitu, ke gua aja yang kenal lebih lama belum pernah cerita, tapi ke lu udah, gua rasa dia juga sebenernya ada hati ke lu Ric” kata Indra mangut-mangut mendengar curhatku, “oh iya makasih Mas!” katanya pada si mas pembantu kantin yang baru mengantarkan pesanannya.

Saat itu jam setengah sepuluh pagi, baru bubaran kuliah pagi. Kami makan pagi sambil ngobrol mengenai orgy club dimana aku baru saja menjadi newbie-nya yang berkat rekomendasi dari temanku yang satu ini. Dan baru pada Indra lah aku curhat mengenai perasaanku terhadap Amel yang tiba-tiba saja timbul setelah aku ML dengannya dan ia mulai terbuka padaku. Aku tidak ingin langsung mengatakan ini cinta karena aku ingin lebih berhati-hati mengenai yang satu itu agar tidak sakit hati lagi setelah dikhianati mantanku.

“Ya itulah aneh kan Dra, gua kayanya ada rasa ke dia tapi malah enjoy kalau liatin dia digituin sama orang lain, lagian dia itu kan lebih tua dari gua, gua pengennya yang lebih muda daridulu juga”

“Haiya masa soal itu aja dimasalahin kaya milih milih mobil, gini aja deh bro, mulai sekarang gua ga akan pernah nyentuh si Amel lagi sampe lu mutusin kalau lu emang ga pengen macarin dia”

“Pacarin? Wah gua belum kepikir kesitu sumpah, buru-buru mutusin pacarin malah bikin sakit ati kaya yang dulu-dulu.”

“Udah, nyantai aja mikirnya, jodoh gak jodoh udah ada yang atur, kalau lu mau minta pendapat cewek soal ini ke Kak Angel deh, dia itu cewek yang dewasa bukan cuma umur tapi juga pemikiran, dia paling enak buat teman curhat, percaya deh”

Tiba-tiba BB Indra berbunyi dan ia mengangkatnya lalu berbicara selama beberapa saat, aku cuek meneruskan makanku sampai ia menyelesaikan bicaranya

“Huh sialan, baru inget habis masa aktif!” gerutu Indra ketika mengirim pesan yang gagal.

“Mau pake yang gua dulu?” tawarku

“Ngga...ntar aja....eeehh hhmmm...Ric!” tiba-tiba wajah Indra tersenyum penuh arti sambil memandang lurus ke belakangku

“Apa?” jawabku

“Gua lagi butuh pulsa nih, mau ga kita taruhan kalau gua menang lu isiin mentari 100 buat gua, gimana?” tantangnya.

“Kalau lu ga menang gimana?” tanyaku lagi

“Ntar gua yang beliin pulsa buat lu kalau dah habis”

“Boleh...taruhan apa emang? Bola?” aku menyeruput air mineralku.

“Bukan...lu pasti seneng deh, tuh lu liat di sana, tuh dokter itu!”









Dr. Lea





Aku menengok ke belakang mengikuti pandangan matanya, kulihat Dokter Lea, salah satu dokter klinik kampus dan juga salah satu dosen di fakultas kedokteran, baru saja menyelesaikan makannya dan hendak beranjak.

“Dokter Lea, napa emang? Naksir lu?”

“Gini, kalau gua bisa ngentotin dia, gua menang, deal?” katanya dengan suara dipelankan.

Aku menanggapinya dengan tertawa, aku pikir temanku ini tidak waras atau apa, ini kan namanya cari penyakit, dia kira ini di kost/klub apa? Bisa begituan seenaknya? Apalagi dengan dokter kampus, kena gampar saja masih untung, paling parah bisa-bisa di DO atau malah dituntut pelecehan seksual.

“Hiihihi...Dra...Dra, otak lu korslet ya? Kelamaan di klub ditambah nyandu JAV sama hentai ya!” tawaku

“Sekarang lu ketawa, nanti kita liat hasilnya, gimana? Deal ga?” tantangnya lagi.

Aku jadi penasaran juga nih, pakai cara apa dia kira-kira, Indra ini memang orangnya supel dan dengan lawan jenis gampang akrab, tapi kalau bisa merayu dokter kampus sampai mau diajak ML dalam sehari rasanya ‘mission imposible’. Maka kutepuk sambutan telapak tangannya pertanda menerima tantangannya, kan lumayan tuh dapet pulsa seratus ribu.

“Oke deal ya...yuk sekarang ikut gua, dia pasti balik ke klinik, ayo mumpung hari Jumat lagi ga banyak orang.” ajaknya.

Aku mengikuti Indra ke klinik kampus dekat fakultas kedokteran, suasana hari Jumat tampak lenggang seperti biasanya. Kamipun tiba di depan klinik itu, Indra mengetuk pintunya.

“Masuk!” sahut suara wanita dari dalam sana.

“Ehh....kamu Ndra, ada perlu apa nih?” tanyanya ramah, ia sedang membaca dokumen medis di mejanya.

Sebagai gambaran, Dokter Lea ini adalah seorang wanita 30 tahun dengan rambut pendek sebahu, wajahnya yang imut dan murah senyum membuatnya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Aku sendiri agak tidak percaya ketika belakangan mengetahui usianya. Aku sih hanya sekedar tahu saja tentang dirinya, memang banyak yang bilang ia adalah dokter cantik, tapi tidak sampai kenal karena aku tidak pernah sakit sampai harus ke klinik kampus.

“Pagi Dok...mau medical check up nih!” sapa Indra, “ini teman saya Rico” ia memperkenalkan diriku.

“Rico” aku menjabat tangannya yang halus lalu duduk di depan mejanya bersama Indra, ia tersenyum manis sekali.

“Lagi ga sibuk kan Dok?” tanya Indra

“Gak kok, biasa hari gini emang sepi, yang mau medical check up kalian berdua nih?”

“Iyah Dok, saya aja dulu ya!” kata Indra

“Baik...yuk duduk di ranjang sana” Dokter Lea menutup map-nya dan berjalan ke arah ranjang pasien di pojok.




Indra mengikuti dari belakang, aku jadi makin penasaran apa yang akan dilakukannya, masa dia mau senekad itu memperkosa Dokter Lea? Beberapa langkah dari ranjang pasien, tiba-tiba Indra menarik lengan Dokter Lea dan membalikkan tubuhnya menghadap dirinya lalu didekapnya erat. Mulut Indra langsung nyosor mencium bibirnya.

“Ahhh...Dra! Kamu gila yah!” serunya sambil memalingkan muka melepaskan diri dari mulut Indra yang mulai nakal dan sudah mulai menciumi lehernya.

“Ah, dokter ini. Santai aja, dia member klub terbaru kok” sahut Indra enteng dan dengan sigap ia menyingkap rok span hitam Dokter Lea hingga terpampanglah paha mulus dokter cantik itu.

Segera setelah itu Indra mencumbunya habis-habisan sehingga Dokter Lea terlihat mulai enjoy dan akhirnya dia berkata,”Uhhh...dasar...bilang kek dari tadi, jadi ga usah jaim-jaiman!” suaranya nampak letih namun disertai oleh desahan nafsu yang menggelora terlebih saat tangan Indra mulai mengelusi pahanya yang indah itu.

Indra mengacungkan jari tengah dan telujuk padaku di belakang punggung Dokter Lea, mataku memancarkan kemenangan tanpa melepaskan ciumannya terhadap Dokter Lea. Selanjutnya ia menunjuk ke arah pintu dan memutar telapak tangan, aku yang terpana segera ke arah pintu dan menguncinya. Dengan dada berdebar-debar, aku pun menghampiri mereka. Kupeluk tubuh langsing Dokter Lea dari belakang. Tanganku meraba dadanya yang berukuran sedang, kuremas lembut buah dadanya sehingga ia menggeliat.

“Nah...kenalin Ric, Dokter Lea ini dulunya pernah ngekost di tempat kita, jadi dia ini alumni klub, jadi ga usah sungkan-sungkan sama beliau, ya ga Dok?” kata Indra sambil meremas payudara Dokter Lea yang satunya.

“Aahh...diem kamu Ndra, welcome to the club Ric, saya suka member baru, jadi ingin mengenal kamu lebih dalam” Dokter Lea menengokkan wajahnya menghadap wajahku dekat sekali, suaranya jadi basah dan penuh gairah.

Lengannya merengkuh leherku dan telapak tangannya mendorong kepalaku ke arah wajahnya. Bibir kami pun bertemu dan berpagutan panas. Tanganku mulai menyingkap ke atas kaos dibalik jas dokternya sehingga bra kremnya terekspos.

“Wow, sudah mahir yah kamu. Sudah pengalaman ya?” guraunya setelah melepas ciuman sambil meraba selangkanganku, tangan lentiknya meremas penisku sehingga semakin menegang saja.

“Belum Dok, baru pernah ML sama satu mantan sebelum gabung ke klub?” jawabku mengendus leher jenjangnya, aroma parfum berkelas terasa dari tubuhnya.

“Tapi begitu masuk langsung empat cewek dia sikat semua dalam sehari hehehe...” timpal Indra yang tangannya tengah mengelusi selangkangan Dokter Lea dari luar celana dalamnya.

“O ya....nafsu kamu gede juga ya!” kata Dokter Lea tersenyum nakal padaku, “yuk kita ke sana aja, capek dong berdiri terus gini!” ia mengajak kami ke ranjang pasien saja agar nyaman.




Kini ia pun duduk di pinggir ranjang diapit olehku dan Indra di sebelah kanannya. Aku terus menciumi wajah, bibir dan leher Dokter Lea, sementara Indra sudah melucuti bra-nya hingga terpampanglah kini kedua payudaranya yang bulat sedang dengan puting berwarna coklat itu. Desahan Dokter Lea semakin liar ketika lidahku menggelitiki lehernya yang jenjang dan Indra bergantian melumat dan meremasi payudaranya. Bibirku kembali memagut bibirnya, lidah kami langsung terlibat saling jilat dan belit dengan panas sementara tangan kiriku meremas payudara kanannya. Ia mengerang tertahan di sela percumbuan kami ketika tangan kiriku turun ke bawah dan mengelus-elus paha dan selangkangannya. Tubuhnya semakin menggeliat tak menentu dan nafasnya terasa semakin memburu. Indra naik ke ranjang dan membuka celananya, ia menyandarkan bantal pada tembok agar nyaman berselonjor di ranjang pasien

“Sepong dong Dok!” pintanya memegang penisnya untuk dilayani Dokter Lea, ukuran penis Indra ternyata tidak jauh beda dengan punyaku, standar cowok Asia lah.

Dokter cantik itu membaringkan diri menyamping di antara paha Indra, lalu mencium kepala penis Indra, batangnya dan akhirnya memasuk-keluarkan penis itu ke dalam mulutnya. Tangan kirinya memegang batang penis temanku itu sambil bibir dan lidahnya terus melakukan aksinya. Secara alamiah, kedua tanganku bergerak melucuti rok spannya hingga lepas lalu disusul celana dalamnya. Kini ia telah telanjang bagian bawah, tinggal memakai atasan berupa kaos yang sudah tersingkap dan jas dokternya. Kuamati dengan nanar kewanitaan Dokter Lea, vaginanya ditumbuhi bulu yang tebal tapi teratur. Agaknya ia rajin merawatnya, sebab bulu-bulu itu dicukur rapi, belahannya nampak menggairahkan membuatku tak sabar untuk segera menikmatinya. Kuraba wilayah segitiga kenikmatan itu, jari-jariku mengusap-usap bibir vaginanya lalu kugerakkan keluar masuk ke belahannya.

“Auuwww, aaahhh, enak Ric … terusin ya!” desis Dokter Lea sambil menggeliatkan pinggulnya dengan indah.

Setelah beberapa saat mencucuk-cucuk vaginanya dengan jari sampai wanita cantik itu menggeliat-geliat, kini aku mendekatkan wajahku ke selangkangannya dan lidahku kujulurkan ke belahannya yang telah becek.

“Ooooohhhh…!” desahnya sambil mempercepat gerakan mulutnya terhadap penis Indra.

Jariku membuka vaginanya hingga klitorisnya terlihat. Kuciumi biji kecil itu sambil sesekali melakuan gerakan menyedot. Bagian sensitif itu sudah tegang sebesar biji kacang hijau. Indah sekali bentuknya, apalagi ketika kukuakkan labianya bagian atas klitorisnya. Kedua labianya kupegang dengan kedua tanganku dan kubuka lebar-lebar lalu dengan lembut kujulurkan lidahku menusuk makin dalam ke vaginanya.




“Aaaaaahhhhhh ….Ric pinter juga ya kamu!” Dokter Lea berusaha mengendalikan erangannya namun sesekali suaranya meninggi tanpa terkendali.

Aku melakukan gerakan mencium, menjilat, menusuk, menyedot secara bergantian, bahkan tak urung kuisap klitoris dan kedua labianya secara bergantian, hingga erangan dan rintihannya semakin keras.

“Ahhh, yes...eeemmm!” Indra yang sedang dioral penisnya juga meracau tak karuan.

Kepala Dokter Lea naik turun mengoral penis temanku. Tangan Indra tidak tinggal diam, ia meremas-remas payudara Dokter Lea dan memilin-milin putingnya.

Cairan kewanitaan Dokter Lea keluar semakin banyak saja. Kusedot dan kutelan cairan bening itu dengan nikmatnya, gurih rasanya. Tangan kanannya kini memegang belakang kepalaku dan menekankannya kuat-kuat ke selangkangannya sambil menggeliat-geliat seksi. Agaknya ia sudah orgasme. Kurasakan aliran cairan menyembur dari dalam vaginanya yang langsung kuseruput seluruhnya dengan bernafsu. Ia menolakkan kepalaku, mungkin merasa jengah karena kuisap seluruh cairannya, tanpa mau menyisakan sedikit pun. Aku tidak mengikuti perlakuannya, tapi terus menekan wajahku menjilati sisa cairan orgasmenya yang masih berleleran. Aku masih melumat vagina Dokter Lea ketika ia mengangkat wajahku lalu mencium bibirku.

“Good start Ric, mantap!” pujinya

Kulihat Indra terpengaruh atas orgasme Dokter Lea

“Sekarang aja ya Dok, saya belum dapet nih!” ajaknya

“Aaahh...oke, tapi saya masih capek sih, jadi di bawah ya,” Dokter Lea menelentangkan dirinya di ranjang tersebut setelah sebelumnya melepaskan jas dokter, kaos dan bra nya hingga bugil total.

“Ric...tolong taro di kursi situ aja!” pintanya padaku

Aku pun melakukan permintaannya, sekalian aku melepas celana dan celana dalam lalu kuletakkan di dekat pakaiannya. Setelah itu aku kembali ke ranjang tempat peraduan kami. Indra telah mengambil posisi di antara paha Dokter Lea dan menggesek-gesekkan penisnya ke bibir vagina dokter cantik itu. Dokter Lea nampak naik lagi birahinya atas perlakuan Indra. Indra menekan penisnya hinggga melesak semakin dalam ke dalam vagina dokter itu. Dokter Lea sendiri menyambutnya dengan membuka lebar-lebar pahanya. Kedua kakinya dipentang dan dipegang oleh kedua tangan Indra. Dokter Lea lalu mengisyaratkan aku mendekatinya. Aku pun naik ke dadanya dan tangannya langsung meraih penisku.




“Keras nih...kayanya ga bakal mengecewakan, hihi...!” komentarnya.

“Ga bakal Dok, jaminan mutu boleh dicoba!” timpalku.

“Emangnya baygon, jaminan mutu!” ia mulai mengocok penisku pelan.

Sambil menyentuh penisku, perlahan-lahan ia dekatkan wajahnya ke arah pahaku dan menjilat kepala penisku.

“Eeemmm...sedap Dok!!” desahku nikmat.

Dokter Lea semakin liar bergerak menikmati tusukan penis Indra sambil melumat penisku. Kedua tanganku tidak mau tinggal diam dan meremas-remas kedua payudaranya dengan putingnya yang semakin mengeras itu. Genjotan penis Indra kulihat semakin kencang dan itu berpengaruh pada semakin kuatnya Dokter Lea menghisap penisku. Kurasakan kepala penisku menekan ujung tenggorokannya, tapi wanita ini tidak peduli, ia sepertinya sudah ahli soal beginian, air liurnya menetes di sela-sela bibirnya yang tak kenal lelah mengoral penisku. Bahkan ketika seluruh penisku ia telan, lidahnya mengait-ngait lubang kencingku, rasanya agak panas, tapi geli bercampur nikmat. Aku ikut merintih tanpa kusadari. Plok...plokkk...plok....suara penis Indra keluar masuk semakin cepat. Penisku disedot kuat-kuat oleh Dokter Lea sehingga tanganku pun makin gemas meremas payudaranya.

“Ahhh, saya mau keluar Dok...yessshhh!” erang Indra ngos-ngosan




“Sama Dra...bareng ya? Oooohhhh, akkhhh … enak gilaa... yang dalam... aaauhhggghhhhh!!” rintih Dokter Lea semakin tinggi.

Desah orgasme Dokter Lea tak tertahankan ketika dengan hebatnya penis Indra menghunjam dengan cepat dan berhenti saat orgasmenya pun menjelang. Kedua pahanya menjepit pinggul temanku sementara mulutnya menelan penisku hingga ujungnya kurasakan menekan tekak tenggorokannya. Kuperhatikan tubuh wanita ini yang indah bergetar-getar beberapa saat. Aku menengok ke belakang, tubuh Indra pun menegang otot-ototnya sambil terus menusukkan penisnya lebih dalam. Aku turun melepaskan diri dari Dokter Lea agar ia lebih menikmati orgasmenya dengan utuh dan mengambil tempat duduk di pinggir ranjang. Indra menghempaskan tubuh di atas tubuh Dokter Lea, sementara kedua tangan wanita itu memeluk temanku. Kuamati mereka berpelukan sambil bertindihan menikmati gelombang orgasme yang makin menyurut.

Tak lama kemudian, Dokter Lea berkata dari balik himpitan tubuh Indra, “Sekarang giliranmu ya Ric...yuk cepet mumpung masih jam jumatan nih, masih sepi!”

“Nggak apa-apa Dok, santai aja. Saya kan cuma nemenin Indra aja,” aku berbasa-basi

“Jangan gitu dong” Dokter Lea menolakkan tubuh Indra dan turun dari ranjang lalu mendekatiku. “kamu kan pendatang baru, masa saya belum memberi sambutan ke kamu” ia cium bibirku lembut sambil melingkarkan kedua tangannya ke leherku.

“Nah, sekarang kamu berbaring aja di ranjang” suruhnya padaku, “Dra kamu turun dulu, sempit ranjangnya tuh!”

Indra hanya mengangguk dan turun dari ranjang yang sebenarnya hanya muat satu orang itu untuk membiarkanku naik

“Giliranlu bro....enjoy!” katanya menepuk lenganku ketika aku hendak membaringkan diri.

Dokter Lea naik ke atas penisku lalu ia membuka kedua belah pahanya lebar-lebar. Rambut-rambut halus vaginanya memberikan nuansa romantis yang tak terlukiskan ketika bersentuhan dengan kepala penisku. Tubuh Dokter Lea benar-benar seindah pualam. Geliatnya begitu erotis, membuat pria manapun takkan mampu menguasai diri untuk tidak menyetubuhinya dalam keadaan begitu rupa.




“Ayo Ric, ga usah malu-malu gitu, tiap member orgy club ga perlu sungkan soal ginian” rayu Dokter Lea sambil mengelus rambutku, kuamati wajahnya dari dekat, benar-benar cantik, di balik wajah wanita berintelektual tinggi ini ternyata mengandung gairah yang tinggi, payudaranya bersentuhan dengan dadaku

Tanganku mengelus-elus lengan dan perutnya. Ia menarik pergelangan tanganku agar mengelus dan meremas payudaranya. Kini aku mulai beroperasi di bagian dadanya dan memainkan putingnya yang kembali mengeras akibat sentuhan jari-jariku. Kupilin-pilin putingnya dengan lembut dan kudekatkan mukaku ke payudaranya. Lidahku kujulurkan menjilati puting payudaranya memberinya sensasi geli, setelah itu kumasukkan putingnya ke dalam mulutku sambil melakukan gerakan menyedot.

“Ooogghh, ya, yahh, gitu enak Ric! ” desisnya

Disemangati begitu, kedua payudaranya makin kuremas sambil terus mengisap, memilin, menyedot putingnya dengan gerakan bervariasi, kadang-kadang lembut, kadang ganas, hingga pemiliknya menggeliat-geliat nikmat. Kurasakan tangannya yang lembut meraih penisku dan menyentuhkan kepalanya pada bibir vaginanya. Ia menggelinjang-gelinjang antara geli dan nikmat.

“Ooouggghh, kita mulai aja yahh! Udah ga tahan nih” erangnya.

Aku mengiyakan saja mengikuti permintaannya, ia terus memainkan penisku menggesek klitorisnya hingga kurasakan semakin tegang ditekan oleh kepala penisku. Ia menurunkan tubuhnya setelah bibir vaginanya tepat pada kepala penisku

“Eeemmmhh...” lenguhnya merasakan penetrasi penisku pada vaginanya

Secara perlahan ia mulai menaik-turunkan pinggulnya menyambut masuknya penisku yang melesak makin ke dalam.

Indra memandang ke arahku sambil tersenyum. Kini ia berdiri di samping ranjang dan meraih payudara Dokter Lea dan mengenyotnya.

“Aaaahhh …… ” erang Dokter Lea lagi, tangannya memeluk kepala Indra yang menyusu darinya.

Gerakannya menaik turunkan tubuh di atas penisku berlangsung dengan ritme pelan, tetapi kadang-kadang ia menyelinginya dengan gerakan cepat dan dalam. Rintihan nikmat terdengar dari mulutnya

“Oohh...yahh...enak...isep Dra, isep yang kuat!”

Pinggulnya sesekali berputar sehingga penisku seperti sedang mengaduk. Semakin lama gerakan pinggulnya makin tak menentu. Aku sendiri terkadang aktif menggerakkan pinggulku sehingga penisku semakin menghantam-hantam vaginanya. Seiring gerakanku makin bertenaga, desahannya pun makin kuat mengarah pada jeritan, namun ia masih berusaha meredamnya dengan menggigit bibir atau jarinya sendiri. Dengan beberapa kali hentakan ke atas kubuat tubuh Dokter Lea semakin bergetar, kurasa sebentar lagi ia segera menggapai puncak kenikmatan.

“Ric, terusin ….udah mau nih, ooohh!” ia menggeram sambil menyentak-nyentakkan tubuhnya semakin cepat.

Jari-jari tangannya memeluk punggung Indra dengan erat. Dinding vaginanya semakin berdenyut-denyut memijati penisku, sentakannya kadang membuat buah pelirku ngilu tapi perasaan itu bercampur dengan kenikmatan luar biasa. Kurasakan guyuran cairan kewanitaannya membasahi penisku sedemikian rupa hingga tak kuasa kubendung luapan spermaku memasuki rongga vaginanya.

“Dokter....!!! ngecrot nih!” desahku sambil meremas payudaranya

Ia pun akhirnya ambruk menindihku setelah Indra melepaskan pelukannya. Kuciumi bibirnya rapat-rapat dan ia pun menyambut ciumanku. Kurasakan bibir kami berdua agak dingin, sebab aliran darah kami seakan-akan terdesak ke bagian bawah. Kedua belah pahanya menjepit kedua pahaku dengan kuatnya dan jepitan vaginanya seolah-olah ingin mematahkan batang penisku. Dinding vaginanya masih berdenyut-denyut memilin penisku.Beberapa kali aku mendorong tubuhnya tapi ia tak mengijinkan tubuhku meninggalkan tubuhnya.

“Buru-buru amat? Peluk aku Ric...saya suka diberi kehangatan!” katanya.

Mulutnya masih terus menciumi mulutku hingga bibir kami kembali berpagutan dan lidahnya masuk rongga mulutku menggapai langit-langit mulutku. Kulakukan hal yang sama bergantian dengannya. Cairan orgasme kami mengalir di selangkanganku, juga kuperhatikan membasahi wilayah kewanitaannya. Penisku menyusut setelah melakukan tugasnya dengan baik. Aku melepaskan diri dari pelukannya dan berbaring di sebelah sebelah kiri tubuhnya Sungguh sensasi yang terlukiskan nikmatnya. Lama kami berpelukan dalam posisi berdekapan. Elusan jari-jari Dokter Lea di tubuhku membuatku tak habis pikir, betapa dahsyat permainan wanita ini. Ia memiliki kekuatan melawan dua pria sekaligus.




“Oh gitu...jadi akhir minggu ini kalian bakal party bulanan?” Dokter Lea telah berbenah diri dan duduk di belakang meja kerjanya.

“Iya Dok, kalau bisa dateng dong ya...sejak member setahun lalu baru pernah sekali ketemu dokter di party loh saya!” kata Indra

“Ya gimana ya...maaf sekali, bukannya ga kepingin, tapi tuntutan profesi, jadwal padat...yang kali ini juga gak bisa keliatannya, ada shift malam di rumah sakit” ujar Dokter Lea tersenyum, “tapi kalau kalian mau datang ke rumah sakit, welcome banget kok saya...jam malem gitu kadang enak ada yang nemenin” lanjutnya.

“Yah...pengennya sih dokter ke party, ya udah deh....oke kita cabut dulu ya dok! Tar lagi ada kuliah lagi” pamit Indra setelah melihat jam tangan.

“Yuk Dok, kita pamit dulu, sampai nanti ya!” aku juga pamitan.

“Oke bye-bye guys” Dokter Lea bangkit dan mengantar kami ke pintu.

“Wei...ngehe lo...ga bilang-bilang kalau Dokter Lea ex-member!” aku menonjok pelan lengan Indra yang tertawa menang atas diriku.

“Huehehehe...ya salah lu juga ga nyelidikin dulu malah langsung main ketawain gua” katanya, “terus gimana nih taruhannya Ric?”

“Oke...oke gua isiin pulsa lu nanti, lu emang partner in mupeng sejati hahaha....” aku merangkul pundaknya dan berjalan meninggalkan gedung itu.

Tidak apa deh membayarkan pulsa 100ribu untuk temanku ini juga, tidak ada artinya dibandingkan bisa mendapat pasangan seks baru, Dokter Lea yang cantik dan montok itu. Aku dan Indra sedikit berlari memasuki ruang kuliah karena kami sudah agak terlambat. Untunglah Bu Tri yang galak itu belum menutup pintu sehingga kami masih boleh masuk kelas. Satu setengah jam ke depan aku mengikuti kuliah ini seperti biasa. Seusai mata kuliah ini, Indra meninggalkanku karena ada urusan, sedangkan aku masih harus menunggu karena masih ada kuliah berikutnya satu setengah jam lagi. Aku bermaksud menunggu di perpustakaan sambil baca-baca, saat berjalan ke sana aku melewati taman kampus dan bertemu lagi dengan Dokter Lea. Ia sedang bersama seorang bocah laki-laki yang memakai baju seragam taman kanak-kanak yang letaknya tidak jauh dari kampus ini. Anak itu berlari-lari di dekatnya dengan membawa robot-robotan sambil disuapi oleh seorang baby sitter yang sibuk mengejar-ngejarnya.

“Siang Dok!” sapaku menghampirinya, ia juga membalas hai dengan senyuman, “sama keponakan? Atau pasien?”

“Ooh bukan...anak” jawabnya, “Albert! Come here, say hello to uncle!” panggilnya pada anak itu.




“Hah! Anak!?” aku tersentak dalam hati, tidak kusangka Dokter Lea ternyata sudah punya anak sebesar ini, padahal masih terlihat begitu muda dan ramping, selain itu rasa vaginanya juga masih seperti wanita yang belum pernah melahirkan, hampir tidak percaya aku dibuatnya.

“Hi Albert...hello!” aku mengulurkan tangan dan ia dengan malu-malu menjabat tanganku, kuperhatikan wajahnya memang ada kemiripan dengan ibunya, terutama mata dan hidung, wah...ternyata dokter satu ini memang MILF, yes...I like it!

“Pake Inggris ya omongnya?” tanyaku setelah anak itu kembali sibuk dengan mainannya.

“Ya campur lah, kan sekolahnya pake Inggris pengantarnya” jawab dokter cantik itu.

“Eeemm...iya emang sekarang banyak sekolah yang standar internasional ya...”

“Kamu masih ada kuliah ya Ric?” tanyanya

“Iya bentar lagi Dok, kan sekarang lagi tunggu...kalau dokter, kapan pulangnya?”

“Sebentar lagi, makanya dia kesini jadi sekalian pulang abis ini”

“Dijemput sama papanya Dok?”

“Papanya...” tiba-tiba air muka Dokter Lea berubah, “nggak...saya single parent kok”

“Ups...maaf Dok” aku merasa tidak enak karena sepertinya mengorek kehidupan pernikahannya yang kelihatannya tidak berjalan mulus.

“Hihihi maaf apaan sih...kamu gak salah apa-apa kok maaf” dia mulai tersenyum lagi.

Aku buru-buru mengalihkan topik pembicaraan, kami duduk di bangku batu dekat situ dan ngobrol. Dokter Lea ternyata teman ngobrol yang menyenangkan,sehingga kami cepat akrab seperti teman lama, padahal aku pada dasarnya bukan pria yang supel. Obrolan kami semakin seru, dia bercerita dan terus berkembang hingga tidak terasa setengah jam berlalu, Aroma tubuhnya harum membuat darah lelakiku bergolak keras apalagi mengingat kejadian tadi pagi bersamanya.

“Eeehhmmm...Dok, omong-omong tadi pagi puas ga?”aku beranikan diri aku mengajukan pertanyaan nakal dengan suara pelan

Dia terdiam beberapa saat dengan pandangan ke arah anaknya yang sedang bermain, wah...aku sudah berpikir jangan-jangan dia marah nih. Lalu dia menoleh ke arahku

“Ric...saya sudah tampar kamu...” ketika dia berkata begitu nafasku tertahan karena malu telah bertanya seperti itu, “kalau kamu bukan anggota klub”

Barulah aku lega mendengar kalimat lanjutannya itu.

“Tapi saya kan udah anggota Dok, jadi gimana?”

“Hussshh....jangan omong macem-macem ah, disini ada anak saya tau”

“Kalau di ruang praktek boleh Dok?”

“Saya udah mau pulang Ric” jawabnya enteng, “tapi sebelumnya mau beres-beres dulu, kalau mau bantu saya yuk kita kesana”

Saat itu Albert sudah menghabiskan makannya dan berlari ke arah mamanya dengan manja.

“Albert, you play here for a while ok, mom will be back soon!” kata Dokter Lea sambil berjongkok dan memegang kedua pundak buah hatinya itu, “Sus, main-main aja deket sini, saya mau beres-beres dulu!”

“Iya Bu!” sahut si babysitter, “yuk sini Bert!”

“Yuk Ric...kita bicara di dalam aja!” ajak Dokter Lea setelah mengecup pipi anaknya.

“Albert bye-bye!” kataku pada anak itu yang dibalas senyumannya.

Iblis dalam diriku juga berkata, “I’m going to fuck your Mom for a while Boy...hehehehe!”

Aku mengikuti Dokter Lea yang sudah mendahuluiku di depan. Aku suka MILF satu ini, gaya pancingannya bener-bener cool.




“Kunci pintunya” perintahnya seraya berjalan ke arah jendela dan menutup tirai setengahnya.

Begitu berbalik badan setelah mengunci pintu, Dokter Lea langsung memelukku erat sekali.

“Uuuffff...Dok …”

Tanpa banyak babibu lagi bibir kami langsung berpagutan. Lidahnya yang lincah dan ahli langsung menelusuri rongga-ronga mulutku. Tangannya turun ke bawah mengelusi selangkanganku yang sudah menggeliat dari balik celanaku. Kali ini ia menunjukkan sisi agresifnya dibanding ketika pertama bercinta beberapa jam yang lalu. Sambil masih berpelukan, aku menggeser tubuhnya menuju ke mejanya. Ia menaikkan pantatnya pada tepian meja, matanya menatapku tajam, menantang dan penuh nafsu. Aku tak tahan lagi, kusingkap kaos di balik jas dokternya hingga tampaklah kedua gumpalan daging kenyal putih yang seakan sesak tertutup bra krem. Gumpalan itu tampak lebih menonjol, karena posisi dadanya agak membusung. Kemudian kunaikkan juga kedua cup bra itu sehingga sepasang buah dadanya yang bulat, menonjol, kenyal, putih, bersih tampak seluruhnya di hadapanku. Sepasang putingnya telah mengeras. Tak ada yang bisa kuperbuat selain menyerbu sepasang gunung indah itu dengan mulutku.

“Ooohhh...Ric!” Dokter Lea merintih keenakan ketika kujilati dan kukenyot putingnya.

Aku sadar harus main quickie karena waktu tidak banyak, maka sambil mengeksplorasi payudaranya dengan mulutku, tanganku yang satu membuka celanaku dibantu tangannya. Ia sudah terlebih dahulu mengeluarkan penisku sebelum aku sempat menurunkan celana dalamku membuatku makin tegang aja. Lalu, dengan perlahan dia membantu menurunkan celana dalamku. Celana panjangku telah melorot jatuh ke lantai dan celana dalamku menyangkut di pahaku, penisku sudah mengacung tegak di depan Dokter Lea, ibu muda yang cantik dan sexy itu.

“Kamu yang ajak, jadi awas kalau ga memuaskan ya!” katanya sambil menatap penisku.

“Beres Dok, dijamin!” sahutku sambil menyingkap roknya dan menarik lepas celana dalamnya.

Celana dalam itu pun terlepas dan kuletakkan di meja itu. Dokter Lea membuka kakinya lebih lebar, klitnya pun semakin terlihat jelas, merah jambu dan berlendir, siap untuk ditusuk. Aku langsung menempatkan pinggulku di antara pahanya yang membuka dan kami berciuman lagi. Tangan kananku membimbing penisku mencari lubang sasarannya, akhirnya kepala penisku menempel pada bibir vaginanya yang basah dan mulai kutekan.




“Uuuuuhhhhhh....eeemmmhhh!” rintihnya, padahal baru kepala penisku saja yang masuk..

“Ouufff ...pelan please!” ia menahan dadaku ketika aku menekan lebih keras.

“Oh...maaf Dok! Sori terlalu nafsu”

Aku coba lebih lembut, menusuk pelan-pelan tapi pasti sampai akhirnya penisku tenggelam seluruhnya. Vaginanya memang sungguh sempit, gesekannya amat terasa di batang penisku.

“Eeeehhmmm....enak Dok, sempit, padahal kan Dokter dah punya anak!” kataku sambil menggenjot dengan tempo sedang.

“Aaahh....aaahh...saya kan dulu sesar!”

“Oohh...pantes masih legit hehehehe....”

Tempo genjotanku pun kunaikkan sampai mejanya berderit-derit setiap aku melakukan gerakan menusuk.

“Uuuhh....Ric...kamu sadar siapa yang lagi kamu entot ini? Saya dokter kampus, ibu dari seorang anak! Ini hubungan terlarang...berani-beraninya kamu!” katanya sambil menatapku dengan matanya yang sayu.

“Tapi kan dokter anggota klub...jadi bebas dong ya ga?” kataku sambil terus menggenjot vaginanya sampai ia tidak bisa menahan erangannya sehingga harus menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Aku menyingkirkan telapak tangannya dan memagut bibirnya sehingga erangannya teredam. Ketika kurasakan gelombang klimaks itu akan tiba, saatnya mempercepat pompaan. Penisku makin berdenyut-denyut siap memuntahkan sperma. Ketika hendak mencabut penis untuk dikeluarkan di luar guna menghindari ‘kecelakaan’ sepasang kakinya menjepitku menahanku mencabut penisku, tangannya juga memelukku semakin erat saja. Karena memang aku tak mampu menahan lagi, kusemprotkan kuat-kuat spernaku ke dalam vaginanya, sambil mengejang dan melenguh. Dia juga mencapai orgasmenya tidak lama setelah aku sehingga kurasakan kehangatan di bawah sana, cairan orgame kami sudah pasti membasahi meja di bawahnya. Tak lama kemudian, tubuh kami melemas saling berpelukan. Kami dapat merasakan dengus nafas masing-masing yang ngos-ngosan.




“Thanks ya Ric…singkat tapi puas!” kata Dokter Lea sambil membelai pipiku.

“Oh masa?“

“Iya bener...kamu hebat mainnya”

“Ah...Dokter terlalu muji deh, saya biasa aja kok, malah masih kalah liar dibanding dokter”

“Kamu tau Ric, profesi saya menuntut kedisplinan dan ketelitian, ditambah peran sebagai single parent, itu semua gak mudah, stress udah hal biasa” curhatnya sambil mengelus-elus dadaku, “suami gak punya, pacar juga yah setidaknya belum dulu sampai sekarang ini, karena itu Ric, kalau lagi ada waktu senggang di luar itu saya sangat menikmati peran saya sebagai...wanita nakal...yah sangat nakal, dimana saya bisa mengekspresikan hasrat sebebas-bebasnya. Di klub inilah saya menemukan yang saya perlukan, bukan sekedar seks, tapi juga teman”

Tiba-tiba terdengar suara pesan masuk, Dokter Lea mengambil BB dari kantong jas dokternya dan membaca pesan itu.

“Sepertinya kita harus udahan dulu, kamu juga sebentar lagi kuliah kan?” ia melepaskan diri dari dekapanku dan turun dari meja.

“Wah mejanya jadi basah Dok!” aku hendak mengambil tissue untuk membersihkan cairan hasil persetubuhan kami yang berleleran di tepi meja.

“Gapapa Ric, tar saya bersihin, kamu mending cepet beres-beres biar gak telat!” katanya sambil berbenah diri, ia mengambil celana dalamnya di atas meja dan memakainya kembali.

“Lain kali kalau senggang kita bisa main lagi ok” katanya tersenyum “oh ya...saya pakai IUD, jadi feel free aja kalau kita ML”

“Oh gitu”

“Yup...satu anak aja udah cukup repot, jangan sampai tambah lagi, setidaknya belum dulu sampai saat ini” katanya lagi, “terus...ini kartu nama saya!" ia mengeluarkan kartu nama dari dompetnya dan menyodorkannya kepadaku.

Kuterima kartu nama itu. Tertulis nama lengkap beserta gelarnya, Dr. Lea Kumalasari Sp. PD-KGH, di bawahnya tertera rumah sakit tempatnya bekerja dan juga alamat rumah dan nomor HP.

“Spesialis penyakit dalam...KGH nya apaan Dok?”

“Konsultan Ginjal Hipertensi” jawabnya, “O ya, salam buat anak-anak di kost ya!”

“Oke deh...dokter juga kapan-kapan main ke kost dong, ya...ya...!!” godaku sambil memeluk tubuhnya.

“Kamu ini, kan udah saya bilang jadwal saya padat, harus urus anak juga...tapi kalau ada waktu saya coba ke sana sekalian nostalgia!” ia mendorong dadaku pelan dan berjalan ke arah pintu, “O iya, Amel masih kost di situ kan Ric?”

“Amel...mata gede, rambut panjang sedada itu?” aku mencoba memastikan.

“Iya...dia kayanya angkatan kamu deh”

“Masih kok, angkatan atas saya itu sih Dok” jawabku, “emang ada apa sama dia Dok?”

“Ngga...cuma tanya, salam aja buat dia” katanya

“Ya udah deh, saya kuliah dulu ya Dok....dadah” aku pamitan sambil mencium ringan bibirnya dan meninggalkan ruang klinik kampus dengan hati puas.









Amelia





Sungguh hari yang menyenangkan, aku menuju ruang kuliah dengan hati puas. Beberapa orang sudah menunggu di kelas ketika aku tiba. Setelah menyapa beberapa orang aku mencari tempat duduk dekat jendela supaya dapat udara segar. Aku duduk lalu mengecek BB sambil menunggu si dosen datang.

“Hai kayanya senang banget hari ini!” sapa Amel yang tiba-tiba sudah di sebelah, ia menarik bangku kosong di sebelahku dan duduk di sana.

“Hehe...gokil juga nih” kataku lalu membacakan sebuah status lucu di facebook salah satu temanku.

“Bukannya senang karena kenal sama dokter cantik?” kata Amel lagi yang membuatku agak kaget, “romantis banget di taman tadi, gua kira lu bapaknya anak itu” lanjutnya dengan nada agak sinis seperti biasa.

“Oohhh....itu hehehe...Dokter Lea, itu Indra yang ngenalin, gak nyangka dia anggota klub juga ternyata” kataku, “kita sempat threesome tadi pagi, si Indra tuh yang mulai” aku memelankan suara.

“Wow...jadi sudah sejauh itu, ckk....ckkk...ckk...” ia geleng-geleng kepala.

“Eh iya, Dokter Lea juga titip salam ke kamu Mel, kayanya kalian kenal deket ya?”

“O thanks, tapi gua tolak salamnya!” katanya datar.

“Hah...ada apa emang di antara kalian Mel?” kayanya lu sinis banget nadanya daritadi,” ooo...gua tau, lu cemburu ya hahaha...!”

“Ihhh...apaan sih lu, ngapain juga cemburu ke lu?” wajahnya berubah masam, “please jangan omong sembarangan yah!”

“Eh, sori bukan maksud gitu, emang ada apa sebenernya antara kalian?”

“Ini urusan pribadi gua, sori gua pindah ke belakang, temen-temen gua udah dateng”, lalu ia berdiri meninggalkanku begitu saja.

Aku tiba-tiba jadi tidak enak melihat reaksinya, entah ada apa dengannya dan Dokter Lea, sepertinya ia tidak mau diajak bercanda soal ini. Tak lama kemudian dosen pun datang dan aku mengikuti kuliah seperti biasa, Amel tidak sedikitpun melihat ke arahku selama itu, nampaknya ia marah atau tersinggung padaku yang aku belum mengerti dimana salah kataku sampai dia begitu. Usai kuliah aku masih harus bertanya beberapa hal mengenai tugas pada dosen sementara Amel sudah keluar bareng teman-temannya sehingga aku pun kehilangan jejaknya. Setelah semua selesai, aku berjalan ke parkiran motor, hatiku sedikit galau, tidak enak pada Amel. Aku ingin segera pulang menemuinya di kost dan menjelaskan semuanya.

“Ehhh! Mel!” sapaku merasa senang melihatnya di tangga, “tadi itu...sori...!”

“Udahlah gua bukan mau omongin itu, cuma mau tanya lu ada kegiatan lagi ga?”

“Ga, mau pulang ini, napa emang?”

“Bisa anter gua Ric, ikutin aja petunjuk gua, jangan tanya-tanya dulu”

“Emm...oke, boleh, yuk!” aku agak heran juga dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah, tadi marah sekarang minta tolong.




Kami meluncur sampai ke sebuah daerah yang tidak terlalu jauh dari kampus, tapi aku baru pernah menginjakkan kaki ke sini, daerahnya agak menanjak, sepi, dan rumah-rumah di sana keren-keren.

“Ini sih daerah elit!” kataku dalam hati.

“Kita kemana nih Mel?” tanyaku penasaran.

“Depan sana belok kanan” katanya mengarahkan, sepanjang jalan ia tidak bicara apapun selain menunjukkan arah tujuan kami.

“Itu Ric, yang tingkat dua itu, yang ada pohon cemara di depannya!” katanya.

Akhirnya sampai juga kami di tujuan, sebuah rumah yang megah, letakknya lebih tinggi dibanding rumah lainnya. Amel turun dari motor dan memencet bel di sebelah gerbang.

“Rumah siapa nih Mel? Sodara? Temen?”

“Ngga...ini rumahnya om Dedy, di sini kita biasa ngadain arisan bulanan Ric, nanti lu juga diajak kok ke sini, nah sekarang gua ajak liat-liat dulu”

‘Oohh ya...wah baru tau gua Mel, bukannya setau gua mereka tinggalnya di kompleks deket kost kan?”

“Iya, yang satu ini juga, yang ini lebih berfungsinya ke arah guess house, kalau ada rekan bisnis atau famili mereka dateng biasa tempatin di sini sama ya itu you know lah...yang lain udah cerita kan, tapi kadang mereka tidur di sini juga kok” jelasnya tersenyum tipis.

“Aaah...Non Amel! Ayo Non masuk!” sahut seorang pria setengah baya bertopi yang datang membukakan gerbang.

Aku pun memasukkan motorku ke pekarangan rumah itu.

“Di sini gapapa Pak?” tanyaku.

“Iya gapapa situ aja” jawab pria berpostur pendek tersebut.

“Pak Iqbal...ini Rico, anggota baru...Ric ini Pak Iqbal, penjaga di sini” Amel memperkenalkan kami setelah aku mematikan mesin dan turun dari motor.

“Hehe...anggota baru yah Den” pria itu mengulurkan tangan padaku yang kusambut jabat tangannya, “kalau perlu apa-apa disini bilang Bapak aja yah!” katanya ramah.

“Pak, kita ke dalem dulu yah, ga ada siapa-siapa?” tanya Amel.

“Oh, silakan Non hehee...ga ada siapa-siapa kok hari ini”

“Yuk Ric!” Amel lantas meraih lenganku dan menuntunku ke pintu depan sementara aku masih mengagumi pekarangannya yang indah dan tertata rapi itu.









Pak Iqbal





“Eeennnggg...Non!” panggil Pak Iqbal, Amel pun membalik “anu...kan udah lama” tangannya tanpa malu-malu mengelus pantat Amel yang terbungkus celana jeansnya.

Amel melepaskan tanganku sejenak, lalu ia berpagutan bibir dengan pria itu dengan panasnya. Amel agar merendahkan tubuhnya karena ia lebih tinggi. Mereka beradu lidah di depanku tanpa risih, tangan pria tua itu menggerayangi payudara montok Amel dan pantatnya, adegan itu berlangsung sekitar 2-3menitan.

“Eemmhh...udah dulu ya Pak” Amel mendorong pelan pria itu ketika ia hendak menyingkap kaosnya, “gak sekarang, oke” katanya.

“Hehe...iya deh Non, Bapak ngerti, eh sori Den Rico, kangen soalnya udah lama ga ketemu Non Amel” kata pria itu cengengesan padaku, “silakan masuk aja”

“Dasar...muka ramah tapi mesum juga nih si tua!” omelku dalam hati, panas juga hatiku melihat adegan mereka tadi.

“Mau minum apa Den? Non?” tanyanya dengan tetap tersenyum

“Teh dingin aja Pak, mau apa Ric?”

“Ehh...apa ya, air dingin aja deh Pak, lagi panas nih”

Amel lalu mengajakku memasuki rumah itu. Betapa aku terkagum-kagum menyaksikan interior di dalamnya yang elegan itu. Sebuah piano di sudut, minibar lengkap dengan botol-botol minuman keras berkelas di lemari kacanya, beberapa patung bergaya Eropa maupun Oriental nampak di beberapa tempat memberi kesan eksotis. Di tengah ruangan terdapat satu set sofa lebar dan panjang serta televisi berlayar flat dan lebar dengan permadani berbulu di bawahnya. Wah...jadi disini biasanya diadakan arisan bulanan penghuni kost yang lebih tepatnya pesta Caligula itu, aku jadi tak sabar ingin segera bergabung dalam pesta tersebut.

“Mel, gapapa emang nyelonong masuk ke rumah orang gini?” tanyaku

“Kan gua udah bilang, disini lebih ke guess house, termasuk kita ini yang member orgy club.”

“Ohh gitu, ic...ic deh!” kataku sambil terus mengagumi rumah mewah ini.

“Terus, lu ajak gua ke sini mau apa emangnya Mel?” tanyaku

“Gua lagi pengen berenang” ia melangkah ke belakang membuka sebuah pintu kaca yang lebar, di luar sana terdapat sebuah kolam renang yang berukuran sedang, suasananya begitu teduh dan nyaman dengan pemandangan sekitar yang indah.

“Emang lu bawa baju renang Mel?”

Ia tersenyum dan berkata, “Baju renang? Siapa yang butuh?” habis berkata ia mulai membuka celana panjangnya, kemudian kaosnya.




Aku terpana melihatnya melucuti satu demi satu pakaiannya di hadapanku, ia lemparkan bra krem dan celana dalamnya padaku dan tersenyum melihat reaksiku. Kini ia tidak mengenakan apapun lagi, tubuh polos itu sungguh ciptaan yang agung, sungguh indah.

“Skinny diping...pernah Ric?” aku menggeleng, “oke gua terjun dulu ya!” dengan santai ia menuju ke tepi kolam.

‘JBUR!’ ia menceburkan diri ke air, berenang hingga tengah, lalu berbalik badan ke arahku yang masih terpana.

“Ikutan ga? kok bengong kaya perjaka tingting gitu?” sahutnya.

“Oke...tunggu Mel, tunggu hehehe!” buru-buru aku melepaskan pakaianku hingga bugil dan ‘JBUR!’ aku menyusulnya masuk ke air.

Air kolam sungguh menyegarkan tubuhku setelah seharian kuliah dan di tengah cuaca agak panas ini. Aku segera berenang mengejarnya, ternyata Amel bagus juga berenangnya. Dengan gaya bebas ia dengan cepat mencapai ke ujung sana dan ketika aku hampir mencapainya ia menolakkan badan pada dinding kolam dan kembali berenang gaya bebas ke ujung yang lain.

“Aaaww.!!” jeritnya sambil tertawa-tawa ketika di tengah kolam aku berhasil menyusul dan kutangkap pergelangan kakinya, “Ric...aaahh...tenggelam nih....gglllpp!”

Kutarik tubuhnya turun ke bawah air, kami saling berguling-guling di dalam air. Dalam satu kesempatan aku berhasil memagut bibirnya. Kami pun bercumbu di bawah air selama beberapa saat hingga akhirnya karena kehabisan nafas, kami pun naik ke permukaan.

"Buaaaahhh...." kami ngos-ngosan mengambil udara segar, saat itu kami di daerah dimana air merendam tubuh kami hampir ke leher.

Kami tertawa-tawa dan saling menyiramkan air.

“Non...Den...minumnya Bapak taro sini ya, ini ada kripik singkong juga!” sahut Pak Iqbal dari seberang sehingga membuat kami menengok ke sana.

“Makasih ya Pak!” sahut kami pada pria setengah baya itu.

Pria itu lalu meninggalkan kami berdua di kolam renang. Kudekap tubuh Amel sehingga kami saling merapat satu sama lain. Kuusap rambutnya yang basah ke belakang sehingga dapat lebih jelas menatap wajahnya yang nampak lebih cantik di kala basah seperti ini. Mata kami saling bertatapan sekarang, 10 detik berlalu tanpa berkata-kata. Tatapan kami serasa makin kuat ada sesuatu yang ingin diucapkan dari tatapan mata kami. Kupeluk erat tubuhnya, kurasakan setiap inci kulit di tubuh kami menempel dan bergesekkan. Kehangatan tubuh lembut Amel mengaliri diriku, kurasa ia pun mengalami perasaan yang sama.

“Ric” ia pertama membuka suara

“Iya”

“Gimana kesan-kesan setelah gabung di club?”

“Hhhmm...gimana ya, awalnya pasti rada kaget lah, baru tau ada yang ginian di negeri ini, tapi sekarang mulai enjoy, banget malah”

“Jadi lu udah bisa bedain mana cinta mana seks sekarang?” tanyanya lagi.

“Hhhmm” aku mengangguk




Aku menundukan kepala dan mencium bibirnya yang dibalasnya dengan lembut. Lidahku menjilati bibirnya yang membuka perlahan

“Umhh.” Amel menggelinjang saat lidah kami mulai saling beradu.

Ia memiringkan sedikit posisi kepalanya, dan tangannya merangkul leherku. Ciuman kami pun semakin dalam dan penuh perasaan. Lidah kami saling belit dan bertukar ludah, sungguh nikmat rasanya. Sesekali aku memainkan lidah di rongga atas mulutnya, ia meresponnya dengan menjulurkan lidahnya dan menggesek bagian bawah lidahku. Kedua tanganku di dalam air berada aktif menjamahi tubuhnya. Kuremasi kedua buah pantat Amel dan tangaku yang satunya membelai punggungnya dengan lembut. Aku dapat merasakan gelinjangnya dalam pelukanku, ia juga merabai dadaku dengan jemarinya yang lentik. Percumbuan kami berlangsung cukup lama juga hingga akhirnya aku melepaskan bibir kami dan menatap matanya dalam-dalam.

“Mel...gua say...” kuutarakan isi hatiku padanya, namun sebelum selesai ia menempelkan dua jarinya di bibirku.

“Jangan ucapin itu Ric..please” katanya.

“Tapi ini...”

“Jangan Ric...gua udah dua kali mendapat kata itu atau apapun sinonimnya, lalu gua balas mereka seperti apa yang mereka katakan itu dengan tulus, tapi apa yang gua dapat akhirnya? Semuanya palsu! Mereka cuma mau tubuh gua, seudah dapet mereka bisa seenaknya cari perempuan lain atau duain gua” suaranya sengau seperti mau nangis, “di club juga bisa seenaknya mendapat tubuh, tapi ga perlu pakai cara yang menyakitkan seperti mereka, karena itu gua gabung dan mulai menikmatinya, gua ga butuh kemunafikan, gua ga butuh kata-kata gombal...” ia lalu memelukku erat, terdengar ia sesegukan di dekat telingaku.

Aku terdiam sesaat mencoba mengerti dirinya dan kuelus-elus punggungnya, aku baru sekali mengalami pengkhianatan cinta, ia sudah dua, aku tidak ingin jadi yang ketiga.

“Gua ngerti Mel, pacaran emang berisiko terluka, gini aja, kita bukan pacaran, tapi TTM-an, gimana?” kataku melepaskan pelukan dan memegang erat kedua lengannya, “ya bisa diartiin temen tapi mesra juga bisa teman tapi mesum, jadi sex is only sex, lu bebas sama siapa aja, gua juga gitu, tapi sisanya kita jalani seperti pacaran, kita saling ngasih perhatian khusus? Jadi kalau gua ga akan jadi yang ketiga seandainya kita gak cocok nanti, kita tetap teman seandainya harus pisah nanti tanpa harus meninggalkan luka di hati masing-masing”

Amel diam, matanya terus menatap mataku.

“Seperti Alex sama Sabrina atau seperti Kak Angel juga gitu kan, inget? Kan mereka juga kelihatannya bisa menjalankan” kataku melanjutkan, aku teringat pada Alex si freak itu, sebelum aku tahu semua di balik kost aku sudah merasakan kalau Alex punya hati terhadap Sabrina, walaupun orangnya cuek, beberapa kali aku melihatnya membeli makanan untuk Sabrina atau perhatian lain yang sepertinya sepele seperti bertanya sudah makan atau belum, bagaimana ujiannya tadi, juga pernah beberapa kali menjemput Sabrina dengan motornya. Sabrina juga bukannya tidak menyadari dan ia pernah mengatakan hal itu padaku, tapi mereka belum pacaran resmi, setelah menjadi member club barulah aku tahu hubungan mereka seperti itu.




“Gapapa Mel, lu ga perlu jawab sekarang kalau memang belum siap” aku membelai rambut basahnya melihatnya terdiam terus, aku tidak ingin membuatnya tersudut, “eh...minum dulu yuk, gua ambilin yah!” aku membalik badan hendak berenang ke tepi.

“Ric” ia memanggilku dan meraih lenganku, “lu mau jawaban kan?”

Ia melingkarkan lengannya ke leherku dan menciumku kembali. Kami pun kembali terlibat percumbuan dan saling berpelukan erat penuh perasaan. Tangan kanannya meraba penisku di bawah air. Sementara ciumanku merambat ke telinganya.

“Ahh.. Ric!!”

Setelah puas dengan telinganya, jilatanku mengarah ke lehernya. Tanganku meraih kedua lekukan lututnya lalu kuangkat sebatas dadaku sehingga ia melayang di air dengan payudara tepat di depan wajahku. Tanpa basa-basi lagi aku langsung melumat payudara kanannya,

“Eeemmhhh enak…teruss” desahnya

Kepala Amel mendongkak ke langit. Jilatanku dari bulatan payudaranya mengarah ke putingnya. Lidahku bermain-main di areolanya, lalu melahap putingnya. Kusentil-sentilkan lidahku di puting itu dan menghisapnya sehingga membuatnya semakin menggelinjang.

“Yess disitu… sedot terus, jangan berhentiii…. Uhhh…”

Mendapati respon seperti itu, aku pun semakin bernafsu. Kuhisap puting itu dengan gemas.

“Ke tepi yuk Mel!” kataku setelah puas menyusu selama beberapa saat sampai meninggalkan bekas cupangan pada payudaranya.

Amel mengangguk, aku pun menggendongnya dalam posisi yang masih sama ke tepi, ia melingkarkan tangannya pada leherku sebagai topangannya.

“Duduk Ric, santai aja, sekarang gua yang servis lu!” suruhnya, aku pun duduk dan menyandarkan punggung ke dinding kolam di daerah dangkal itu, “pernah disepong di air?” tanyanya dengan senyum nakal dan memegang penisku yang sudah tegang, aku menggeleng.

Tanpa banyak omong lagi ia masuk ke air dan menangkap penisku dengan mulutnya.

“Uuuuhh!” erangku merasakan penisku dikulum di bawah air sana.

Lumayan lama juga Amel bisa bertahan sampai akhirnya ia mengeluarkan kepalanya dari air dengan nafas sedikit ngos-ngosan.

“Lagi?” tawarnya dengan senyum nakal

“Iya dong, sip banget Mel!” pujiku.




Amel kembali masuk ke dalam dan mengoral penisku. Kunikmati pelayanannya sambil merem-melek dan bersandar santai. Penisku pun kembali tenggelam di mulutnya, terasa hangat dan basah. Amel mulai menggerakan kepalanya naik turun. dan bermain-main dengan kepala penisku. Lidahnya menyapu bagian bawah kepala penisku sehingga sensasi yang kurasakan sangat membius tubuh. Ia memasukan penisku lebih dalam lagi ke mulutnya. Kali ini ia di dalam air sedikit lebih lama dari sebelumnya.

“Wah kuat juga lu Mel” kataku setelah ia muncul ke permukaan.

“Udah yah...udah abis nafas nih” katanya sambil mengambil udara.

Kuraih tubuhnya dan ia duduk dalam dekapanku menyandarkan punggungnya ke dadaku. Kuciumi pundak dan lehernya, tanganku meremas lembut payudara dan menggerayangi tubuhnya. Amel memejamkan mata menikmati perlakuanku dan menggelinjang nikmat. Tangannya membelai wajahku dan tangan satunya meraih penisku. Perlahan ia mulai menggerakan tangannya dan mengocok penisku. Aku mulai terbang akan kenikmatan yang ia berikan padaku.

“Udah boleh gua masukin belum Mel?” tanyaku dekat telinganya.

“Eeemmm” ia mengangguk, “I want you Ric”

Ia menggerakkan tubuhnya menaiki penisku. Kurasakan kejantanku yang digenggamnya bersentuhan dengan kewanitaannya yang basah dan hangat dan mulai memasuki dirinya pelan-pelan. Setiap gerakan tubuhnya memberikan kenikmatan yang tak terlukiskan. Matanya setengah terpejam, mulutnya mengeluarkan desahan menggairahkan. Kami melakukannya dengan lembut dan penuh perasaan karena ini adalah hari jadian kami, kami tidak tergesa-gesa dan ingin menikmati setiap momen ini dengan kenangan indah. Amel bergerak naik turun di atas penisku, kadang memutar sehingga penisku serasa dipijat dan dipelintir. Rintihannya memancing gairahku naik semakin tinggi sehingga kulampiaskan ke payudaranya yang kuremas dan kupilin-pilin putingnya. Di tengah desahannya sesekali Amel menggumamkan namaku. Tangannya kini memeluk leherku dan sesekali membelai pipiku. Pergumulan kami berlangsung begitu lembut dan kami saling menghayatinya. Cukup lama juga kami berposisi seperti ini. Kurasakan genjotan Amel semakin tidak beraturan, kadang cepat dan kadang lambat pertanda sebentar lagi ia akan klimaks.

“Uhhh...gua…. amannn…. hari iniii… Ahhh….ahh….” ucapnya terbata-bata karena erangannya.




Kuraih dagunya dan ia menengok ke belakang, bibir kami bertemu kembali. Penisku berdenyut semakin cepat di antara himpitan dinding vaginanya. Aku merasa sebentar lagi akan keluar. Kusentakkan penisku dengan keras ke dalam vagina Amel. Vaginanya juga berkontraksi semakin cepat dan sesuatu yang hangat dan deras tiba-tiba menyelubungi penisku.

“Aaahh....aaaaaaa!! ia melepas ciuman dan mendesah sejadi-jadinya dengan tubuh menggelinjang

Aku menggeser tubuhnya ke depan sambil tetap kudekap, kini aku bertumpu pada lututku sehingga dapat lebih cepat memacu tubuhku dan segera menyusulnya ke puncak. Gerakanku yang makin cepat menciptakan gelombang riak di sekitar kami sampai akhirnya aku menyemburkan spermaku di rahimnya.

“Uuuugghhh...keluar Mel!” erangku saat mencapai klimaks.

Gerakanku semakin melemah hingga akhirnya penisku yang telah menyusut pun tercabut dari vaginanya. Aku ambruk bersandar di dinding kolam sambil memeluk tubuh Amel yang bersandar padaku. Hening...hanya terdengar suara nafas kami dan desiran air kolam dihembus angin. Kami menikmati sisa-sisa orgasme yang baru saja menerpa dengan saling membelai tubuh masing-masing. Tidak perlu kata-kata, setiap rabaan dan tatapan mata sudah berbicara dengan sendirinya. Bersatunya tubuh dan emosi membuat kami mengerti apa yang dirasakan pasangan masing-masing.

"Ric, lu menyesal kita jadi seperti ini? atau mungkin nanti?" Amel memecah keheningan yang terasa indah ini.

“Nggak Mel...terus terang, waktu dulu kita kerja kelompok itu, pernah terlintas dalam pikiran bahwa gua memang naksir lu. Cuma gua ngerasa ah mungkin perasaan sesaat tertarik ama penampilan fisik aja lah, lagian kan gua masih sama mantan gua dulu. Terus setelah gua ngekost di situ, kita makin sering ketemu, makin sering ngobrol, jujur aja Mel, di situ gua udah mulai ngerasa ada chemistry...” kueratkan genggaman pada tangannya, dan ia membalasnya juga, “cuma gua gak berani bertindak, masih trauma baru putus juga sih, lagian gua pengennya sih cewek yang lebih muda dari gua, jadi bagi gua lu itu seperti kakak atau temen, aneh sih emang sampai akhirnya gua ngerasa fall in...." lagi-lagi aku tidak dapat menyelesaikan kalimatku karena jari Amel sudah menutup bibirku dengan lembut.

“Don't say something you might regret it later, Ric", suara Amel terdengar lirih, "gua ngerti, dan gua juga ngerasain itu, tapi untuk saat ini....like you said, let us be only friend, but a very special friend"

Habis berkata Amel menarik wajahku ke arahnya sehingga bibir kami berpagutan, ia menciumku dengan lembut, penuh perasaan seakan-akan memberikan seluruh dirinya padaku melalui ciuman tersebut.

"Jangan bertanya-tanya lagi, Ric, biar waktu yang bicara, yang terjadi biarlah terjadi" bisik Amel di telingaku, kami berpelukan erat sekali sampai merasakan kehangatan tubuh masing-masing di tengah dinginnya air kolam.




"Omong-omong, gua haus nih, ah...eh..oh...terus dari tadi sih" Amel melepas pelukan dan tersenyum nakal, jarang-jarang ia tersenyum begitu.

“Eehh....gua aja Mel!” aku memegang lengannya ketika ia bangkit dan hendak menuju ke meja mengambil gelas kami.

Usai menghabiskan snack yang disediakan Pak Iqbal dan menghabiskan minuman kami, Amel mengajakku masuk kamar karena angin di sini mulai besar sehingga takut masuk angin. Setelah mengeringkan tubuh dengan handuk, Amel menggandeng tanganku ke lantai dua.

“Di sini Ric” katanya membuka pintu sebuah kamar.

Kamar itu cukup luas dengan didominasi wallpaper warna krem pada temboknya, sebuah ranjang king size di tengahnya lengkap dengan TV plasma, seperti kamar hotel saja nih. Amel membaringkan diri di tengah ranjang itu dan membuka kedua pahanya sehingga tampak belahan merah di tengah kerimbunan bulu-bulunya. Kugesek bibir kewataniaannya sedikit dengan ibu jariku, dan "Uh.." ia mendesah. Aku lalu menyusupkan kepalaku diantara kedua paha mulusnya, kubuka bibir kewanitaannya dan kujilati perlahan klitorisnya. Amel memegangi kepalaku dan mendesah keenakan

"Oh... Yah...aahh!”

Aku mulai menyedot dan menghisap vaginanya. Lidahku merasakan kedutan-kedutan dari wilayah sensitif itu, ia menjepit kepalaku lalu menuntun tanganku untuk mengerjai dadanya. Kuremas-remas perlahan payudaranya sambil menyedot-sedot klitorisnya perlahan, tangan Amel menjambak rambutku dan menekannya ke vaginanya.

Amel semakin keras meracau dan mendesah, "Terus Ric...terus...lebih dalem!!", ia menggelinjang keenakan dan menekan kepalaku ke vaginanya.

Kujilati klitorisnya, kumainkan lidahku di sana bergerak melingkar-lingkar, naik-turun, dan sesekali kusedot lembut klitorisnya serta gigitan kecil yang membuatnya sesekali menggeliat-geliat. Karena rangsangan lidahku vaginanya sebentar saja sudah kebajiran dan bibir vaginanya berkedut-kedut. Aroma khas kewanitaan tercium jelas olehku, sangat memabukkan dan merangsang. Lidahku masuk semakin dalam mengais-ngais vaginanya

Amel semakin merasakan arus listrik kenikmatan yang besar. Jilatanku kini lebih fokus pada titik sensitifnya, klitorisnya. Erangan Amel pun semakin menjadi-jadi yang membuatku semakin bernafsu menjilatnya. Kugigit lembut daging kecil itu, ia seperti meledak, dengan rasa nikmat yang ia peroleh. Kemudian kelanjutkan dengan jilatan-jilatan nakal di wilayah itu




“Oohhh Ric...bawa gua ke surgaaa” erang Amel semakin menggila, sepertinya ia sudah mau klimaks

Amel tidak bisa menahan lebih lama lagi. Kepalanya semakin mendongkak ke atas, tubuhnya semakin menggeliat, tangannya semakin menekan kepalaku dan kedua paha mulusnya semakin kepalaku.

“Aaaahhhhhh!!!” Amel berteriak, badanya bergetar hebat.

Vaginanya mengeluarkan cairan cinta yang langsung kuhisap. Setelah reda gelombang kenikmatan itu, ia melepaskan jepitannya dan tangannya, lalu terkulai lemas. Tampak peluh keluar dari keningnya, aku duduk di sampingnya yang masih mengangkangkan selangkangannya. Kuciumi ringan bibirnya dan kuremas-remas dadanya. Vaginanya nampak basah olah cairan kewanitaannya bercampur dengan liurku. Aku berguling ke samping sehingga menindih tubuhnya. Amel memeluk kepalaku dan mendorongnya ke wajahnya sehingga kami berciuman lagi.

“Ayo, mulai lagi dong!” ajaknya yang segera kuiyakan

Kedua tanganku membuka pahanya lebih lebar, penisnya berhenti di depan gerbang surganya.

“My angel….” bisikku di telinganya.

“Gua bukan angel Ric, angel ga punya nafsu, lu mau gua jadi makhluk kaya gitu?”

Kami tertawa sejenak, “tapi kalau terpancing terus dia akan punya Mel, seperti Lucifer contohnya”

“Oh berarti gua demon dong?” balasnya.

“Gak peduli lu angel atau demon Mel, atau apapun itu, gua akan tetap memilih lu”

“Oke deh...stop talking Ric, fuck me! Puasin gua, gua ga pernah sepuas hari ini”

“As you wish!” kataku seraya menekan penisku hingga melesak ke vaginanya yang sudah lembab dan basah membuatnya merintih dan memperat pelukannya. Kepala penisku terbenam sudah di kemaluannya, kutekan lagi agar semakin masuk.

“Awww....Ric!!” rintihnya

Kutarik pinggulku dan kudorong kembali. Gerakan itu kulakukan dengan lembut. Kedua tanganku memegang pinggulnya. Wajah Amel bersemu kemerahan menahan rangsangan. Aku pun semakin mempercepat gerakannya.

“Ahh… ahhh ahh…” erangan Amel semakin lama semakin menjadi, “masukin..sodok lebih keras… uuhh.”




Kurasakan penisku menggesek g-spot Amel sehingga ia semakin menggelinjang. Cukup lama aku menggenjot Amel dengan posisi ini hingga akhirnya...

“Ohhhh…gua maauuu keluarrrr…aaahh...aahh!”

Belum sempat ia melanjutkan desahannya, aku menggenjotnya semakin cepat. Tubuh Amel makin mengejang.

“AAAHHHH.... AHHHHH...Ric...!!!” erangan Amel begitu keras seakan tidak peduli suaranya mungkin terdengar sampai luar kamar.

Jepitan vaginanya semakin kuat dan berkedut. Aku terus menggenjot vaginanya, penisku merasakan siraman hangat dari dalam vaginanya. Aku baru menghentikan genjotanku ketika tubuhnya mulai melemas lagi untuk memberinya isttirahat sejenak setelah ia mendapatkan orgasme yang kesekian kalinya. Tubuh kami sudah dibasahi keringat, walaupun AC di kamar ini terasa sejuk. Sekitar 30 detik tubuh Amel bergetar lemah dan bagai tak sadarkan diri. Setelah istirahat sejenak, aku membalikan tubuh Amel. Kali ini kami melakukan dalam posisi doggy style. Kuperhatikan punggung Amel begitu mulus tanpa cacat, aku semakin bernafsu. Maka aku pun langsung memasukkan penisnku dan menggenjotnya dengan cepat.

“Uhhh yessssss….Yeesshhh Ric....yes.”

Kupegangi kedua tangan Amel sehingga kini ia hanya bertumpu pada kedua lututnya. Tusukanku semakin dalam dan vaginanya semakin erat mencengkram penisku, sungguh terasa nikmatnya. Setelah beberapa lama, aku melepaskan tangannya, lalu menampar bongkahan pantat Amel yang semok.

“AWW!!”

Amel merasakan perih dan nikmat dalam waktu yang bersamaan. Kali ini yang menjadi sasaranku adalah kedua payudaranya yang bebas menggantung, kedua puting Amel habis kukerjai dengan pelintiran, cubitan, dan gesekan sehingga ia semakin menggila. Tangan kiriku berpindah tempat menggesek klitorisnya. Tubuhnya makin menggelinjang, kurasa ia akan segera kembali klimaks. Tubuhnya ambruk, tangannya tidak kuat menahan. Benar saja, vaginanya berkontraksi lebih cepat dan mengeluarkan semprotan di dalam menyiram penisku.

“Aaaaahhh!” Amel menjerit lagi, tapi kali ini teriakannya tidak sekeras orgasme yang ia dapat sebelumnya.

Amel kembali diterpa gelombang orgasme, ia memejamkan matanya, punggungnya terlihat mengkilap karena keringatnya. Kutarik penisku hingga lepas dan kubalikan tubuhnya sehingga kembali ke posisi telentang. Kulihat nafasnya naik turun seirama dengan naik turun buah dadanya yang dihiasi oleh butiran-butiran keringat yang belum hilang meskipun dihembus oleh hawa AC yang sejuk.

"Ric, gua puas banget!" kata Angel merebahkan kepalanya di dadaku sambil memainkan putingku, “eh lu belum keluar ya Ric” tanyanya melihat penisku yang masih tegak.

“Gapapa Mel, soalnya lu keliatannya dah capek, gua ga mau egois lagian masih banyak waktu kan” kataku membelai rambutnya.

“Jangan gitu dong, kesannya gua berutang ke lu Ric, gini aja, lu tutup mata, nikmati cumbuanku, oke?"




Aku mengangguk dan memejamkan mataku, ternyata dengan mata terpejam terasa lebih nikmat sekali sapuan lidah Amel di seluruh tubuhku, mungkin karena konsentrasiku yang terpusat, apalagi saat jari tangannya yang lembut menggenggam senjataku dan mengocoknya dengan cepat. Aku semakin melayang setengah sadar, semakin lama kocokan tangan Amel pada penisku semakin cepat. Sambil terus mengocok, lidahnya yang basah dan hangat memainkan putingku. Seluruh pergelangan sendiku bagai tertarik dan telah mengumpul di ujung penis. Tidak sampai lima menit saat kocokan tangan Amel semakin cepat, dan ujung dadaku dihisap kuat, seluruh tubuhku bergetar kuat dan muncratlah spermaku, tidak banyak memang sehingga hanya membasahi tangan Amel. Ia beralih ke penisku dan mengulumnya hingga bersih, setelah itu ia menindih tubuhku.

“Sekarang puas kan?” tanyanya

“Puas banget Mel” jawabku mengelus rambutnya, mata kami saling bertatapan, kutatapi lama-lama sorot matanya yang lembut, aku merasakan sesuatu dalam sorotan mata itu, sebuah cinta...cinta yang aneh memang, membuka sebuah lembaran baru dalam kehidupan cinta dan seksku.

Dalam ngobrol-ngobrol pasca bercinta, kami saling menceritakan pengalaman cinta dan awal kehilangan keperawanan kami masing-masing. akhirnya Amel bercerita juga tentang kisah cintanya yang kandas,

“Dia seorang dokter muda Ric, lulusan dari kampus kita juga, mapan dan punya prospek cerah, kita saling cocok satu sama lain, dia udah ngenalin gua ke orang tuanya dan mereka juga welcome ke gua. Jadi gua yakin dialah yang akan menjadi pendamping gua kelak, waktu itu gua masih terlalu naif mengira mereka akrab cuma sebatas rekan kerja...”

“mereka?” tanyaku belum mengerti.

“Perempuan itu...sesama dokter, janda beranak satu yang ga tau diri itu” nada suara Amel terdengar sedikit emosi, “sampai akhirnya gua ngebaca SMS di hapenya terus minta penjelasannya, dari situ gua baru sadar kalau selama ini gua diduain”

Agaknya aku mulai mengerti apa yang terjadi antara Amel dan Dokter Lea. Terus terang aku ingin tahu lebih banyak, tapi kuurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut, takut ia marah lagi seperti tadi siang, mungkin nanti kalau waktunya tepat aku akan mendengar ceritanya lebih lanjut. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menghiburnya, kupeluk erat tubuhnya dan kucium dia dengan ciuman yang penuh kasih sayang, bukan nafsu semata. Tak lama setelah itu, kami pun tertidur berpelukan tanpa sehelai benangpun selain selimut lebar yang menutupi tubuh kami.




##########################




Aku terbangun ketika langit di luar sudah gelap, kulihat jam telah menunjukkan pukul 18.20. Amel sudah tidak di sampingku lagi, tapi di buffet samping ranjang ini sudah terletak segelas air putih. Dengan malas aku menggerakkan tubuhku yang masih terasa penat hingga duduk bersandar di kepala ranjang, lalu kuraih gelas itu dan kuteguk isinya hingga habis. Uuuhh...terasa lebih segar memang.

“Mel...Amel!!” kupanggil namanya namun tidak ada yang menyahut.

“Mana ya dia?” aku bergegas turun dari ranjang mencari sesuatu untuk menutupi tubuhku karena pakaianku semua masih di pinggir kolam.

Aku mendapati sebuah kimono di gantungan baju dekat kamar mandi. Kukenakan kimono itu dan keluar dari kamar untuk mencarinya. Baru saja hendak melangkah turun dari tangga, aku sudah mendengar suara desahan wanita dari ruang tamu. Dengan deg-degan aku mencari tempat mengintip dari tangga berbentuk melengkung itu. Mataku seperti mau copot melihat Pak Iqbal, penjaga rumah ini, tengah berlutut menjilat-jilat vagina Amel, jarinya juga menggesek dan mengorek-ngorek wilayah kewanitaan gadis yang baru jadian denganku itu. Saat itu Amel dalam posisi ngangkang di sofa dan mengenakan kimono pink tanpa dalaman apapun.

“Heeeegggghhh …. ssshhh …sssshhh…” kudengar Amel mendesis-desis dengan nafas memburu.

Tangan kiri Pak Iqbal bergerilya menyusup ke balik kimono Amel dan meremasi payudaranya. Amel tampak menikmati perlakuan Pak Iqbal dengan mata terpejam sambil meremas-remas rambut pria itu. Entah mengapa aku selalu menantikan saat-saat Amel digarap, dikerjai dan disetubuhi secara oleh orang lain terutama orang-orang kasar kelas bawah seperti Pak Iqbal. Tangan si penjaga rumah menarik lepas tali pinggang Amel sehingga kimono itu terbuka.

“Tiduran aja Non!” suruh pria itu sambil berdiri dan membuka celananya, penisnya yang sudah ereksi mengacung tegak begitu celananya dibuka.

Sedangkan Amel kini terbaring telentang di sofa dengan tubuh tinggal memakai kimono yang sudah terbuka itu. Pak Iqbal menindihkan tubuh kurusnya pada Amel yang sudah terbaring pasrah di sofa. Sambil memperbaiki posisi tubuhnya agar senyaman mungkin, lelaki tersebut dengan kedua tangannya membuka kaki Amel dan segera menempatkan badannya tepat berada di tengah, di antara kedua paha mulus Amel yang telah terkangkang itu. Dengan tangan kirinya memegang batang penisnya yang besar itu, lelaki tersebut mulai mengarahkan penisnya ke arah vagina Amel yang siap menyambutnya.




Begitu kepala penis bertemu dengan belahan bibir vagina luarnya, badan Amel nampak bergetar dan kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, desahan lirih terdengar dari mulutnya. Dengan perlahan-lahan Pak Iqbal mulai mendorong penisnya memasuki relung tubuh Amel yang paling sensitif itu. Seiring dengan masuknya penis Pak Iqbal, mata Amel terlihat membelakak dan rintihan nikmatnya terdengar jelas keluar dari mulut mungilnya. Pria itu menggerakkan pantatnya maju mundur dengan perlahan-lahan, sambil mulutnya mencium bibir ranum Amel. Tiba-tiba dengan suatu sentakan keras, pria itu menekan pinggulnya dan terus mendorong penisnya, sehingga terbenam seluruhnya ke dalam liang vagina Amel.

“Aaahhh!” terdengar jeritan halus kesakitan yang juga mungkin kenikmatan keluar dari mulut Amel.

Selanjutnya pelan-pelan pria itu mulai menggerakkan keluar masuk penisnya, sofa itu berderit-derit karena gerakan dan tekanan tubuh mereka. Kembali rintihan, desahan, dan lenguhan kenikmatan mereka terdengar memenuhi ruangan, semakin lama semakin keras. Tubuh Amel menggelinjang dalam dekapan Pak Iqbal, kadang-kadang terlihat ia mengangkat kepalanya, giginya menggigit bibir bawahnya menahan kenikmatan yang melanda seluruh tubuhnya, kadang-kadang dia menjerit kecil ketika si penjaga rumah menusuk dengan keras. Pak Iqbal semakin cepat menggoyang pantat kerempengnya dan Amel mendesis-desis tak karuan

“Enak Non? Non suka kan Bapak entot kaya gini?” tanya Pak Iqbal sambil terus memacu tubuhnya

“Enak Pak...enak bangetthh...aaaghhhh!”

Tak lama kemudian akhirnya Amel mengejang disertai erangan panjang serta pantatnya tersentak-sentak dan kedua kakinya mengejang kaku. Namun Pak Iqbal masih aktif mengeluar masukkan batang kemaluannya dalam tempo sedang. Terus terang, rasa cemburuku timbul saat melihat Amel bercinta dengan penjaga rumah yang sudah bangkotan itu, tetapi di satu sisi aku juga menikmatinya. Tidak tahan, tanganku memegang penisku yang sudah tegang sejak tadi. Lima menit berlalu pria itu menyenggamai Amel, perlahan-lahan dia melenguh makin tak karuan, gerakanya mulai tak beraturan apalagi Amel juga ikut menggoyangkan pantatnya. Akhirnya dengan satu lenguan panjang, Pak Iqbal memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina Amel. Dia berteriak histeris menikmati puncak orgasmenya.




Beberapa saat kemudian, goyangan mereka mereda dan berhenti, keduanya saling peluk, suara nafas mereka yang ngos-ngosan terdengar olehku. Amel lalu mendorong tubuh Pak Iqbal yang menindihnya, ia membenahi kimononya tapi tidak mengikat tali pinggangnya dan berjalan ke arah dispenser. Diambilnya gelas kosong lalu ia menuangkan air ke situ dan meminumnya. Saat itulah aku turun dari tangga menghampiri mereka. Kulihat reaksi mereka tidak terlalu kaget melihat kedatanganku.

“Hai!” sapaku

“Eh...Den Rico” sapa Pak Iqbal

“Udah bangun Ric?” Amel menengok ke samping dan meletakkan gelasnya.

Tanpa menjawab kuraih pinggangnya dan kubawa tubuhnya ke dekapanku, mata kami saling tatap tanpa berkata-kata, tanganku bergerak melepaskan kimononya dan kulempar ke atas meja ruang tamu. Amel telah bugil dalam dekapanku.

“Kenapa gak bangunin gua malah main duaan aja Mel?” tanyaku dengan menatap tajam matanya.

“Lu tidur lelap banget tadi, gua kasian bangunin lu, lagian kan kasian Pak Iqbal dari tadi cuma jadi penonton kita terus” jawabnya beradu tatapan denganku.

“Main duaan aja kan kurang seru, gimana kalau tigaan Mel” kataku lalu mengangkat tubuhnya.

“Aw Ric! Jahat lu, masa mau ngeroyok gua!” jeritnya manja.




Kuturunkan tubuhnya di sofa di samping Pak Iqbal dalam posisi duduk.

“Ayo Pak! Kita main bareng, jangan malu-malu!” ajakku penuh semangat, lalu melumat payudaranya.

“Hehehe...si aden suka main keroyok ya, Bapak sih ayo aja, udah ngaceng lagi nih!”

Sebentar saja tubuh telanjang Amel sudah digerayangi oleh tangan-tangan kami, lidahku dan Pak Iqbal juga bergerilya menjilati kulitnya yang putih mulus itu. Tangan keriput Pak Iqbal membelai-belai payudara Amel dan memberi tanda agar ia menaiki tubuhnya. Rupanya pria setengah baya ini minta dilayani lagi. Amel lalu menempatkan diri di atas tubuhnya. Mula-mula ia berjongkok di atas pinggang Pak Iqbal dan memasukkan penisnya dengan dibantu oleh tangan kanannya. Setelah penis tersebut masuk, perlahan-lahan ia menaik-turunkan tubuhnya di atas tubuh Pak Iqbal. Pria itu menyambut gerakan Amel sambil meremas-remas payudaranya. Beberapa saat kemudian Amel merebahkan tubuhnya di atas tubuh pria itu. Gerakan mereka semakin cepat, sesekali pantat Pak Iqbal terangkat ke atas, sementara Amel menurunkan tubuhnya dan menekan kuat-kuat hingga penis pria itu menancap dalam-dalam. Kuperhatikan bagaimana penis Pak Iqbal masuk keluar vagina Amel.

“Den Rico, tuh boolnya Non Amel kan nganggur tuch. Gimana kalau dimasuki kontol?” sahut Pak Iqbal

“Ya Ric, gua baru mau usul gitu. Tapi jangan kasar ya!” kata Amel.

Aku pun mengambil posisi. Perlahan-lahan kuelus-elus vagina Amel yang basah oleh cairannya. Jari-jariku kemudian mengarah ke pantatnya. Dengan cairan vaginanya kubasahi lubang belakangnya. Telunjuk jari kananku kumasukkan pelan-pelan ke sana.

“Yaaah gitu Ric, enak tuch…. Lebih dalam lagi!!! Ayoooo!!!!” desahnya dengan suara yang serak-serak basah karena dilanda nafsu.

Jariku masuk makin dalam ke pantatnya membuat gerakan tubuhnya semakin tak menentu. Dengan vaginanya dirojok penis Pak Iqbal dan jariku memasuki pantatnya, Amel berpacu menuju puncak kenikmatan.




“Ric, jangan cuman jari lu dong! Kontolnya juga... ayooo dong!!!” pintanya.

Sungguh gadis satu ini berbeda kalau sedang bercinta dengan kesehariannya yang terlihat alim. Kedua paha Amel kini berada di bagian luar paha si penjaga rumah, membuka lebar-lebar celah vaginanya bagi masuknya pria itu. Kuposisikan kedua pahaku menjepit paha Amel. Kepala penis kubalur dengan air ludahku dan kumasukkan perlahan-lahan ke liang belakang Amel. Mula-mula agak susah, sebab sempit, cairan kewanitaan dan air liurku cukup membantu dalam proses penetrasi anal itu.

“Sssshhhh, ohhhh Ric!” rintih Amel

“Sakit Mel?”tanyaku menghentikan gerakanku karena tidak tega melihatnya kesakitan.

“Rada...udah terusin aja, nanggung dong dicabut...ssshhh!” rintihnya.

Aku pun memasuk-keluarkan penisku ke dalam analnya dengan perlahan. Sedang dari bawah, penis Pak Iqbal masih merojok-rojok vaginanya dengan kecepatan pelan sambil menungguku penetrasi. Amel yang terhimpit berada di antara tubuhku dan si penjaga rumah melayani kami berdua sekaligus mengayuh biduk kenikmatan. Penisku kini telah menancap penuh di duburnya dan mulai bergerak maju-mundur perlahan. Gerakan Pak Iqbal semakin cepat, mungkin tak lama lagi ia akan orgasme. Amel pun semakin liar menggerakkan pinggul dan pinggangnya, apalagi di bawah sana Pak Iqbal menyusu pada payudaranya secara bergantian. Jeritan Amel yang begitu kuat seperti tadi kembali memenuhi ruang tamu. Inilah enaknya bercinta di rumah besar dengan lingkungan sepi seperti ini, suara rintihan dan jeritan kami dari dalam sini takkan terdengar keluar sehingga kami bebas mengekspresikan kenikmatan ragawi ini dalam erangan dan jeritan. Kedua tangan Amel memeluk tubuh tua Pak Iqbal erat-erat sambil menekan tubuhnya hingga dapat kupastikan penis Pak Iqbal masuk sampai pangkalnya, sedangkan penisku kugerakkan berirama ke dalam duburnya.

“Iyah...Ric...aaahh...aaahh...terussshh...enak!!” pinta Amel.

Kedua pundak Amel kupegang kuat sambil menghentakkan penis sedalam-dalamnya ke duburnya. Kami bertiga secara cepat melakukan gerakan menekan. Pak Iqbal dari bawah, Amel di atasnya menekan ke bawah, aku dari atas tubuh Amel menekan dalam-dalam penisku ke dalam duburnya.

“Ooougghh…gua keluar lagi! Ssssshhhhhh …akkkkhhh!!” jerit Amel dengan tubuh menggelinjang.

Kurasakan betapa jepitan duburnya begitu kuat, sama seperti vaginanya tadi, menjepit penisku. Tak berapa lama, Amel berdiri melepaskan diri dari himpitanku dan Pak Iqbal. Ia lalu berlutut tepat di depanku. Semula aku tak mengerti maksudnya. Kuelus-elus punggung, pinggul dan payudaranya dari belakang tubuhnya. Tangan kanannya meraih penisku dan mengarahkannya ke duburnya lagi.

“Wah, masih pengen ternyata?” kataku dalam hati.

Penisku kembali memasuki duburnya dalam posisi kami berdua berlutut. Lalu ia mengisyaratkan aku merebahkan tubuh ke belakang. Aku turuti permintaannya dan dengan penis tetap berada di dalam duburnya, aku berbaring terlentang sedang Amel kini ada di atasku dalam posisi sama-sama terlentang. Ia mengambil inisiatif bergerak menaik turunkan tubuhnya hingga penisku masuk keluar dengan bebasnya ke dalam duburnya.




Dari atas sana, Pak Iqbal bangkit mendekati kami berdua dan kembali mengarahkan penisnya ke vagina Amel. Kini gantian aku yang berada di bawah, Amel di tengah, dan penjaga rumah itu di atas Amel. Desahan, rintihan dan jeritan kami silih-berganti dan kadang-kadang bersamaan keluar dari bibir kami bertiga. Tanganku kumainkan meremas-remas payudara Amel dari bawah, kupilin-pilin putingnya yang sudah mengeras itu. Beberapa saat kemudian, Pak Iqbal melenguh,

“Ayo Non Amel, Bapak mau keluar nih...uuhhh!!!!”

“Tunggu bentar!” kata Amel, dan tiba-tiba ia bangkit hingga penisku terlepas dari pantatnya. Dengan cepat ia tolakkan tubuh Pak Iqbal hingga jatuh terbaring, lalu ia berlutut di antara paha pria itu dan menggenggam penisnya sambil memasuk-keluarkan penis itu ke dalam mulutnya. Sebentar saja, pria setengah baya itu pun memuncratkan cairan sperma mengenai wajah dan mulut Amel, tetapi ia tidak jijik menjilati cairan yang keluar itu. Aku teringat lagi perkataan Pak Kasimun, si penjaga kost, bahwa Amel memang suka menelan sperma. Dengan sabar aku menunggunya menyelesaikan cleaning service.

Tak lama Amel menoleh ke arahku sambil berkata, “Ric, lanjut yuk, masih kuat kan!”

Ia kemudian menungging di hadapanku sambil terus menjilati penis Pak Iqbal yang semakin lemas. Kutempatkan tubuh di belakang Amel lalu kumasukkan kembali penis ke dalam duburnya.

“Ric, jangan main belakang melulu dong, sakit tau, ntar gua jalannya jadi ga enak” katanya. “Eh oke deh, ga main belakang lagi nih” kucabut penisku dari sana dan kumasukkan ke dalam vaginanya yang basah.

Cairannya masih banyak tapi penisku tetap dijepit kuat sewaktu memasuki vaginanya. Penisku pun mulai bergerak maju mundur di dalam gua Risa. Sementara itu tanganku juga terus bergerilya di gunung kembarnya.

"Ahh...Ric...dalem lagi.. Ohh" Amel terus menggelinjang ke sana ke mari.

"Oh.. Oh...gua gak tahan lagi...mau keluar lagi...lebih keras dong... Ohh" erang Amel sambil terus mengocok penis Pak Iqbal

"Ahh.. Uhh.. Uh.. sama...gua juga Mel" lenguhku menahan nikmat

“Aaaaggghhh, nikmatnyaaahhhh!!” jepitan vaginanya begitu luar biasa saat jeritannya terdengar, hingga tak bisa lagi kutahan aliran spermaku kembali memasuki kepala penisku dan keluar tanpa tedeng aling-aling.

“Aaaahhh, Annn ….. gua muncrat Mel!” erangku sambil memeluk tubuhnya dari belakang dan meremas-remas kedua payudaranya.

Kami bertiga lunglai dalam keadaan telanjang, aku dan Amel di atas permadani dan Pak Iqbal di sofa. Lelehan cairan kenikmatan kami bertiga bertebaran di sofa kulit itu, sepertinya itu bukan yang pertama mengingat tempat ini sering menjadi ajang pesta seks.

“Ric, laper ga?” tanya Amel lemah, “gua udah titip beliin makan ke Pak Iqbal, tuh di meja sana kalau mau makan”

“Belum terlalu sih sekarang, lu aja duluan Mel” kataku sambil meraih kimononya di sofa lalu menutupi tubuh telanjangnya.

Aku mengecup ringan dahinya lalu bangkit berdiri dan memakai kembali kimonoku

“Kemana Ric?” tanya Amel melihatku berjalan ke arah kolam.

“Mau duduk di luar dulu, cari angin sambil ngerokok” kataku sambil melangkah keluar.




Aku keluar ke pinggir kolam, langit sudah gelap, hembusan angin sepoi-sepot menerpa air kolam, suara jangkrik kodok terdengar di kompleks yang jauh dari hiruk pikuk jalan raya ini. Kuraih ceana panjangku yang masih tergantung di kursi santai, kuambil rokok dan lighter dari kantongnya. Sambil duduk bersandar dan menatap langit, aku menghirup rokokku dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya. Kehidupan cinta memang aneh, aku sudah jadian lagi, ya aku tidak bisa menutupi lagi bahwa aku mencintai Amel, tapi aku malah bergairah melihat pacarku digarap orang lain. Beberapa saat kemudian kulihat Amel menyusulku, ia sudah memakai kimono pinknya dan rambutnya sudah digulung ke atas, membuatnya terlihat makin cantik. Aku menggeser tubuhku untuk memberinya tempat di kursi santai yang lumayan lebar itu. Ia tersenyum dan duduk di sebelahku.

“Ric, lu cemburu yah gua tinggal sendiri terus gituan sama Pak Iqbal?” tanyanya.

“Nggak kok Mel. Gua cuma gak habis pikir, koq bisa-bisanya kita jadian sementara kita malah cuek ngeliat pasangan kita ML sama orang lain, terus terang Mel...gua kok malah nafsu ngeliat lu gituan sama orang lain” kataku sambil menatap wajahnya.

Amel menatapku sebentar, lalu tiba-tiba ia tertawa lepas, aku suka melihatnya ketika sedang tertawa seperti itu karena selama ini ekspresi seperti itu memang jarang sekali.

“Ric, hidup ini memang terkadang aneh ya” katanya berfilsafat. “sekarang biar kita jalani aja dulu, daripada pacaran, bilang cinta, lalu selingkuh, itu kan nyakitin banget. Omong-omong...gua suka keterusterangan lu. Yang lain boleh aja memakai tubuh gua, tapi hati gua cuma lu yang bisa memiliki” katanya menggenggam telapak tanganku, kami terdiam saling genggam tangan dan menatap langit selama beberapa saaat.

Tangaku baru saja meraih rokok dari asbak di meja ketika ia meraih tanganku dan mengambil rokok itu. Kukira ia mau ikut mengisapnya tapi ternyata ia malah mematikan puntung rokok itu dengan menekannya di asbak.

“Ric...kurangin yah, stop lebih baik, gua gak suka cowok perokok” katanya memegang dadaku, “buat kesehatan lu juga, karena lu itu...my special one”

Aku mengangguk dan mata kami saling tatap lagi. Aku baru tahu, walau sehari-harinya terkesan cuek, Amel begitu perhatian terhadap orang yang ia cintai. Tatapan matanya sungguh menakjubkan mengandung perasaan terdalamnya yang tidak ia ungkapkan lewat kata-kata.




“Eh iya” tiba-tiba ia mengeluarkan BB-nya dari kantong kimono, “smile dong Ric!” ia raih kepalaku mendekatinya dan mengarahkan lensa kamera BB-nya ke arah kami.

“Yah...jelek, lagi-lagi...” ia kurang puas dengan hasilnya dan memotret sekali lagi, “nah ini bagus, foto pertama kita Ric” ia menunjukkannya hasil jepretan keempat padaku, bagus juga walau aku senyumnya agak maksa.

Amel lalu merebahkan kepalanya di dadaku dan jari-jarinya bermain lembut di pahaku.

“Malam ini kita tidur di sini yah!” katanya

“Emang boleh Mel?”

“Sebenernya ga sih, harusnya minta ijin dulu, tapi mumpung Om Dedi sama istrinya lagi ga di tempat, terus Pak Iqbal udah gua kasih jatah tadi, gua pengen malam ini cuma buat kita aja, lu mau kan?”

Aku tidak menjawabnya dengan kata-kata, tetapi mengangkat dagunya dan mencium bibirnya. Ciuman membara yang kembali terjadi di antara kami membuat kami berdua kembali hanyut dalam gelora asmara. Kurasakan dadanya yang semakin kencang ketika kami saling berdekapan. Entah berapa lama kami menikmati ciuman itu. Jari-jarinya bermain di dadaku sedangkan jari-jariku membelai tubuhnya. Ia naik ke tubuhku, kami saling raba dan saling berpelukan erat

“Lu mau main lagi?” tanyanya sambil memandang wajahku.

“Lu gak capek emang Mel?”

Ia menggeleng “Demi kamu, my special one...gua mau lagi,” jawabnya.

Aku hanya tersenyum melihatnya. Ia meraih penisku dari balik kimono dan mulai mengocoknya. Benda itu pun mulai bangun dari tidurnya.

“Udah bangun lagi adik lu Ric” ia tersenyum nakal dan semakin bernafsu.

Tangannya kini bermain-main dengan kedua buah zakarku. Amel merayap turun dengan gerakan erotis hingga berlutut di antara kedua pahaku. Ia kecup kepala penisku lalu mulai menjilati dari bagian kepalanya itu, sisi kanan dan kiri sampai kedua zakarku. Aku menikmati pelayanannya dengan wajah menatap langit

“Ohhh...” aku mendesah

Kedua tanganku memegang kepala Amel menahan nikmat. Sewaktu ia memasukan penisku ke dalam mulutnya, tanganku menekan kepalanya sehingga kulumannya semakin dalam.

“Ahhhh....enak Mel” sekali lagi aku mendesah nikmat.

Amel mengeluarkan penisku dari mulutnya untuk membetulkan posisinya, mengecup sekali lagi kepala penisku, lalu mengulumnya lagi. Kali ini ia membuka mulutnya sampai batasnya. Penisku masuk semakin dalam sampai akhirnya tiga perempat dari seluruh batangan itu tertelan olehnya. Lidahnya keluar dan menjilat bagian bawah penisku. Matanya menatap nakal padaku, sungguh liar sekali. Aku mencoba fokus dan bertahan dari serangan Amel.




Setelah beberapa lama, ia akhirnya mengeluarkan penisku. Kali ini ia naik ke selangkanganku sambil tangannya memegangi penisku yang sudah basah dan keras itu. Sambil satu tangan berpegangan pada pundakku, ia mengarahkan senjataku ke vaginanya. Perlahan-lahan ia menyelipkan batang penisku ke dalam liang vaginanya. Aahh.. aku merasakan kehangatan dan sensasi yang luar biasa saat bibir kewanitaan Amel menghimpit penisku. Pelan-pelan ia menurunkan tubuhnya sehingga penisku melesak semakin dalam, dan akhirnya amblas ke dalam vaginanya. Uhh.. rasanya ketat dan lembab sekali di dalam sana.

"Sshh...puasin gua Ric, please", Amel mendesah di telingaku.

Pelan-pelan ia mulai menaik-turunkan tubuhnya. Ohh... nikmat sekali goyangannya, aku menikmatinya sambil merem melek. Kuraih kimononya dan kupeloroti lewat kedua bahunya sehingga payudaranya terbuka sudah. Tanganku yang meremas kedua gunung kembar itu.

"Aahh.. ahh.. Mel...enak banget", aku merasakan tubuhku akan meledak menahan rasa nikmat yang luar biasa.

Aku menegakkan tubuhku dan memeluk tubuhnya, kuelus punggungnya yang halus, mulutku mengenyoti payudara dan putingnya.

“Ric, gua udah mau dapet lagi. Turunin gua dong! Sekarang lu yang goyang”

Kuturunkan tubuhnya dan ia mengambil posisi nungging di kursi santai itu dan memintaku memasuki tubuhnya dari belakang. Kuarahkan penis ke vaginanya lalu memaju-mundurkan tubuhku sambil meremas-remas kedua payudaranya dari belakang. Erangan Amel semakin kuat ketika hunjaman penisku semakin cepat masuk-keluar vaginanya. Aku tidak ingat sudah berapa lama kami melakukan itu, ketika tiba-tiba kurasakan dinding vaginanya kembali berdenyut-denyut tanda akan orgasme lagi.

“Terusss...iya dikit lagi...aahhh...aahhh!!!” jeritnya sambil menghempaskan pantatnya kuat-kuat ke arah pahaku.

Cairan kewanitaannya yang hangat mengucur deras, tubuhnya mengejang selama beberapa saat. Aku merasakan kejantananku bagai sedang dipilin dan dihisap oleh sebuah mulut yang amat kuat sedotannya sehingga aku pun tak tahan lagi. Spermaku tumpah mengisi rongga kewanitaan Amel yang sedang megap-megap dilanda orgasme. Kami mengerang dan mengejang merasakan siraman birahi panas yang seperti hendak menerobos setiap pori-pori di tubuh kami sebelum akhirnya terkulai di kursi santai. Kami bersetubuh tidak terlalu lama memang, sekitar seperempat jam, tapi tubuhku terasa lemas karena hari ini terlalu sering orgasme. Kami berpelukan dan berciuman mereguk seluruh kenikmatan dari persetubuhan itu. Selama beberapa saat, kami hanya terdiam sambil berpelukan, saling memandang, lalu berciuman dengan lembut.

“Makan yuk, laper nih!” ajak Amel

Kami pun menyantap bakmi yang dipesan Amel lewat Pak Iqbal sambil ngobrol. Setelahnya dilanjutkan mandi bersama, Amel sungguh mengisi kekosongan hatiku, obrolan kami cocok satu sama lain, kurasakan ia juga merasakan hal yang sama, senyumannya hari ini sejak jadian di kolam tadi nampak begitu lepas dan bahagia. Malam itu kami tidur berdua di kamar berinterior mewah tempat kami memadu kasih tadi tanpa selembar benang pun di bawah selimut yang hangat

"Mel, jujur yah, malam ini gua benar-benar menikmati saat indah bersama lu." kataku membelai rambut panjangnya.

"Gua juga" balasnya.

Sebelum terlelap kami masih sempat melakukannya sekali lagi dengan tempo lembut dan relatif singkat.




#######################

Keesokan paginya, jam delapanan kami bersiap untuk meninggalkan rumah ini.

“Mel bentar dulu, gua kok mendadak sakit perut nih, tunggu bentar ya” kataku, “Pak nanti dulu, mau ke WC dulu saya!” sahutku pada Pak Iqbal yang bersiap membukakan gerbang.

“Yee...bukannya dari tadi, cepetan ya!” kata Amel.

“Iya sori, tunggu aja” kataku sambil bergegas kembali ke dalam.

Aku memang benar mau ke toilet tapi cuma pipis dan setelahnya aku tidak langsung kembali ke luar melainkan mengintip keluar melalui jendela dekat pintu depan. Aku ingin tahu apakah bakal terjadi sesuatu antara Amel dan Pak Iqbal jika kutinggal. Oh my God, seperti yang kuduga, mreka terlihat sedang saling berpelukan mesra. Amel berdiri bersandar pada dinding, Pak Iqbal sedang mencium bibirnya dan ternyata dibalas Amel dengan menundukkan wajahnya karena tubuhnya yang lebih jangkung dari pria itu. Mereka saling berpagutan penuh gairah. Tangan Pak Iqbal mulai merayapi lekuk lekuk tubuh Amel. Kadang tangannya meremas bongkahan bokongnya dan perlahan merayap ke atas dan sampai ke gundukan bukit buah dada Amel dan dengan remasan perlahan tapak tangannya lalu membuat gerakan meremas dan memutar seperti memijat. Kemudian tangan pria itu mulai menyingkap kaos Amel. Amel melepas ciuman sebentar untuk menggerakkan tangannya meloloskan kaosnya lalu ia letakkan di jok motorku. Pak Iqbal lalu menyingkap bra Amel ke atas sehingga tersembulah kedua gunung kembarnya yang putih mulus dengan putingnya yang telah mengeras di wajah pria itu. Dengan perlahan lidah Pak Iqbal menyapu gundukan bukit buah dada Amel dan kadang menghisap perlahan puting Amel. Dari balik jendela kulihat Amel memejamkan matanya dan mulutnya mengap-mengap. Libido Amel telah naik, dia menggelinjangkan badannya ketika pria itu terus menghisap putingnya sambil tangan kanannya menyusup masuk ke balik celana panjangnya mengobok-obok selangkangannya, namun sebentar kemudian pria itu mengeluarkan tangannya dan mulai membuka ikat pinggang dan resleting celana Amel. Wah, gila, pria itu sepertinya ingin menelanjangi Amel, memang sih pagar tinggi itu berlapis canopy sehingga kegiatan mereka tidak akan terlihat dari luar tapi nekad juga berbuat seperti itu. Timbul semacam bara cemburu yang sangat merangsang hasrat birahiku. Namun aku tidak berniat menghalangi pergumulan mereka. Kecemburuanku itu justru menginginkan agar pencurian nikmat syahwat ini terus berlanjut. Aku justru sangat berhasrat menyaksikan ekspresi wajah pacarku yang baru saja jadian itu digarap pria lain. Aku ingin mendengar erangan nikmatnya saat penis pria lain menghujam-hujam vaginanya. Tanganku mulai meraba selangkanganku memegangi penisku yang telah ereksi. Amel telah telanjang sekarang, sebagian pinggulnya yang putih mulus itu telah berada di dalam genggaman tangan keriput Pak Iqbal. Tangan itu terus mengusap dan membelai paha jenjangnya. Sementara tangan kiri Pak Iqbal kulihat membuka celananya sendiri dan kulihat tangannya mengeluarkan kejantanannya yang ternyata telah menegang dan besar lalu mengarahkan tangan Amel untuk memegang batang penisnya.




Dengan terus berciuman, Amel dengan perlahan memegang batang kemaluan tersebut, dan secara mulai mengurut batangan itu ke atas ke bawah. Keduanya saling memberikan rangsangan kepada pasangan masing-masing. Tak lama kemudian Pak Iqbal mengangkat kaki kiri Amel dan mengarahkan penisnya ke vaginanya. Perlahan didorongnya penisnya yang sudah ereksi lagi masuk ke liang kenikmatan Amel

"Aagh.. yess.. terus masukin Pak..!" aku dapat mendengarkan erangan Amel dari tempat persembunyianku.

Pak Iqbal dengan irama yang teratur memompa vagina Amel, sambil mempermainkan lidahnya di leher dan bibirnya. Desahan Amel semakin berisik terdengar. Kadang mereka saling bicara diselingi ciuman mesra. Aku melongo melihat ekspresi wajah Amel saat diterpa birahi itu, matanya setengah tertutup. Kepalanya terkadang mendongak dan di lain waktu merunduk. Bibir si penjaga rumah tidak henti-hentinya memagut bahu dan payudaranya. Pantat pria itu terus berayun penuh irama dengan sangat indahnya makin lama semakin cepat dan kasar. Hanya dengan melihat ekpresi wajah Amel yang begitu enjoy menikmati genjotan Pak Iqbal, aku mendapatkan sensasi birahi luar biasa yang berbeda dari bersetubuh langsung, terlebih ketika mendengar suara desahan nikmat yang terus keluar dari mulut keduanya. Aku merinding dan darahku bergejolak hebat. Aku merasakan begitu nikmat mengocok kemaluanku sendiri sambil menyaksikan pacarku bermesum ria dengan pria lain. Klub ini memang telah mengubah drastis persepsiku tentang seks dan cinta, sungguh gila namun aku menikmatinya. Sepuluh menit kemudian aku mulai merasakan spermaku akan keluar. Kupercepat kocokanku hingga akhirnya aku pun sampai kepada puncak orgasmeku

Pergumulan antara Amel bersama Pak Iqbal sampai pada puncaknya ketika Amel tiba-tiba mengejang dan mempererat pelukannya pada pria itu. Erangan panjang terdengar dari mulutnya. Tak sampai tiga menit kemudian, giliran Pak Iqbal keluar, dia buru-buru mencabut penisnya dari vagina Amel. Amel pun tanpa diperintah berlutut di depan pria itu dan meraih penisnya yang lalu ia masukkan ke mulutnya. Sebentar saja, pria itu sudah mendesah keenakan sambil menengadah ke atas, sementara Amel nampak berkonsentrasi mengisap penisnya, pasti sperma pria itu telah tertumpah ke mulut Amel. Setelah menuntaskan hasrat birahi mereka kembali berpakaian, Amel terlihat agak rusuh karena seluruh pakaiannya terlepas, sedangnkan Pak Iqbal tinggal membenahi celananya saja. Aku pun menyudahi mengintipku, setelah cuci tangan aku pun kembali ke luar.




Ketika aku keluar Pak Iqbal sedang menyapu halaman depan dan Amel duduk di bangku taman sibuk dengan BB-nya seperti tidak terjadi apa-apa dengan mereka sebelumnya.

“Whew...lega nih” kataku sambil mengelus-elus perut dan berlagak tidak tahu apa-apa, “sori lama, yuk Mel!”

“Oke yuk” Amel memasukkan BB-nya ke tas dan bangkit berdiri.

Kami pun meluncur dengan motorku meninggalkan rumah mewah itu. Ketika berhenti di lampu merah, Amel berkata,

“Ric, waktu nunggu lu tadi...gua gituan sama Pak Iqbal”

“Ooohh...gitu” kataku seakan baru mengetahuinya

“Lu ga marah?” tanyanya lagi.

Aku menggenggam telapak tangannya dan berkata, “nggak, thanks atas kejujuran lu malah, kan seperti komitmen kita kemaren Mel, kita bebas mau sama siapa aja, bedanya cuma hubungan kita lebih khusus”

Kurasakan tangannya yang melingkar di pinggangku memelukku makin erat dan dadanya menghimpit punggungku, ia juga menyandarkan kepalaku di sana. Lampu sudah menyala hijau sehingga aku harus menjalankan kembali motorku. Hari yang tidak terlupakan itu menjadi awal hubungan cintaku yang baru, hubungan yang tidak biasa dan sama sekali berbeda dari hubungan cinta pada umumnya.




By: Caligula1979

Labels

3gp (1) A +++ (17) abang sam (1) Abg (60) abg bandung (4) abg bugil (5) abg smu (3) abg smu jakarta (2) adek cewek yang sexy (1) adik dapat (1) adik iparku (1) adik iparku 2 (1) adik kelasku (1) aida dato’s 2nd wife (1) akak (1) aku dan ana (1) aku dan... (1) aku dan...II (1) aku main jubur (1) alat bantu seks (1) amoi malang (1) amoi saloon paka (1) anak cina (1) anak dara remajaku (1) anak guru SMAku (1) Anak SMK (1) Animal Sex (1) anjingku (1) arthur (16) Artis (2) Artis Seksi (7) asian show (1) auntie jee (1) aura kasih (1) awek indon (1) azlan sayangku (1) baby manja (1) Baby-Sister (1) bahasa indonesia (16) balas dendam (1) bapa mertuaku 1 (1) bapa mertuaku 2 (1) bapa tiri (1) batang beasr (1) bdsm (31) benih bapa mertua (1) bercinta dengan mbak (1) bercinta dengan pembantu (6) berita hangat (1) berkongsi suami (1) berniaga sambil berlakon (1) bersama mak cik (1) bersetubuh dengan ibu kandung (1) berzina dengan adik ipar (1) bidadariku (1) bini kawan kemaruk seks (1) bini muda anak satu (1) bini muda ayah (1) bini orang (1) birahi pembantu (1) bohsia (1) bondage (18) brondong (1) budak benggali (1) budak jantan (1) calon mertua binal (1) cara ngajak pembantu ML (1) carasex (6) cerita abg smu (2) cerita babu (3) cerita binal (1) cerita birahi (1) cerita bogel (4) cerita daun muda (4) cerita dewasa (3) cerita dewasa abg (2) cerita dewasa janda (6) cerita gadis (5) cerita hangat (285) cerita hangat;gay stories (1) cerita hot (4) cerita istri (1) cerita istri selingkuh (6) cerita janda (5) cerita janda kembang (1) cerita jorok (8) cerita jorok pembantu (2) cerita kekasih (3) cerita keperawananku (1) cerita kontol (3) Cerita lepas (8) cerita lonte (4) cerita lucah (4) cerita malam pertama (1) cerita memek (6) cerita memek X (1) cerita ngentot (4) Cerita NGEWE (9) Cerita NGEWE Janda (2) Cerita NGEWE Mertua (1) Cerita NGEWE Pembantu (1) Cerita NGEWE Rame Rame (2) Cerita NGEWE Selingkuh (3) Cerita NGEWE Tante (7) Cerita NGEWE Tukar Pasangan (4) cerita nikah (3) cerita nikmat (3) cerita pacar (2) cerita pacaran (3) Cerita panas (29) cerita pelacur (3) cerita pembantu (5) cerita penis (4) cerita perek (5) cerita porn (4) cerita porno (6) cerita porno X (1) cerita psk (3) cerita romantis (3) cerita sahabat (4) cerita saru (5) cerita saru 17 tahun (4) cerita saru X (1) cerita sedarah (1) cerita seks (28) cerita seks daun muda (3) cerita seks dengan anak smu (9) cerita seks dewasa (1) cerita seks ibu (2) cerita seks janda (2) cerita seks janda kembang (1) cerita seks mahasiswa (5) cerita seks melayu (37) cerita seks pembantu (4) cerita seks setengah baya (1) cerita seks tante girang (7) cerita seksi (4) cerita seksual (3) cerita seksual X (1) cerita selangkangan (1) cerita sensual (3) cerita sensual X (1) cerita seru (17) cerita seru 17 tahun (4) cerita setengah baya (2) cerita sex (300) cerita sex 17thn (14) cerita sex dengan tante (14) Cerita sex hot (55) Cerita sex keren (44) Cerita Sex Online (11) Cerita sex panas (23) cerita sex pramuka siaga (1) Cerita Sex Terbaru 2013 (1) cerita sex umum (3) cerita tante (1) cerita tante binal (1) cerita tante girang dengan brondong (1) cerita tentang janda (5) cerita terbaru (14) cerita wts (3) cerita-panas (9) Cerita-panas-Tante (5) ceriti sex (2) cerken3 (12) cerken3a (7) cerken3b (5) cerpen (6) certa memek (3) cewek (1) cewek abg (4) cewek bandung (2) cewek cantik (4) cewek hamil bugil (1) cewek jakarta (2) cewek part time (1) Cewek Seksi (21) cewek sma (1) chating sex (1) ciciku sayang (1) cikgu azarina (1) cikgu dan anakku (1) cikgu miraku sayang (1) cikgu nicky (1) cikgu norasyikin (1) cikgu pelatih beraksi dengan manja (1) cikgu suraya (1) cikgu tuisyen (1) cikgu zaharah (1) cikgu zainab (1) cina comel (1) cinta alam maya (1) cipap lendir awekku (1) code geass (2) comic (41) cuba cuba main kena janda (1) dahaga (1) dalam office dengan nik (1) dapat pantat brunei (1) dara adik tiriku (1) Daun Muda (1) devilz (10) DI bawah umur (12) di perkosa 4 cewek (1) di perkosa teman sendiri (1) di rogol lelaki bangla (1) di villa tante (1) diana shah alam (1) dilanyak di pagi raya (1) dirogol awek UK (1) doggy style (1) Dosen (1) dosen genit (1) dosen tante girang (1) Download Cerita sex (3) Download-3gp (1) Dukun Seks (1) dynasty warriors (3) enaknya memek tmaam tiri (2) enaknya tante girang (1) english (14) Facebook Girls (12) fan fiction (1) fanfiction (14) fantasi yang terjadi (1) Fetish (10) Fiksi (2) Film-Blue (1) first date tips (1) fizaku sayang (1) forced feminization (6) foto bispak (2) foto bugil (1) foto gadis (1) foto istri bugil (3) foto istri bugil X (1) foto janda (3) foto janda muda (2) foto memek (3) foto pelacur (3) foto pembantu bugil (2) foto pembantu diperkosa (2) foto pembantu telanjang (2) foto perek (1) foto perek jakarta (2) foto tante girang (1) foto telanjang (1) Foto-Model (1) Fotografi-dan-model (1) free live bedroom (1) fucking su zina (1) g spot (1) gadis (3) gadis bandung (5) gadis bandung bugil (4) gadis bawah umur (1) gadis sunti pt. 1 (1) gadis sunti pt. 2 (1) geng rompak rogol (1) gila batang (1) Guru (2) hadiah perkahwinananku (1) haus sex (2) hidup berzina bersama bapak (1) hidup berzina bersama bapak 2 (1) hikmah takrabul zina (1) hilang keperawanan (1) hotel indah (1) humor (1) ibu berjilbab nakal (1) ibu dosen teman seks (1) ibu guru (1) ibu guru kesepian (1) ibu hamil (1) ibu tetty (1) Imut (11) iqmar di setubuh bapak mertua (1) isteri tukang kebun (1) isteri yang kesepian (1) istri muda bugil (2) istri muda bugil X (1) istri nakal (1) istri orang (3) istri pak guru (1) istri selingkuh (4) istri selingkuh X (1) istri telanjang (2) istri telanjang X (1) istri teman genit (1) istri teman menggoda (1) istri tetangga (1) istri tetanggaku (1) istri-istri kami (1) Janda (2) janda binal (1) janda bispak (2) janda bugil (3) janda cantik (2) janda dengan memek berdenyut (1) janda desa (1) janda diperkosa (1) janda gatal (1) janda hot (1) janda muda (2) janda seksi (3) janda stw (1) janda telanjang (3) jiran sebelah (1) jiran yang gersang (1) kak hanim 1 (1) kak mun (1) kak ngah (1) kakak iparku yang gatal (1) kakak juga dapat (1) kama sutra (1) Kama Sutra Versi Terbaru (1) kamasutra (2) Kampus (1) Karya Ara456 (1) Karya Chad (6) Karya Dina Nakal (7) Karya Diny Yusvita (3) Karya Dr. H (3) Karya Harry Potter (1) Karya Joeanchoexs (3) Karya Naga Langit (2) Karya Ninja Gaijin (2) Karya Pengarang Lain (54) Karya Raito Yagami (1) Karya Yohana (1) karyawan (1) karyawansex.bercinta di hotel (1) kegadisan hilang (1) kehebatanmu ayu (1) kehebatanmu ayu II (1) kehebatanmu ayu III (1) kekasihku raja (1) kelentit (2) kenangan bersama hanidah (1) kenangan di maktab perguruan (1) kenangan lalu (1) kenikmatan pertama (1) keperawananku (1) Kerabat dekat (16) kisah budak dayak (1) kisah bugil (1) kisah daun muda (3) kisah dewasa (5) kisah ewasa (1) kisah suami isteri (1) kisah tante girang (1) kisah telanjang (1) klimaks (1) kolaborasi (1) koleksi 3gp (3) konekku (1) kontol (1) late classroom (1) Leah Dizon Pose (1) Lesbian (8) lingerie (1) maam tiriku tante girang (1) madu yang dahaga (2) Mahasiswa (1) Mahasiswi (1) main dengan budak (1) mak cik maznah (1) malam pertama (1) malam pertama ngan dibah (1) mama temanku binal (1) mama tiriku binal (1) mbak cantik (1) mbak tukang lulur (1) melayan boss lelaki korea (1) melayan isteri boss (1) membuat wanita terangsang. gaya seks (1) memek (2) memek gadis (2) memek ibu (2) memek ibu kos (2) memek janda (2) memek merah (2) memek pembantu (1) memek tante (3) memek tante cantik (3) memek tante girang (1) mencemari pantat nora (1) menikmati tubuh ratna (1) merogol arina (1) mertua genit (1) milah....tujuh belas tahun (1) miss campo in action (1) MISS V (3) miyabi (2) ml ama ibu mertua (1) Model Seksi (11) mulut vagina (1) muridku suamiku (1) nafsu (2) nancy dan rina (1) nani gadis kampung (1) ngentot (5) ngentot abg (2) ngentot abg smu (2) ngentot cewek abg (4) ngentot cewek hamil (1) ngentot cewek smu (2) ngentot dengan pembantu (1) ngentot ibu menyusui (1) ngentot janda (1) ngentot janda tua (1) ngentot mama (3) ngentot mama tiri (1) ngentot mbak-mbak (2) ngentot mertua (1) ngentot pembantu (3) ngentot saudara (1) ngentot sma (1) ngentot smu (2) ngentot suster (1) ngentot suster cantik (1) ngentot tante (2) ngentot tante girang (3) ngentot tante girang kaya (1) ngentot tante muda (2) Ngentot-Perawat (3) ngeseks dengan mama tiri (1) ngetot adik (1) ngetot kakak (1) Nightmare Sidestory (1) nostalgia gila (1) nurdiyana (1) obat kuat (1) obat kuat lelaki (1) Operator (1) orang asli menikmati tubuhku (1) original (16) pacarku selingkuh (1) pak dollah (1) pak salleh (1) Party Sex Villa (1) pasangan mesum (1) payudara (2) pelacur abg (3) pelacur bandung (1) pelacur jakarta (1) pelacur jalang (3) pelacur tante (3) pelampiansan sex online (2) pelampiasan sex (4) Pemaksaan (6) Pembantu (16) pembantu bahenol (1) pembantu bispak (1) pembantu bugil (3) pembantu diperkosa (1) pembantu makmal (1) pembantu sexi (1) pembantu telanjang (3) Pemerkosaan (49) pengalaman sex (81) peniaga pasar malam (1) Penyiksaan (34) Perawan (42) Perawat (3) Perbudakan (16) perek bandung (1) perek jakarta (1) Perselingkuhan (42) pesta seks (1) Pesta Sex (44) phone sex (1) Pijat payudara (1) Posisi-Sex (2) psk bugil (3) psk telanjang (3) rahsia puan dewi (1) rela hati (1) sedap (11) Sedarah (22) seks (5) seks degan mama (1) seks dengan tetangga (2) Seks di Villa (1) seks jilbab (1) seks kos (1) seks pembantu (2) Seks-Adik-Kakak (1) Seks-Foto-Model (1) selangkangan (2) selangkangan gadis (2) Selebriti News (1) selingkuh (8) selingkuh dengan istri teman (1) selingkuh dengan karyawan (1) selingkuh X (1) semalam bersama pelajarku (1) Sepupu (1) Setengah Baya (6) sex (1) sex dengan ibu guru (1) sex dengan istri orang (3) sex dengan kakak ipar (1) sex dengan tante fitnes (2) sex email (1) Sex Party (1) sex tips (1) sex tool (1) Sexy Dancer (2) Sexy Girls (16) Sexy Houskeeper (1) Sexy Info (6) simpanan ayah tiri (1) sissy maid slave (6) SMU (4) soul calibur (4) SPG Seksi (2) street fighter (1) suami lugu (1) suami sayang (1) suami selingkuh (2) suamiku sayang (1) sue bini orang (1) suikoden 2 (4) Supermarket (1) surina part 1 (1) Suster (3) suster cantik (1) suster cantikku (1) Tante (7) Tante - Tante (21) tante asih (1) tante baik nafsu (1) tante binal (3) tante cantik (1) tante cari brondong (1) tante dosen (1) tante fitness (4) tante gatel (3) tante gaya doggy (1) tante genit (1) Tante Girang (5) tante girang baik (1) tante girang bugil (1) tante girang cantik (1) tante girang cari abg (1) tante girang cari brondong (2) tante girang hot (1) tante girang kaya (1) tante girang merangsang (1) tante girang nafsu (1) tante girang puas (1) tante hot (1) tante jalang (3) tante jilbab genit (1) tante kesepian (8) tante ku aku entot (1) tante ku buas (1) tante manja (1) Tante mau tukar pasangan (1) tante mia (1) tante nakal (1) tante ndut (1) tante ngentot (1) tante pelacur (3) tante sari (1) tante seks (1) tante tetty (1) tante wangi (1) tante-tante (20) tantenal (1) tempek tante (3) terapi seks (1) terbaru (10) Tetangga (1) tetangga idaman (1) tetangga tante girang (1) tetanggaku binal (1) thalha murid tuition (1) Tia (9) tiga saluran perawan (1) tips kamasutra (1) tips kencan pertama (1) tips seks (15) Tips-Seks (3) toket (1) Toket Gede (27) Travic Sex (2) trik mendapatkan tante girang (1) trik perempuan (1) trik seks (1) tuanku din (1) tukang lulur (1) Tukar Pasangan (23) umum (87) Unik (29) vagina (1) vagina tante (1) via (1) video 3gp (5) video kamasutra (1) video sex (6) Video-Blue-Film (1) wanita setengah baya (1) Waria (5) Women tips (1) Womens Tips (1) yana dan arai (1) yati (2) yaya gadis bawah umur (1) yuni (2) zakar besar ke? (1) zura (1) zurina (1)
Powered by Blogger.